Jumat, 29 Juni 2012

Ensiklopedi Larangan


 Penulis: ,Syaikh Salim Bin Ied Al-Hilali Saiz (cm): 21X29.5, Berat (gram): Total 5300
 Penerbit: Pustaka imam Syafii, 3 jilid
 Harga1 jilid Rp 140,000, Harga disc 25% Rp 105,000
 Harga 1 set Rp 420,000 Harga disc 25% Rp 315,000

Hampir setengah ajaran Islam berupa larangan yang harus dijauhi oleh ummatnya. Ini berarti, orang yang menjauhi seluruh larangan telah mengamalkan hampir setengah hukum Islam, dan sebaliknya yang melanggar seluruh larangan berarti telah melanggar hampir setengah ajarannya.

Buku Ensiklopedi Larangan karya Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali ini berisi larangan-larangan dalam Islam yang termuat dalam al-Qur-an dan hadits-hadits Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam. Buku ini, dengan tema larangan-larangan dalam Islam yang cukup lengkap dan detil, terhitung langka.

Dan, Syaikh Salim sudah mengisi kelangkaan tersebut. Inilah salah satu letak keunggulan buku ini daripada yang lainnya, disamping tema-tema larangan yang diangkat disusun secara sistematis, disertai dengan penjelasan tentang pelajaran-pelajaran penting yang dapat diambil dari larangan-larangan tersebut juga kaidah-kaidah yang dikandungnya.

Buku ini penting dimiliki sebagai salah satu rujukan bermutu keluarga Muslim dan masyarakat Muslim pada umumnya karena isinya diperlukan kaum Muslim dewasa ini, tidak hanya untuk bekal dakwah, tetapi juga bekal untuk membangun pribadi Muslim yang baik, karena telah mengamalkan setengah ajaran Islam dalam bentuk menghindari larangan-larangan dalam Islam.

 “Benar-benar suatu kaum dari umatku akan ditolak dari telaga sebagaimana unta asing ditolak (dari kerumunan unta)”, maka aku berkata : “Ya Allah itu adalah umatku”, maka dikatakan : “Sesungguhnya engkau tidak mengetahui apa yang mereka ada-adakan sepeninggalmu”. (Hadits riwayat Bukhari dan Muslim)





40 Karakteristik Mereka Yang Dicintai Allah


 Pengarang: Abdul Azhim bin Badawi al-Khalafi
Penerbit: PUSTAKA DARUL HAQ
Harga: Rp110.000,00
Harga Disc 25% Rp 82.500.-
Berat: 1,2 kg

Cinta Allah kepada hamba adalah suatu karunia yang tidak bisa diukur nilainya kecuali oleh orang yang mengetahui Allah (ma'rifatullah) secara baik. Cinta Allah kepada hamba merupakan salah satu sifat dari sifat-sifatNya yang wajib ditetapkan dan diimani. Sebaliknya, cinta hamba kepada Rabbnya adalah suatu kenikmatan bagi hamba itu sendiri. Tidak bisa dirasakan kecuali oleh orang yang telah mengecap nikmatnya Iman. Hukumnya fardhu ain bagi semua makhluk, karena ia merupakan manifestasi dari tauhid itu sendiri. Oleh karena itu, seorang Mukmin yang mencintai Allah tidak boleh mencintai sesuatu yang dibenci oleh Allah, siapa pun dia dan apapun ia.

Buku Syaikh Abdul Azhim bin Badawi al-Khalafi ini memaparkan kepada Anda tentang 40 karakteristik kekasih Allah. Semua pembahasan ini merupakan hasil jerih payah penulis dalam mengumpulkan ayat al-Qur`an dan hadits Nabawi yang berkaitan dengan kecintaan Allah terhadap hambaNya, sebab-sebab untuk mendapatkannya, dan pengaruh positifnya dalam kehidupan sehari-hari yang semuanya dikemas dalam bahasa yang mudah dan menakjubkan. Di antara keistimewaan buku ini adalah pencantuman referensi pada catatan kaki dan derajat hadits yang dikutip, sehingga pembaca terhindar dari pengamalan hadits dha'if dan maudhu'.

Pada akhir pembahasan, beliau memberikan tips bagaimana meraih surga dengan mudah, ialah sebuah tempat yang di dalamnya terdapat kenikmatan yang belum pernah dilihat oleh mata, didengar oleh telinga, dan terbetik dalam hati. Mari berlomba meraih cinta Allah!!! 




AWAS! Dajjal Menyerang Rumah Anda!

Hidup di era kelam penuh fitnah ini sungguh tidak mudah. Dajjalnya sendiri belum kelihatan, namun jeratan sistemnya tetap tak dapat dianggap enteng. Setiap saat mesti waspada, setiap aspek kehidupan harus kita periksa ulang satu kali, dua kali bahkan berkali-kali untuk memastikan keamanannya dari jeratan sistem Dajjal.
Bapak, Ibu. Pernahkan anda berpikir bahwa kedatangan Dajjal sudah sedemikian dekat? Mungkin anda sudah berkali-kali mendengarkan ceramah yang memperingatkan fitnah Dajjal. Disebutkan dalam nash hadits tersebut:”....pagi hari seseorang masih beriman dan sore hari kafir.”. Begitulah ancaman riel saat ini.

