Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 25 Agustus 2012

MLM dalam Pandangan Islam


Akhir-akhir banyak masyarakat yang menanyakan hukum melakukan transaksi jual beli dengan system MLM ( Multi Level Marketing ). Tulisan di bawah ini mudah-mudahan bisa menjawab pertanyaan tersebut :





Pengertian MLM

MLM adalah sistem penjualan yang memanfaatkan konsumensebagai tenaga penyalur secara langsung. Sistem penjualan ini menggunakan beberapa level ( tingkatan) di dalam pemasaran barang dagangannya.
Promotor (upline) adalah anggota yang sudah mendapatkan hak keanggotaan terlebih dahulu, sedangkan bawahan (downline) adalah anggota baru direkrut oleh promotor.
Komisi yang diberikan dalam pemasaran berjenjang dihitung berdasarkan banyaknya jasa distribusi yang otomatis terjadi jika bawahan melakukan pembelian barang. Promotor akan mendapatkan komisi tertentu sebagai bentuk balas jasa atas perekrutan bawahan.
Harga barang yang ditawarkan di tingkat konsumen adalah harga produksi ditambah komisi yang menjadi hak konsumen karena secara tidak langsung telah membantu kelancaran distribusi. (http://id.wikipedia.org)
Untuk menjadi keanggotaan MLM, seseorang biasanya diharuskan mengisi formulir dan membayar uang dalam jumlah tertentu dan kadang diharuskan membeli produk tertentu dari perusahaan MLM tersebut, ada juga yang tidak mensyaratkan pembelian. Pembayaran dan pembelian produk tersebut sebagai syarat untuk mendapatkan point. Point bisa didapatkan melalui pembelian atau dari jumlah anggota yang berhasilk direkrut.
Transaksi jual beli dengan menggunakan dengan sistem MLM hukumnya haram. Alasan-alasannya adalah sebagai berikut :

Alasan Pertama :
Di dalam transaksi dengan metode MLM,seorang anggota mempunyai dua kedudukan  :
Kedudukan Pertama :  sebagai pembeli produk, karena dia membeli produk secara langsung dari perusahaan atau distributor.  Pada setiap pembelian, biasanyadia akan mendapatkan bonus berupa potongan harga.
Kedudukan Kedua :  sebagai makelar, karena selain membeli produk tersebut, dia harus berusaha merekrut anggota baru. Setiap perekrutan dia mendapatkan bonus juga.
Pertanyaannya adalah bagaimana hukum melakukan satu akad dengan menghasilkan dua akad sekaligus, yaitu sebagai pembeli dan makelar ?
Dalam Islam hal itu dilarang, ini berdasarkan hadist-hadist di bawah ini :
1.    Hadits Abu Hurairah, ra bahwasanya ia berkata :
<h2>نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ بَيْعَتَيْنِ فِي بَيْعَةٍ</h2>
“Nabi Saw, telah melarang dua pembelian dalam satu pembelian.”
( HR Tirmidzi, Nasai dan Ahmad. Berkata Imam Tirmidzi).
Imam Syafi’I berkata tentang hadist ini, sebagaimana dinukil Imam Tirmidzi :Yaitu jika seseorang mengatakan: “Aku menjual rumahku kepadamu dengan harga sekian dengan syarat kamu harus menjual budakmu kepadaku dengan harga sekian. Jika budakmu sudah menjadi milikku berarti rumahku juga menjadi milikmu. “ ( Sunan Tirmidzi, Beirut, Dar al Kutub al Ilmiyah, Juz : 3, hlm. 533 )
Kesimpulannya bahwa melakukan dua macam akad dalam satu transaksi yang mengikat satu dengan yang lainnya adalah haram berdasarkan hadist di atas.
2.    Hadist Abdullah bin Amr, bahwasanya Rasulullah saw bersabda :
<h2>لَا يَحِلُّ سَلَفٌ وَبَيْعٌ وَلَا شَرْطَانِ فِي بَيْعٍ وَلَا رِبْحُ مَا لَمْ تَضْمَنْ وَلَا بَيْعُ مَا لَيْسَ عِنْدَكَ</h2>
“Tidak halal menjual sesuatu dengan syarat memberikan hutangan, dua syarat dalam satu transaksi, keuntungan menjual sesuatu yang belum engkau jamin, serta menjual sesuatu yang bukan milikmu.” ( HR