Jika memikirkan dengan seksama apa maksud hadits tersebut, kita layak khawatir bahwa fitnah yang datang menyerang merupakan fitnah yang besar, atau fitnah yang sangat berbahaya. Riddah, atau murtad/Surut /atau mundur / atau berpaling dari kebenaran, bukan ancaman kecil atau ringan. Riddah akan memutuskan hubungan kita dengan segala kenikmatan yang dijanjikan Allah bagi orang-orang beriman di negeri Abadi.
 Darimana sajakah virus ”Riddah” atau sering disebut dengan virus ”MTS” (Murtad tanpa sadar) ? Jika Nabi Saw memperingatkan ummatnya dengan sedemikian keras akan bahaya ini, apakah itu berarti bahaya ini begitu tersebar sehingga orang beriman mudah sekali terkena bahaya ini? Jika begitu tersebar, tentunya kita harus mengenali dari mana saja sumber-sumber bahaya tersebut!
Kami ingin mengajak anda melihat ke dalam rumah anda sendiri, ke ruang keluarga anda. Ke tempat anda biasa bersantai bersama keluarga menikmati hiburan televisi maupun video. Lihatkah ke kotak penyimpanan keping-keping film tersebut, adakah film-film di bawah ini merupakan koleksi tontonan anak-anak anda:
Lion King (kartun animasi), semua seri
Chronicles of the Narnia (plus bukunya)
Lord of the Rings (plus bukunya)
Harry Potter (semua seri yang ada, plus bukunya)
Mickey Mouse serial Play House dan lain-lain
Toy Story
Ratatouille
Pocahontas
Aladdin
Brother Bear
Monster Inc
Ahhh, banyak sekali, tak mungkin disebutkan semua.
Dapat dikatakan semua film produksi negeri Barat, baik untuk anak maupun remaja maupun dewasa, patut dicurigai mengandung unsur-unsur pemurtadan. Sekali lagi kami katakan: Hampir-hampir kami tak dapat mengingat mana film produksi (khususnya) negeri Barat yang tidak mengandung unsur-unsur pemurtadan atau minimal pelecehan terhadap nilai-nilai yang benar.
Sekarang mari kita coba lihat apa yang ada di film-film tadi. Harap diketahui bahwa apa yang kami tulis di sini hanyalah sekelumit dari segunung contoh yang dapat anda lihat dan cari sendiri di internet.
  • Mengajarkan berbagai bentuk kemusyrikan misal dengan memperkenalkan ritual-ritual para penyembah berhala.
Film-film kartun yang seolah ”innocence” (suci /tidak bersalah) semacam serial kartun-kartun Walt Disney sering menyisipkan hal semacam ini. Padahal cukup banyak film-film tersebut ditujukan untuk anak usia pra sekolah atau bahkan balita. Film Brother Bear yang diangkat ke layar lebar jelas-jelas mengajarkan reinkarnasi dan penyembahan terhadap roh. Sedangkan kartun dengan tokoh Miki Tikus dan Donal Bebek yang sudah dipasarkan sejak puluhan tahun yang lalu, secara samar sering memasukkan unsur-unsur ini. Bahkan konon Walt Disney adalah anggota gereja setan, dan bahwa taman hiburan Disneyland merupakan tempat mereka merekrut anggota-anggota muda dan tempat mereka melakukan ritual. Silahkan cari di internet, klik namanya dan anda akan mendapatkan banyak informasi dan bantahan-bantahannya sekaligus. Silahkan mengambil kesimpulan sendiri.
  • Menjungkir-balik-kan banyak nilai-nilai misalnya dengan berusaha menanamkan ide ”perdamaian dunia” yang semu.
Konsep “perdamaian dunia” yang mereka usung adalah dunia yang serba di-sama rata-kan, misalnya dalam balutan program “anti kekerasan” sampai-sampai ikan hiu (Bruce dalam Finding Nemo) mempunyi slogan “fish are friends, not food”. Atau Simba dalam Lion King dalam pelariannya ke hutan diajarkan makan daun-daunan dan ulat sebagai ganti daging. Bukankah sahabatnya di hutan adalah Pumba si babi hutan dan Timon si meerkat? Berbagai penjungkir-balikkan nilai merupakan jembatan untuk pemurtadan itu sendiri. Konsep ”perdamian dunia” merupakan konsep topeng mereka yang sebenarnya ingin menguasai dunia. Cerminannya dapat kita lihat di dunia politik global di mana mereka memerangi bangsa-bangsa bahkan menyerang negeri-negeri dengan berbagai alasan ”mulia” seperti: menghentikan kediktatoran, mencari senjata pemusnah massal, memerangi teroris dan lain-lain. Namun yang tampak oleh kita adalah pembantaian rakyat dan kampung-kampung yang tak berdaya.
  • Menyisipkan pornografi dan pornoaksi bahkan dengan cara yang sangat tak kentara.
Pornografi yang diperkenalkan kepada anak usiamumayyiz (7-10th-an), akan berefek buruk dalam diri anak. Pembahasan ini dapat diperjelas dari pembahasan seorang Psikolog , ibu Elly Risman, dalam berbagaiseminar parenting-nya tentang bahaya pornografi bagi anak. Perkenalan terhadap masalah sex, jika tidak langsung dibarengi dengan penanaman nilai benar salahnya, akan memberikan jejak berdampak buruk di otak anak. Dalam film-film kartun ternyata sudah sering ditemukan gambar porno yang cukup vulgar namun sekelebat/ atau hanya satu picture (namun jika film tersebut di freeze akan tampak jelas). Meskipun sekilas, gambar tersebut tetap masuk ke otak dan tersimpan di sana.
Selain dalam bentuk gambar, pornografi dan porno aksi juga dimasukkan dalam alur cerita yng tersamar. Misalnya memasukkan sosok dewa/peri simbol sex ”Pan”. Ya, namanya P A N, mengingatkan kita tentang nama panggung seorang musisi lokal yang disidang karena penyebaran video porno berbau ”orgy”. Ini dapat dilihat dalam serial Narnia, ketika Tumnus (sosok Pan yang disamarkan) mengajak tokoh gadis kecil ke gubuknya. Panadalah simbol pedofili yang sudah dikenal luas dalam dunia para penyihir modern dan diambil dari mitos-mitos lama dalam ritual pemujaan setan.
Pornografi dan pornoaksi merupakan jalan paling efisien untuk memalingkan manusia dari dzikrullah, bahkan ketika sudah ter-obesesi, maka jiwa yang terbelenggu nafsu akan semakin menyimpang dari jalan Allah. Dan sebagaimana yang dapat kita simpulkan dari ulasan di bagian ini, ternyata hisbusysyaithan bahkan akan membawa manusia kepada penyembahan terhadap setan itu sendiri.
  • Menyisipkan nilai homosexualitas, baik simbolis maupun terang-terangan.
Masalah Homosexualitas alias liwath sebenarnya masuk dalam urusan nafsu sex, namun karena penyimpangan ini sangat dimurkai Allah dan kini bahkan semakin didukung oleh kelompok-kelompok pendukung hisbusysyaithan,maka kita perlu memberi perhatian yang cukup tentang ini. Film Teletubbies yang diluncurkan BBC beberapa tahun yang lalu disinyalir sarat kampanye kaum liwath. Tokoh-tokoh seperti alien yang diberi simbol-simbol tersembunyi lewat kostumnya, diluncurkan sebagai idola balita. Tokoh-tokoh ini juga memainkan peran transgender dalam tingkah lakunya. Selain itu serial ini juga mempromosikan kemusyrikan dengan sangat tersamar lewat kehadiran matahari bermuka bayi. Ini mengacu pada konsep modern tentang orang-orang yang memuja diri sendiri dengan menciptakan ”the god that looks like me”.
  • Mempromosikan aktivitas mengkhayal secara sangat berlebihan sehingga tak lagi diketahui batas-batas dengan dunia nyata, bahkan sudah meninggalkannya sama sekali.
Mengkhayal sebenarnya bagian dari aktifitas kekanak-kanakan yang dalam batas-batas tertentu memang dibutuhkan untuk perkembangannya. Mengkhayal dapat memvisualkan sesuatu yang belum pernah dijumpai seseorang. Namun jika dilakukan berlebihan, mengkhayal akan menyesatkan manusia dari dunia nyata tempat ia hidup. Dunia khayal juga dikhawatirkan dapat dimanipulasi oleh jin dan setan yang berkeliaran kadang di dalam diri manusia, sehingga seolah si manusia akan ”diajak” ke dunia mereka. Padahal itu mustahil.
Dimensi manusia dan jin berbeda, sehingga mustahil manusia dapat ikut ke dunia ghaib hanya oleh ajakan jin. Hanya Allah yang Mampu menguba-ubah dimensi makhluk-makhlukNya sehingga mampu berada di wilayah yang berbeda. Yang mampu dilakukan jin dan setan hanyalah memasukkan khayalan tentang dunia aneh yang mereka ciptakan dalam pikiran manusia (halusinasi). 
 Kembali ke masalah eksploitasi khayalan dalam film-film dan hiburan untuk anak. Dengan memanfaatkan dunia khayal, para musuh Islam dengan leluasa memasukkan segala unsur mitos dan khurafat yang pada hakekatnya tidak ada sama sekali. Kalau kita perhatikan, unsur-unsur yang dimasukkan bukan hanya yang bernuansa ceria sesuai peruntukkan anak, namun juga yang menyeramkan, bahkan yang sadis (dalam bentuk kartun). Sejak puluhan tahun yang lalu dunia khayalan ini sudah digunakan, misalnya film Alice in the wonderland, kemudianWizard Oz dan lain-lain. Promosi dunia khayal yang direlease akhir-akhir ini misalnya NarniaLord of the rings dan banyak-banyak lagi.
  • Mengajarkan sihir baik dalam bentuk-bentuk aslinya maupun dalam aktivitas sehari-hari dunia kanak-kanak.
Sihir adalah perbuatan jahat yang bahkan dapat mengeluarkan seseorang dari keimanan. Dengan potensi bahaya yang sebesar itu, sudah selayaknya dunia sihir dijauhi oleh orang beriman. Ketika anak-anak kita disuguhi tontonan yang membolehkan sihir, menganggapnya wajar, bahkan mempromosikannya, maka apakah kita akan heran ketika mereka tumbuh menjadi anak menyimpang, pembangkang terhadap Allah, gemar menggunakan kekuatan-kekuatan curang untuk mencapai tujuan dan tidak ragu-ragu mencelakakan orang lain? Ternyata dunia hiburan anak sarat dengan promosi sihir baik pada film-film untuk balita sampai remaja dan dewasa. Jenis filmnya juga beragam, film kartun, animasi, film biasa, serial televisi, games bahkan film iklan.
Seolah ada perintah serentak untuk mempromosikan aktifitas sihir secara sangat massif. Jika kita ke pasar-pasar, maka diantara mainanan anak-anak ada mainan tongkat sihir, topi nenek penyihir dan benda-benda yang mewakili dunia itu, meskipun hanya mainan. Proses pembiasaan terhadap dunia sihir merupakan jalan yang sempurna untuk mempersiapkan kedatangan Dajjal si tukang sihir.
Mungkin sebenarnya masih banyak hal yang perlu dibahas dalam kaitan bahaya-bahaya hiburan merusak ini. Namun yang terlebih penting di sini adalah bangkitnya kesadaran akan nyatanya bahaya yang sudah masuk ke dalam rumah-rumah kita. Sebagaimana hadits Nabi SAW berikut:
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سِتٌّ مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ ... وَفِتْنَةٌ يَدْخُلُ حَرْبُهَا بَيْتَ كُلِّ مُسْلِمٍ
Rasulullah صلى الله عليه و سلم bersabda: "Enam tanda-tanda kiamat: ...dan muncul fitnah yang serangannya masuk ke rumah setiap orang muslim..." (AHMAD - 20988)

Musuh dalam Selimut

 
Penulis: Ummu ‘Affan dan Ummu Abdirrahman

Globalisasi membuat dunia seakan tanpa batas. Salah satu ‘hasil’-nya, tayangan-tayangan televisi mengalir deras mewarnai kehidupan sebagian besar rumah tangga muslim tanpa terbendung. Ini jelas membawa implikasi serius. 

Tanpa disadari, kerusakan akhlak telah terjadi ancaman di depan mata.
Kususun tulisan yang sederhana ini, menghimpun akibat buruk media televisi dan media audiovisual lainnya.

Yang pertama, melalui layar televisi dan media sejenis, seseorang akan memandang wanita, padahal hal ini diharamkan, sama saja apakah memandang kepada diri wanita tersebut atau sekedar gambarnya. Firman Allah –Subhanahu wa Ta’ala- :
“Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, hendaknya mereka menundukkan pandangan-pandangan mereka.” (An-Nur: 30)

Apabila memandang wajah wanita tidak diperbolehkan, bagaimana pula dengan orang yang melihat rambut wanita, terkadang dada bahkan seluruh tubuhnya, seakan-akan wanita tersebut hewan yang berjalan diatas bumi. Semua itu, biasanya menimbulkan keinginan atau fantasi untuk melakukan hal-hal yang Allah haramkan kaitannya dengan hasrat seksual.

Demikian pula seorang wanita akan memandang laki-laki, sementara seorang wanita berdosa apabila memandang laki-laki. Allah –Suhanahu wa Ta’ala- berfirman:
“Dan katakanlah kepada wanita yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangan-pandangan mereka.” (An-Nur: 31)

Yang kedua, media ini menayangkan sisi buruk kehidupan masyarakat Barat serta visualisasi tentang gaya hidup musuh-musuh Islam yang acap ditiru oleh kaum muslimin.
Padahal Rasulullah –shalallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:
“Barangsiapa ,menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk kaum tersebut.” (HR. Abu Dawud dan Ahmad, dihasankan oleh Ibnu Taimiyyah, Ibnu Hajar, dan Asy-Syaikh Al-Albani sebagaimana dalam Jilbabul Mar’ah Al-Muslimah, hal 203-204, dan juga oleh Asy-Syaikh Muqbil)

Yang ketiga, menonton televisi berarti telah menghabiskan waktu untuk kegiatan yang tidak ada manfaatnya, sementara Rasulullah –shalallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:
“Dua nikmat yang sebagian besar manusia terlena karenanya, kesehatan dan waktu luang.” (Shahih, HR. Al-Bukhari)

Yang keempat, shalat pun terabaikan dari waktunya. Terkadang berkumandang panggilan shalat ketika sebuah acara TV berlangsung, namun ia tidak menyambutnya hingga tuntasnya acara. Atau ia pergi menunaikannya, namun hatinya tersibukkan oleh keinginan untuk kembali mengikuti kelanjutan tayangannya itu, sehingga menghilangkan kekhusyukan shalatnya. Allah –Subhanahu wa Ta’ala- berfirman:
” Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang salat, yaitu yang lalai dari salatnya.” (Al-Ma’un: 4-5)
“Sesungguhnya salat itu adalah ketetapan yang telah ditentukan waktunya bagi kaum yang beriman.” (An-Nisa: 103)

Yang kelima, anak-anak terdidik oleh keyakinan-keyakinan yang merusak melalui film-film kartun. Padahal cukup bagimu hukum haramnya gambar hewan dan mahluk-mahluk yang bernyawa, yang Rasulullah –shalallahu ‘alaihi wa sallam- telah memperingatkannya. Beliau bersabda:
“Sesungguhnya pembuat gambar-gambar ini mereka akan diadzab pada hari kiamat dan dikatakan kepada mereka: ‘Hidupkanlah ciptaanmu ini’.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Apa yang akan kita lihat dalam diri anak yang belajar dari film kartun? Bertakwalah pada Allah, wahai ayah bunda! Isilah waktu anak-anak kita dengan kesibukan menghapan Al-Quran maupun Sunnah Rasul-Nya –shalallahu ‘alaihi wa sallam-, karena kita akan ditanya tentang mereka pada hari kiamat nanti. Allah –Subhanahu wa Ta’ala- berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; di dalamnya terdapat malaikat-malaikat yang keras lagi kasar yang tidak pernah memaksiati Allah dalam apa yang diperintahkan pada mereka dan mereka melaksanakan apa yang diperintahkan pada mereka.” (At-Tahrim: 6)

Yang keenam, ketika menyaksikan televisi tentu juga akan mendengar nyanyian yang telah diharamkan oleh nash Al-Quran dan As Sunnah serta kesepakatan salafush shalih, Allah –Subhanahu wa Ta’ala- berfirman:
Dan ada sebagian manusia yang membeli perkataan yang sia-sia untuk menyesatkan manusia dari jalan Allah tanpa ilmu dan ia menjadikannya sebagai permainan.” (Luqman: 6)
Nabi –shalallahu ‘alaihi wa sallam- pun bersabda:
“Sungguh akan ada dari kalangan umatku suatu kaum yang menghalalkan zina dan sutra (bagi laki-laki) serta khamr dan nyanyian.” (HR. Al-Bukhari secara mu’allaq, dan dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no.91)

Yang ketujuh, tak jarang terjadi pelecehan terhadap sejarah hidup Nabi –shalallahu ‘alaihi wa sallam- dan para shahabat melaui sandiwara atau film yang didalamnya berisi sesuatu yang tidak benar tentang beliau –shalallahu ‘alaihi wa sallam- maupun para shahabat. Ini termasuk kedustaan atas Nabi –shalallahu ‘alaihi wa sallam- Beliau bersabda:
“Barangsiapa yang membuat kedustaan atasku dengan sengaja maka hendaknya ia menyiapkan tempat duduknya di neraka.” (Shahih, HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Yang kedelapan, televisipun ikut menyebarkan perkara bid’ah, padahal Rasulullah –shalallahu ‘alaihi wa sallam- memberikan ancaman:
“Dan setiap bid’ah adalah sesat.” (HR. Ahmad dan yang lainnya)
“Barangsiapa mengada-adakan sesuatu didalaam agama kami ini yang bukan darinya maka tertolak”.: (Shahih, H.R. Al-Bukhari dan Muslim)

Yang kesembilan, televisi menyebarkan berita, baik yang benar maupun yang tidak benar kepada pemirsanya. Rasulullah –shalallahu ‘alaihi wa sallam- telah memperingatkan kita dari menukilkan setiap berita atau setiap perkara yang kita dengar:
“Cukuplah seorang dikatakan pendusta bila ia menyampaikan setiap apa yang ia dengar.” (Shahih, HR. Muslim)

Yang kesepuluh, setelah pemilik televisi meninggal dunia ia mewarisi kemaksiatan bagi anak-anaknya, sementara Rasulullah –shalallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:
“Barangsiapa membuat suatu sunnah yang jelek di dalam Islam maka dia menanggung dosanya dan dosa orang-orang yang mengikutinya setelahnya tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun.” (Shahih, HR. Muslim)

Yang kesebelas, setelah Isya’ (prime time) di televisi selalu ditayangkan berbagai acara ‘menarik’. Demikian terus hingga tengah malam, hingga manusia tersibukkan dari berdzikir kepada Allah, padahal setiap sepertiga malam yang akhir Allah turun ke langit dunia dan berfirman:
“Siapakah yang berdoa kepada-Ku, hingga Aku mengabulkannya? Siapakah yang meminta pada-Ku yang Aku akan memberinya? Siapakah yang meminta ampunan-Ku hingga Aku akan mengampuninya? ” (Shahih, HR. Al Bukhari dan Muslim)
Rasulullah –shalallahu ‘alaihi wa sallam- melarang berbincang-bincang kosong setelah Isya’. Lalu bagaimana halnya orang yang begadang dalam keadaan maksiat?

Kedua belas, seorang yang terbiasa menikmati televisi berarti menenggelamkan dirinya dalam kemaksiatan, hingga dirinya tidak lagi merasa tengah bermaksiat. Ibarat ungkapan, terlalu banyak sentuhan akan menghilangkan kepekaan.
Rasulullah –shalallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:
“Fitnah itu terbentang dalam hati sebagaimana tikar selapis demi selapis. Hati manapun yang menyambutnya, maka fitnah itu akan meninggalkan satu noda hitam, sedangkan hati itu ada dua, hati yang putih seperti batu karang yang tidak akan berpengaruh padanya satu fitnah pun selama masih ada langit dan bumi, dan yang lain hati yang hitam, yang tidak mengenal baik dan tidak mengingkari perkara yang mungkar, ia semata-mata mengikuti hawa nafsunya.” (Shahih, HR. Muslim)

Ketiga belas, seringkali televisi menayangkan berita kecanggihan persenjataan kaum kuffar, atau berita membesar-besarkan kekuatan Amerika, Rusia atau negara-negara kafir lainnya. Ini menyebarkan kegelisahan dan acap membuat kaum muslim takut terhadap musuh-musuhnya dan melupakan kekuasaan Allah serta keperkasaan- Nya. Yang demikian ini adalah salah satu siasat musuh-musuh Islam –semoga Allah menghancurkan mereka-. Allah –Subhanahu wa Ta’ala- berfirman:
“Orang-orang musyrik itu tidak menjaga hubungan kekerabatan dengan orang-orang mukmin dan tidak pula menunaikan perjanjian, dan mereka itulah yang melampaui batas.” (At-Taubah: 10)
“Apakah kalian takut kepada mereka, sementara Allah-lah yang lebih berhak untuk kalian takuti jika kalian benar-benar orang yang beriman.” (At-Taubah: 13)

Keempat belas, berbagai tayangan televisi secara tidak langsung mengajarkan cara-cara mencuri, merampok, dan tindak kriminal lainnya. Bahkan juga ditayangkan cara pembuatan khamr. Demikian seterusnya.. .

Kelima belas, ingatlah sabda Rasulullah –shalallahu ‘alaihi wa sallam-
“Tiga golongan yang tidak dilihat Allah pada hari kiamat: orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya, wanita yang menyerupai laki-laki, dan dayyuts.” (HR. Ahmad dan An-Nasai, dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al Albani dalam Shahihul Jami’ no. 3071)
Dalam lafadz Ahmad:
“Tiga golongan yang Allah haramkan surga atas mereka: pecandu minuman keras, orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya, dan dayyuts orang yang membiarkan kemaksiatan dalam keluarganya. “

Dan dari hadits di atas, kita ketahui bahwa dayyuts adalah orang yang ridha keluarganya berbuat kemungkaran di dalam rumahnya. Maka kita pun hendaknya menyadari bahwa seluruh bahaya di atas adalah kemungkaran yang terjadi di dalam rumah kita. Apakah kita rela jika kelak Allah tidak melihat kepada kita pada hari kiamat nanti? Kita memohon pada Allah ampunan dan keselamatan, serta memohon agar Allah memberi taufiq kepada kita untuk menaati-Nya.

(Diterjemahkan secara ringkas dan dengan sedikit perubahan dari ‘Isyruna Mafsadah min Mafasid At-Tilifza karya Khalid Al-Ghurbani. Tulisan ini pernah diperlihatkan oleh penulis kepada Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i –rahimahullah- dan beliau menganjurkan agar disebarkan)
Asy Syariah Vol 1/No. 04/Desember 2003/ Syawwal 1424 H

Takut Kepada Allah, Sudahkah Anda Melakukannya?


Harga : Rp 49.000
Harga Disc: Rp 36.750 ( Diskon 25% )
Pengarang : Muhammad Syauman bin Ahmad ar-Ramli
Penerbit : Pustaka Ibnu Katsir
Berat : 0,5 Kg

Kondisi Umat Islam saat ini, sungguh sangat memperihatinkan. Mereka sangat jauh dari tuntunan Al-Qur’an dan petunjuk sunnah Nabi صلى الله عليه وسلم . Mereka tidak lagi peduli apakah perbuatan mereka masih dalam koridor yang dibenarkan oleh agama ataukah telah menyimpang darinya. Perintah-perintah Allah dan Rasul-Nya mereka tinggalkan dan tidak mereka pedulikan, sementara larangan-larangan Allah dan Rasul-Nya mereka langgar dan mereka abaikan siang dan malam, tanpa ada perasaan bersalah maupun takut akan murkan dan azab Allah kepada mereka.

Maksiat dan dosa kita saksikan begitu merajalela di lingkungan kita, bahkan sebagiannya telah menjadi sesuatu yang legal dan dipandang lumrah. Mengonsumsi minuman keras dan berjudi telah menjadi aktifitas harian sebagian orang. Bahkan pergaulan bebas dengan lawan jenis dan perzinahan kini telah menjadi gaya hidup yang tidak hanya dianut oleh masyarakat perkotaan namun telah merambah jauh hingga ke pedesaan.

Dalam aktifitas mencari rizki banyak dari mereka tidak lagi menjaga norma-norma dan memperhatikan rambu-rambu agama. Istilah halal dan haram tidak berlaku bagi mereka, yang ada dalam pikiran mereka hanyalah bagaimana cara meraup keuntungan sebsar-besarnya.
Fenomena di atas tidak terlepas dari jauhnya kaum muslimin dari tuntunan agama mereka. Ketika seseorang tidak lagi takut kepada Allah, maka ia akan kehilangan kontrol dan tidak lagi peduli pada sepak terjangnya, apakah itu posotif ataukah negatif. Dia lalai bahwa di atas sana ada dzat Yang Maha Melihat lagi Maha mendenganr, Yang senantiasa menyaksikan dan mengetahui setiap ucapan dan gerak-geriknya, sekecil apapun itu.

Generasi terdahulu, baik dari kalangan para sahabat nabi صلى الله عليه وسلم , Tabi’in dan orang-orang setelah mereka, merupaka teladan dan contoh yang baik bagi kita dalam masalah ini. Berbagai kisah menakjubkan tentang rasa takut Mereka kepada Allah akan kita jumpai dalam buku ini Dan dengan membacanyan kita akan dapat bercermin dan mengukur sampai sejauh mana rasa takut kita kepada Allah, sehingga dengan demikian kita termotivasi untuk terus mengejar ketertinggalan kita dalam hal ini.

Temukan kembali rasa takut kepada Allah yang telah hilang dari diri anda dengan mengikuti petunjuk terapi pada buku ini. Dan raihlah berbagai mamfaat besar baik di dunia maupun di akhirat.

Pesona SURGA


Penulis : 'Abdul Halim bin Muhammad Nashshar as-Salafi
Penerbit : Pustaka Imam Asy-Syafiie
Harga Rp 120,000
Harga Disc 25 % Rp 90,000 

 Pesona Surga ... Siapakah yang tidak mau memasukinya?

Penjelasan lengkap perihal segala kenikmatan Surga yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya ...
Saya katakan—hanya Allah Ta’ala pemberi taufik—bahwa membaca buku ini diumpamakan seperti sedang mengunjungi Daarus Salaam (Surga) dalam keadaan terjaga, tidak melalui mimpi. Adakah yang lebih dicintai oleh seorang Mukmin daripada dibukakannya pintu Daarus Salaam untuknya, kemudian dikatakan kepadanya: “Silakan, wahai kekasih Allahk; hiasilah matamu, jiwamu, dan seluruh inderamu dengan beragam kenikmatan tetap berupa sungai-sungai Surga, istananya, bidadarinya, permadaninya, tempat tidurnya, makanannya, minumannya, naungannya; serta lihatlah keridhaan dan ucapan salam Allahkkepada penghuninya!”

Itulah perumpamaan membaca buku karya ‘Abdul Halim as-Salafi ini.

Satu hal yang mesti diketahui oleh pembaca sebelum membacanya adalah bahwa apa yang akan ia saksikan dalam kunjungan ini merupakan sesuatu yang benar dan yakin adanya, tanpa diragukan lagi. Karena rujukan buku ini merupakan kumpulan ayat-ayat al-Qur-an; juga hadits-hadits yang shahih sanadnya dan populer periwayatannya, serta relevan dengan al-Qur-an.

Demikianlah, kami tidak dapat mengapresiasi lebih selain memberi selamat kepada setiap pembaca buku ini atas kunjungannya ke Daarus Salaam (Surga), seraya berpesan: “Berhati-hatilah, jangan sampai musuhmu (syaitan) mengeluarkan kamu dari Surga, sebagaimana yang dialami oleh nenek moyangmu (Adam dan Hawa). Semoga keduanya dan dirimu diberikan keselamatan oleh Allah Ta’ala.”


SYAIKH ABU BAKAR JABIR AL-JAZA-IRI
(Staf Pengajar di Masjid Nabawi, Madinah)

Menyoal Rutinitas Perayaan Bid'ah Sepanjang Tahun


 Penulis : 'Abdullah bin 'Abdul 'Aziz at-Tuwaijiri
 Penerbit Pustaka Imam Asy-Syafii
Harga Rp 120,000,-
Harga Disc 25 %Rp 90,000,-

Pro dan kontra tentang perayaan hari-hari besar dalam Islam telah berlangsung sejak sekian lama. Umat Islam terpecah menjadi dua kelompok di antara yang setuju dan tidak setuju. Yang perlu diketahui, fenomena seperti ini (pelbagai perayaan pada tarikh-tarikh khas tertentu) belum pernah berlaku pada zaman Nabi dan dua generasi setelahnya. Kerana itulah ia menjadi sebahagian dari perkara-perkara baru yang dimasukkan ke dalam agama (Islam) oleh penganutnya. Maka di sini kita perlu menelitinya semula kenapa ia berlaku dan bagaimanakah hukum-hukum berkaitan dengannya dan kesan-kesannya kepada masyarakat dan umat Islam supaya menjadi jelas mana yang termasuk ke dalam kategori terlarang dan mana yang bukan.

Bagaimana sebenarnya hukum merayakan hari-hari tertentu yang belum pernah disyari'atkan oleh Sunnah dan bagaimana pula hukum berkaitan amalan-amalan tahunan yang diwujudkan ke dalam agama Islam oleh para penganutnya menurut perspektif syari’at Islam? Adakah ia tergolong amalan yang tercela atau yang mulia? Seterusnya akan muncul pula persoalan, adakah istilah bid’ah hasanah dalam Islam dan bagaimana memahaminya? Ataukah apa jua jenis bid’ah itu automatik sesat dan menyesatkan? Dengan itu, karya ilmiah ini wajar diteliti, dihayati, ditela'ah, dan difahami oleh setiap Muslim berdasarkan judulnya sahaja sudah menunjukkan agak bersifat kontroversi.

Buku ini merupakan thesis penulis bagi tujuan meraih gelaran master. Ianya mengulas dan membentangkan secara ilmiah dan sistematik perihal hari raya, hari besar, dan amalan rutin tahunan yang dilakukan sebahagian besar umat Islam di sebahagian tempat atau seluruh dunia, seperti Maulid Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam, Isra’ Mi’raj, tahun baru Hijriyah (pesta Ma'al Hijrah), hari raya Nairuz (pesta Tahun baru), sambutan nisfu Sya'aban, hari Asyura, mandi safar, hari ulangtahun, hari haul ulama-ulama tertentu, hari sial pada bulan-bulan tertentu, dan pelbagai lagi lainnya berserta amalan-amalan rutin tertentu di setiap tahun, sedangkan ianya tidak pernah ada contohnya dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam apatah lagi disunnahkan. Penulis membentangkan satu per satu rutin dan ulangan ibadah dan perayaan dari bulan ke bulan lainnya sepanjang tahun, serta menyebutkan pendapat kelompok-kelompok umat Islam yang pro dan kontra terhadapnya, seterusnya menyebutkan pula dalil bagi setiap kelompok terlibat. Kemudian, beliau memberikan ulasan berdasarkan pendapat-pendapat ulama generasi awal dan dalil-dalil dengan menjadikan al-Qur'an dan as-Sunnah sebagai hakimnya. Buku ini adalah asli hasil sebuah penelitian dan kajian yang sangat ilmiah, tidak membawa bendera mazhab atau mana-mana kumpulan pun, sehingga kesimpulan hukumnya dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah juga. Dengan itu, selamat mengkaji dan meneliti.

Menyelisik Alam Malaikat


Penulis : Dr. Muhammad bin Abdul Wahhab al-'Aqil
Penerbit : Pustaka Imam Asy-Syafi'i
Harga : Rp 100,000
Harga Disc 25% Rp 75,000 


Deskripsi :
Sadarkah kita bahwa setiap saat, di mana pun kita berada, selalu ada Makhluk yang hadir bersama kita. Makhluk yang satu ini diciptakan dari nur (cahaya) sehingga memiliki karakter yang berbeda dengan makhluk lain, yaitu manusia, jin, hewan, dan tumbuhan. Makhluk ini memiliki kelebihan yang banyak dibanding makhluk lain, dan yang paling istimewa adalah mempercayai keberadaannya merupakan salah satu rukun iman yang tanpanya iman seseorang dianggap cacat. Makhluk itu adalah Malaikat.
 
Ironisnya, hingga kini, pengetahuan umat Islam tentang Malaikat hanya berkutat pada sepuluh nama Malaikat beserta tugas-tugas mereka. Padahal, pengetahuan tentang mereka secara lebih lengkap akan banyak memberikan pengaruh positif terhadap kehidupan seorang Mukmin. Dan ternyata, kalau kita telisik banyak sekali informasi tentang mereka di dalam al-Qur-an dan as-Sunnah yang belum kita ketahui.
 
Buku ini mengupas dan menyelisik lebih jauh informasi tentang Malaikat dari sumber-sumber yang valid dari al-Qur-an dan as-Sunnah; berapakah jumlah mereka sebenarnya, apa saja tugas-tugas mereka, seperti apa sifat, sikap, dan karakter ciptaannya, dan banyak informasi lain serta dampak positif yang dihasilkan dengan banyak mengenal kehidupan mereka?
Penulis buku ini juga menambahkan informasi tentang pe-mahaman sekte-sekte lain dari ahli kalam dalam teologi Islam, juga menurut keyakinan Yahudi, Nashrani, ahli Filsafat, kaum musyrikin Arab, Hindu, Budha, dan kaum paganisme lainnya. Hal ini dimaksudkan untuk mengkritisi sekaligus membantah pemahaman mereka yang bertentangan dengan ‘aqidah Islam yang shahih menurut Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

Kamis, 28 Juni 2012

Maksiat Membuat Hati Berkarat

Begitu banyak maksiat dilakukan oleh manusia. Para wanita pamer aurat tanpa mau berusaha untuk mengenakan jilbab dan menutupnya dengan sempurna. Kewajiban shalat wajib seringkali ditinggalkan tanpa pernah ada rasa takut. Padahal, dosa meninggalkannya lebih besar dari dosa zina.

Seakan, pelaku maksiat itu hatinya tak pernah kunjung sadar. Siang malam, tidak bosan-bosannya maksiat terus diterjang. Pantas saja, sebab pengaruh maksiat pada hati sungguh amat luar biasa. Bahkan bisa membuat berkarat, sehingga memadamkan cahaya hati.
Allah berfirman,
كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
“Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka.” (Al- Muthaffifin: 14)

Makna ayat ini diterangkan dalam hadits berikut: dari Abu Hurairah, dari Rasulullah –shollallohu ‘alaihi wa sallam–, beliau bersabda, “Seorang hamba apabila melakukan suatu kesalahan, maka dititikkan dalam hatinya sebuah titik hitam. Apabila ia meninggalkannya dan meminta ampun serta bertobat, hatinya dibersihkan. Apabila ia kembali (berbuat maksiat), maka ditambahkan titik hitam tersebut hingga menutupi hatinya. Itulah yang diistilahkan “ar raan” yang Allah sebutkan dalam firman-Nya (yang artinya), ‘Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka’.” (Riwayat at-Tirmidzi no. 3334, Ibnu Majah no. 4244, Ibnu Hibban (7/27) dan Ahmad (2/297). Dihasankan oleh Syekh al-Albani –rohimahulloh–)

Penulis “al-Jalalain” –rohimahulloh– menafsirkan, “Hati mereka tertutupi oleh ‘ar-raan’ seperti karat karena maksiat yang mereka perbuat.” (Tafsir Al Jalalain, al-Mahalli dan as-Suyuthi, Mawqi’ at-Tafasir, 12/360)
Ibnu Qayyim al-Jauziyah –rohimahulloh– mengatakan, “Jika dosa semakin bertambah, maka itu akan menutupi hati pemiliknya. Sebagaimana sebagian salaf mengatakan mengenai surat al-Muthaffifin ayat 14, “Yang dimaksud adalah dosa yang menumpuk di atas dosa.”

Begitulah di antara dampak maksiat bagi hati. Setiap maksiat membuat hati pelakunya tertutup noda hitam. Jika hati itu tertutup, maka akan sulit menerima kebenaran. Ibnul Qayyim –rohimahulloh– berkata, “Jika hati sudah semakin gelap, maka amat sulit untuk mengenal petunjuk kebenaran.”

Sudah saatnya kita memperbanyak tobat dan istighfar, supaya gelapnya hati akan hilang dan membuat hati semakin bercahaya, sehingga kebenaran dan petunjuk akan mudah diterima.(***)
Majalah Keluarga Islam, Nikah Sakinah Vol. 9 No. 9

Ensiklopedi Fatwa Syaikh Al Bani


Penulis : Syaikh Mahmud Ahmad Rasyid
            Syaikh Abu Sanad Muhammad
Harga : 159,500.-
Harga Disc 25% :119,625,-

Kaum Muslimin dewasa ini menghadapi banyak sekali tantangan. Oleh Karena itu, mereka memerlukan solusi yang tepat dan syar'i ( sesuai dengan tuntunan ajaran syari'at Islam yang telah digariskan oleh Allah dan Rasul-Nya). Buku ini yang merupakan kumpulan fatwa seorang ulama salaf yang sangat populer sekaliguus pakar hadits di abad ini dan buku ini bisa menjadi salah satu alternatif untuk menjawab kebutuhan  saat ini.

Rabu, 27 Juni 2012

MENANGIS KARENA TAKUT DAN RINDU KEPADA ALLAH

Bagi kaum lelaki, menangis merupakan aib yang tidak dibenarkan. Kapan pun dan di mana pun. Karena, walau  bagaimana, kelelakian adalah merupakan simbol ketangguhan dan keperkasaan. Merupakan suatu tindakan cengeng jika tangisan menghiasi mata sang lelaki. Tindakan yang biasanya lumrah bagi wanita, sebagai ungkapan perasaannya, baik karena kesal atau karena rindu terhadap sang kekasih (suami) atau pun lainnya. Di hadapan Allah swt, tidak ada yang perkasa. Tidak ada yang gagah berani dan tidak ada pula yang hebat. Dia-lah yang memiliki segalanya. Sehingga tangisan di hadapan-Nya, baik karena takut maupun rindu, merupakan simbol kehambaan yang sudah seharusnya ditunjukkan oleh siapa pun. Sikap inilah yang ditunjukkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. sebagai teladan sepanjang zaman.

Dari Ibnu Mas’ud radiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Suatu ketika, Rasulullah  Shallallahu ‘Alaihi Wasallam meminta Aku agar membacakan al-Qur'an kepadanya. (Dengan perasaan malu), Ibnu Mas'ud mengungkapkan, "Bagaimana (mungkin) Aku membacakan al-Qur'an kepadamu wahai Rasulullah !? padahal al-Qur'an ini diturunkan kepadamu ". "Saya ingin mendengarnya dari orang lain" ungkap beliau. Maka, Ibnu Mas'ud pun memulai bacaannya dari surah an-Nisaa'. Ketika sampai pada ayat 41 yang berbunyi, "Maka bagaimanakah (halnya orang kafir nanti), apabila kami mendatangkan seseorang saksi (rasul) dari tiap-tiap umat dan kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (umatmu)..". Rasulullah pun dengan lembut mengatakan, "Cukup". Ketika saya (Ibnu Mas'ud) menoleh kepadanya, ternyata air mata Rasulullah  Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sedang bercucuran. (HR.Bukhari dan Muslim).
Kalangan sahabat sebagai siswa dalam madrasah Rasulullah,  juga mewarisi sikap demikian. Mereka adalah pribadi-pribadi yang cengeng di hadapan Allah swt di malam hari, tetapi perkasa bak harimau di siang hari di hadapan musuh dan di medang pertempuran.
Dari Anas radiyallahu ‘anhu, ia melaporkan, “Suatu ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam naik mimbar. Ia kemudian berkhutbah seperti biasanya. Tetapi, khutbah ketika itu tidak sama dengan khutbah Rasulullah sebelumnya. Nuansanya berbeda. Beliau mengatakan, "Jika kalian mengetahui apa yang aku ketahui maka pasti kalian sedikit tertawa dan banyak menangis". Sahabat-sahabat beliau pun menutupi wajah mereka sambil terdengar suara seperti kerumunan lebah (karena suara tangisan mereka
(HR. Bukhari dan Muslim).
Ummat sebelum Islam (ahli kitab), yang beriman kepada Allah swt., juga demikian keadannya. Keimananlah yang membuat mata mereka basah oleh air mata kerinduan terhadap rahmat-Nya. Sebagaimana mereka menitikkan air mata karena takut terhadap siksaan-Nya. Kondisi mereka dideskripsikan oleh Allah swt dalam firman-Nya, 
"Sesungguhnya orang-orang yang diberi pengetahuan sebelumnya apabila Al Quran dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur atas muka mereka sambil bersujud, Dan mereka berkata: "Maha Suci Tuhan kami, Sesungguhnya janji Tuhan kami pasti dipenuh. Mereka tersungkur dengan muka mereka sambil menangis sehingga Allah pun senantiasa menambah ke-khusyu-an (dalam hati mereka)". (QS. al-Israa' : 107-109).

KEUTAMAAN MENANGIS KARENA ALLAH SWT.

Karena tangisan merupakan simbol keimanan bagi orang mukmin, maka keutamaan yang di milikinya sangat mengesankan. Sebut saja misalnya sebuah riwayat yang dirilis oleh Abu Hurairah r.a. Ia mengabarkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam  pernah menginformasikan
"Tidaklah akan masuk nereka seseorang yang menangis karena takut kepada Allah, sehingga air susu kembali ke asalnya (tempat keluarnya). Debu peperangan di jalan Allah swt tidak akan menyatu selamanya dengan asap api neraka". (HR.Tirmidzi).
Bahkan orang yang menangis ketika mengingat Allah dalam keadaan sendirian dengan hati yang terpaut dengan Allah swt. termasuk dalam kategori orang-orang yang mendapatkan naungan di akhirat nanti. Hari di mana naungan tidak akan diperoleh kecuali mereka yang memiliki kedekatan dengan Allah swt. Abu Hurairah melaporkan, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam  pernah bersabda,

"Ada tujuh golongan yang diberikan tempat bernaung pada hari (kiamat). Hari di mana manusia tidak mempunyai tempat bernaung kecuali naungan-Nya : Pemimpin yang adil, pemuda yang tumbuh dalam nuansa ibadah kepada Allah swt., orang yang tertambat hatinya dengan masjid, dua orang yang saling mencintai karena Allah. Mereka berdua berkumpul dan berpisah karena cinta karena Allah. Seseorang yang diajak (berbuat mesum) oleh seorang wanita bangShallallahu ‘Alaihi Wasallam an dan berparas cantik, lalu ia jawab, "Saya takut kepada Allah", seseseorang yang bersedekah dengancara sembunyi-sembunyi sehingga tangan kirinya tidak menegetahui apa yang dilakukan tangan kananya (ketika bersedakah), dan orang yang mengingat Allah kala sendirian (dan dengan penuh ke-khusyu'an) , lalu matanya basah (karena takut dan rindu kepada Allah swt.)".  (HR.Muttafaq Alaihi).
Demikianlah tangisan yang di landasi dengan iman yang menghasilkan rasa rindu (raja') untuk bertemu dengan Sang Kekasih. Rasa yang juga dilapisi pula oleh  rasa takut (khauf) kepada-Nya karena adanya neraka yang merupakan simbol kemarahan-Nya. Kedua faktor inilah yang berada dibalik tangisan orang-orang mukmin. Walaupun sisi kerinduan yang paling mendominasi dirinya saat-saat air mata membasahi wajahnya.

RAJA' (HARAP) DAN KHAUF (TAKUTYANG MELAHIRKAN TANGISAN.

Raja' adalah ketenangan hati dan kedamaian jiwa karena mengharapkan sesuatu yang dicintai. Jika faktor-faktor pendukung raja' ini sempurna maka ia akan menghasilkan tangisan yang mewujudkan perasaan tenang dan perasaan tentram. Namun jika perangkat-perangkatnya tidak padu dan tidak apik, ia akan menghasilkan pribadi yang terpedaya. Pribadi yang berharap dengan harapan yang berlebihan kepada Allah swt. sehingga lupa bahwa di samping rahmat Allah yang ia harapkan, juga di sana ada kemurkaan-Nya yang harus dipertimbangkan dan dihindari. Untuk peribadi demikian, tangisan tidak bisa hadir pada pelupuk matanya. Perasaannya yang diselimuti oleh harapan akan rahmat Allah membuatnya terlena. Sikap yang merefleksikan ketidakkeritisan terhadap kualitas ibadah yang ia lakukan terhadap Zat yang diharapkan rahmat-Nya (Allah Swt.).
Jika sikap  kritis ini tidak hadir pada diri seseorang ketika melakukan amalan, maka kualitas ibadahnya tidak lagi maksimal. Sikap kritis ini sering dikenal dengan istilah muraqabah. Yaitu sebuah aktifitas yang mementingkan kritik ketika dan setelah melakukan amalan. Apakah sudah layak dan pantas untuk dimajukan, dan bagiamana seharusnya pada pase selanjutnya?. Sikap inilah yang disebut oleh Rasulullah sebagai sikap cerdas seorang mukmin dalam beribadah. Dalam sebuah sabdanya, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam . menegaskan,
"Orang yang cerdas adalah siapa yang selalu mengkeritisi dirinya dan beramal (dengan malan yang baik) sebagai persiapan untuk (hidup) setelah mati nanti (akhirat)." (HR. Tirmidzi)
Jika ditelusuri lebih mendalam, muraqabah ini merupakan implementasi dari sikap khauf (rasa takut) seseorang jika amalannya belum pantas dan layak untuk dipersembahkan. Baik ketidakpantasan itu dari segi kualitas maupun kuantitas. Inilah yang sering kita dengar dari para ahli suluk bahwa dalam rangka melakukan spiritual journey  menuju Allah, hendaknya seseorang terbang dengan dua sayap, sayap al-khauf dan sayap al-raja'. Hanya saja, pada saat tertentu, seperti sakit misalnya, sisi al-raja' seharusnya lebih ditegaskan, karena nuansanya sedang berada pada level al-khauf. Demikian pula ketika sedang segar bugar, dengan nuansa al-raja' yang lebih mendominasi, sisi al-khauf perlu dihadirkan dan dipertegas keberadaanya.
Perangkat-perangkat al-raja' yang di maksud di sini, yang dengannya seseorang tidak terpedaya adalah :
1.      Mencintai apa yang diharapkan (mahabbah).
2.      Merasa khawatir jika kehilangan apa yang diharapkan (khauf).
3.      Selalu berusaha untuk mendapatkannya (.raja’)
Setiap orang yang berharap pasti merasa takut dan cemas jika tidak merasa yakin bisa mendapatkan apa yang diharapkannya, dan bila orang yang sedang berjalan merasa khawatir ketinggalan pasti ia berusaha untuk berlari.
Raja' adalan penantian terhadap sesuatu yang disenangi, setelah memenuhi semua persyaratan yang butuhkan berdasarkan pada kemampuan seseorang. Raja' di sini dikiaskan, misalnya, dengan penanaman tumbuhan. Semua orang yang akan menanam pasti akan mencari lahan yang subur sebagai tempat persemaian. Di sanalah benih dengan kualitas tinggi itu disemai. Selanjutnya ia melakukan perawatan yang baik dan terus menerus sesuai dengan kebutuhan dan tuntunan. Menyianginya dan menjaganya dari berbagai serangan hama dan berbagai penyakit. Setelah itu, ia menunggu rahmat Allah swt. hingga masa panen tiba. Inilah gambaran ideal dari sebuah raja'. Dan raja' demikianlah yang dikehendaki setelah semuanya dilakukan dan diuapayakan.
Untuk lebih kongkritnya, dunia adalah sebuah ladang, sedang hasilnya akan dipanen pada hari akhirat kelak. Sementara hati itu layaknya bumi. Iman laksana benih, ketaatan ibarat pengolahan tanah dan usaha untuk menyianginya serta upaya untuk mengalirkan air kepadanya. Sedang hati yang terpesona oleh dunia dan terbuai olehnya adalah seperti tanah gersang yang tidak bisa menumbuhkan benih. Sementara pada hari kiamat adalah waktu panen. Dan seseorang tidak akan memanen kecuali apa yang pernah disemainya. Benih tidak akan tumbuh kecuali benih iman. Iman sangat jarang memberi manfaat bila hatinya busuk dan akhlaknya buruk. Demikianlah gambaran yang dilukiskan oleh Ahmad Farid dalam bukunya, 16 Langkah Menuju Puncak Kedamaian Jiwa.

KHAUF (RASA TAKUT) SEBAGAI PENYEIMBANG.

Jika raja' merupakan piranti kasih sayang yang dibukakan secara luas oleh Allah bagi hamba-Nya, maka khauf merupakan cambuk yang dapat memicu mereka untuk mendekat kepada-Nya. Memang benar, ujung dari raja' dan khauf adalah kedekakatan dengan Allah. Karena memang untuk itulah jin dan manusia  diadakan di pentas kehidupan ini. Khauf merupakan kondisi seseorang yang merasakan sakit dan terbakarnya hati akibat dari rasa takut akan terjadinya sesuatu yang tidak menyenagkan di kemudian hari. Khauf-lah yang berperan dan mengerem nafsu manusia dari keserakahan, angkara murka dan dosa. Dia pula yang mengikat manusia untuk menunjukkan ketaatan kepada Allah swt.
Khauf sesungguhnya merupakan hasil dari pengenalan terhadap Allah swt (ma'rifatullah). Pengenalan yang dihasilkan berdasarkan pada penelusuran terhadap nama-nama, sifat-sifat dan perbuatan-perbuatan Allah swt. Ma'rifatullah demikian akan merefleksiakan rasa takut sekaligus mewujudkan koreksi diri seorang muslim akan hak-hak Yang Maha Agung, yang selama ini diabaikan atau belum termaksimalkan.  Dengan kata lain, dengan mengenal Allah secara baik maka secara otomatis kekerdilan manusia akan tampak. Baik kekerdilan itu sebagai mahluk lemah maupun kekerdilan amaliah dan kepicikan tingkat kepatuhan terhadap Sang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang. Dengan demikian, orang yang paling takut kepada Allah swt adalah orang yang paling mengenal dirinya setelah mengenal Tuhannya sendiri. Maka tidaklah mengherankan jika Rasulullah sebagai penghulu para nabi menegaskan, sebagaimana dirilis oleh Imam Bukhari dalam kitab Shahih-nya, "Demi Allah, Sungguh aku adalah orang yang paling tahu tentang Allah dan paling takut kepada-Nya". (HR Bukhari).
Jika kita mengetahui bahwa para ulama merupakan pewaris nabi, maka tentunya pula kita menyadari bahwa ulama pulalah yang memiliki tingkat pengenalan yang baik tentang Allah swt. Dengan pengenalan demikian mereka kemudian menjadi mahluk yang paling takut kepada-Nya. Asumsi ini ditegaskan oleh firman Allah yang berbunyi,
" Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama[1258]. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun".(QS Fathir : 28).
Jika demikian, orang yang takut sesungguhnya bukanlah mereka yang mengusap air matanya dan tidak pula yang sesegukan akibat tangisan yang menghiasi wajahnya. Tetapi takut yang sebenarnya adalah mereka yang meninggalkan hal-hal yang dikhawatirkan dapat menjerumuskannya ke dalam kubangan siksaan.
Abu al-Qasim al-Hakim berpesan, "Siapa yang takut dengan sesuatu, dia pasti akan menghindari darinya. Dan siapa yang takut kepada Allah, dia akan berlari menghindari siksa-Nya dan berusaha mendekatkan diri kepada-Nya". As-Syibli berkata, "Setiap kali aku takut kepada kepada Allah, pasti Aku melihat pintu hikmah dan pelajaran yang berharga". Yahya bin Muadz mengatakan, "Setiap orang mukmin yang mengerjakan kemaksiatn, pasti ia akam mensikapinya dengan dua cara : Takut terhadap siksaan dan berharap adanya ampunan".
Khauf akan membakar syahwat dan kenginan-keinginan terhadap perkara yang haram. Sehingga kemaksiatan yang ia cintai berubah menjadi sesuatu yang paling ia benci. Sebagaimana madu dibenci oleh orang yang sangat menyenaginya manakala ia mengetahui bahwa terdapat racun padanya. Syahwat akan terbakar oleh rasa khauf (takut). Bagian-bagian tubuhnya mempnyai tatakrama dan adab yang dipatuhi. Hatinya menjadi lahan subur bagi tumbuhnya ke-khusyu'an, rasa hina dan rendah diri di hadapan Allah swt. Dia akan ditinggalkan oleh kesombongan, dendam, iri dan dengki. Bahkan perhatiannya semakin tajam, karena pengaruh rasa khauf-nya dan memeperhatikan terhadap akibat dan sanksi yang ia peroleh jika melanggar aturan. Kini perasaan selalu terawasi yang dikenal dengan sebutan muraqabah menjadi aktifitas baru yang dibarengi dengan usaha sungguh-sungguh yang disebut mujahadah untuk membersihkan jiwa dan lahiriahnya dari dominasi syahwat dan prilaku setan.
Demikan besar urgensi khauf, sehingga sikap ini menghasilkan petunjuk, rahmat, ilmu dan keridha'an Allah swt. Allah berfirman,
"Dan dalam tulisannya terdapat petunjuk dan rahmat untuk orang-orang yang takut kepada Tuhannya". (QS. al-A'raf : 154).
Firman-Nya, "Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun". (QS. Fathir : 28).
Juga firman-Nya,  
"Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepada-Nya. yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya". (QS.al-Bayyinah : 8).
Allah swt selalu mewanti-wanti agar menajadikan khauf sebagai komponen mendasar dari keimanan yang hanya pantas ditunjukkan kepada-Nya semata. Terhadap setan yang biasanya dijadikan simbol yang ditakuti, Allah menegsakan bahwa, sikap takut itu seharusnya hanya ditujukan kepada-Nya semata. Karena Dia-lah sesungguhnya yang pantas ditakuti. Dengan rasa takut kepada-Nya, setan yang biasanya menggetarkan jiwa menjadi tidak berarti apa-apa. Setan hanya pantas dikhawatirkan jika seandainya mengelabui manusia dari jalur menuju Allah swt.(baca : Kebenaran). Karenanya, Allah menegaskan,
"Sesungguhnya mereka itu tidak lain hanyalah syaitan yang menakut-nakuti (kamu) dengan kawan-kawannya (orang-orang musyrik Quraisy), Karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepadaku, jika kamu benar-benar orang yang beriman."  (QS. Ali Imran : 175).
Selain faktor khauf dan raja' yang menghasilkan tangisan, juga terdapat beberapa faktor yang merupakan wujud lain dari kedua faktor di atas. Di antaranya, kesedihan terhadap peristiwa lampau yang menyedihkan bersama teman seperjuangan dalam meniti jalan Allah swt. Sikap demikian ditunjukkan oleh Abdul Rahman bin Auf. Sebagaimana riwayat beliau berikut :

Artinya, ”Dari Abdul Rahman bin ’Auf, bahwasanya, suatu ketika, saat ia disuguhi makanan, padahal ia sedang puasa. (Sedangkan orang yang berpuasa biasanya sangat mengharapkan makanan. Tetapi beliau teringat dengan saat-saat yang dilewatiya bersama para sahabat utama yang telah syahid lebih dulu. Dengan menganggap remeh dirinya dibanding mereka, beliau mengatakan,) "Mush'ab bin Umair telah terbunuh, padahal ia lebih baik dariku". Ketika ia meninggal, kain kapan saja susah didapatkan untuk mengapaninya. Hanya sebuah kain burdah yang digunakan untuk itu. Jika kain itu ditarik untuk menutupi kepalanya, maka kakinya akan tersingkap. Tapi ketika kakinya ditutup dengan kain tersebut, maka kelihatanlah kepalanya. Lalu dunia ini (dengan segala kenikmatannya) dibukakan kuncinya, atau dengan redaksi lain, ia mengatakan, ”dunia ini telah diserahkan kepada kami (untuk dikuasai secara politis). Namun Saya khawatir kalau semua kenikmatan ini adalah kebaikan kami yang disegarahkan balasannya di dunia ini”. Lalu beliau menangis sejadi-jadinya hingga makanan tidak lagi disentuh olehnya”. (HR. Bukhari)
Mush'ab bin Umair adalah seorang pemuda tampan yang hidup mewah bersama kedua orang tuanya di Mekah pada masa jahiliah. Pakaiannya saja sangat berkelas dan dipenuhi dengan aroma wewangian. Ia banyak diidolakan di kota Mekah oleh banyak gadis. Tetapi setelah ia masuk Islam, kehidupannya berubah drastis dengan berusaha menjauhi kemewahan dan memilih hidup sederhana. Bahkan pakaiannya ada yang compang camping. Ia ikut hijrah ke kota Madinah dan hidup di sana sebagai muhajirin. Ketika perang Uhud berkobar, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam  menyerahkan bendera perang kepadanya. Di sanalah ia menemukan predikat sebagai syuhada Uhud.
Abdul Rahman bin Auf mengingat peristiwa itu kemudian mengatakan, "Mereka (sahabat utama yang telah syahid) telah berlalu dan selamat dari godaan dunia berupa harta rampasan perang yang begitu melimpah bagi generasi belakangan". Kemudian ia melanjutkan, "Kami khawatir jika kebaikan kami disegerahkan (balasannya di dunia berupa kenikmatan demikian)". Karena memang orang kafir disegerahkan balasan kebikannya di dunia, sehingga di akhirat kelak mereka hanya mendulang siksa yang tiada bertepian. Sedang orang mukmin bisa jadi mendapatkan balasan kebaikannya di dunia maupun di akhirat. Tetapi balasan akhirat itulah sesungguhnya yang lebih penting. Beliau khawatir jika kebaikannya disegerahkan balasannya di dunia ini, sehingga ia menangis penuh kekhawatiran dan harapan. Ia pun meningalkan makanan.
Kasus lain yang mirip dengan kajadian tersebut di atas adalah riwayat yang disampaikan oleh Anas radiyallahu anhu.

Anas melaporkan, ”Abu Bakar berkata kepada Umar radiyallahu anhuma, setelah wafatnya Rasulullah saw, ”Ayo kita sama-sama pergi menemui Ummu Aiman rdiyallahu anhuma, sebagaimana Rasulullah saw sering mengunjunginya. Tatkala kami tiba dan bertemu dengannya, Ummu Aiman menangis (penuh kesedihan). Abu Bakar dan Umar berkata kepadanya, ”Kenapa Anda menangis ?” Bukankah Anda tau bahwa keberadaan Rasulullah saw di sisi Allah itu lebih baik. Ummu Aiman menjawab, ”Saya tidak menangis, saya juga tidak tahu bahwa keberadaan Rasulullah saw di sisi Allah itu lebih baik. Saya hanya menangis karena wahyu telah terputus dari langit. Maka, mendengar ungkapan Ummu Aiman tersebut, Abu Bakar dan Umar pun tidak tahan menahan cucuran air matanya. Mereka berdua pun ikut menangis bersama Ummu Aiman”. (HR Muslim)

Orang-Orang Shalih Terdahulu Yang Menangis Karena Takut Kepada Allah

1. Abdussalam (mantan budak Maslamah bin Abdul Malik) berkata, “Umar bin Abdul Aziz pernah menangis, lalu Fathimah ikut menangis. Namun mereka tidak tahu apa yang membuat mereka menangis. Ketika mereka selesai menangis, Fathimah bertanya, “Ya Amirul Mukminin, mengapa anda menangis?” Umar menjawab, “Fathimah, aku teringat hari dimana manusia dipisahkan dari hadapan Allah; satu kelompok di dalam Surga dan kelompok lainnya di dalam Neraka.” Kemudian ia berteriak dan pingsan. [Hilyatul Auliya' 5/269]

2. Apabila Umar bin Abdul Aziz mendengar pembicaraan tentang kematian, maka tubuhnya menggelepar seperti burung dan menangis sampai air matanya mengalir di jenggotnya.” [Hilyatul Auliya' 3/316]

3. Hani’ (mantan budak Utsman bin Affan) berkata, “Apabila Utsman bin Affan berdiri di atas kuburan, ia menangis hingga jenggotnya basa oleh air mata.” [Hilyatul Auliya' 1/61]

4. Malik bin Anas berkata, “Muhammad bin Munkadir adalah penghulu para pembaca. Hampir setiap kali ada orang yang bertanya kepadanya tentang hadits, ia selalu menangis.” [Hilyatul Auliya' 2/147]

5. Abu Ayyub al-A’raj berkata, “Sa’id bin Jubair selalu menangis di malam hari sampai rabun.” [Hilyatul Auliya' 4/272]

6. Sa’id bin Jubair berkata, “Aku tidak pernah melihat orang yang lebih perhatian terhadap kemuliaan Baitullah ini daripada orang Bashrah. Pada suatu malam aku pernah melihat seorang wanita muda bergelayutan pada tirai Ka’bah. Ia memanjarkan doa, menangis dan menghiba sampai meninggal dunia.” [Hilyatul Auliya' 4/276]

7. Ali bin Abdillah berkata, Kami pernah bersama Yahya bin Sa’id al-Qaththan. Ketika ia keluar dari masjid, kami pun keluar bersamanya. Tatkala tiba di pintu rumahnya ia berdiri, dan kami pun berdiri. Lalu ia berkata kepada seorang pria, “Bacalah!” Pria itu pun membaca surat ad-Dukhan. Ketika ia mulai membaca aku melihat Yahya bin Sa’id berubah, hingga ketika sampai pada ayat,
Sesungguhnya hari keputusan itu adalah waktu yang dijanjikan bagi mereka semuanya.” [QS.ad Dukhan:40] Tiba-tiba Yahya menjerit dan pingsan. Ia baru siuman setelah sekian lama. Kemudian kami menemuinya. Ternyata ia tengah tertidur di atas pembaringannya serayas membaca, “Sesungguhnya hari keputusan itu adalah waktu yang dijanjikan bagi mereka semuanya.” [QS.ad Dukhan:40]. Maka keadaan itu terus berlangsung sampai ia meninggal dunia. [Hilyatul Auliya' 8/383]
Demikianlah potret tangisan sahabat yang lahir dari rasa khauf dan raja-'nya kepada Allah swt. Semoga kita diberikan kemampuan menangisi dosa-dosa kita kepada Allah. Amin.Wallahu a'lam.
Sumber :
http://idrusabidin.blogspot.com
"TERIMAKASIH SUDAH MAMPIR KE BLOG INI SILAHKAN DILIHAT DULU KATALOG DAN RESENSI BUKUNYA SEMOGA BERKENAN JAZAKUMULLAH KHOIRON KATSIRAN"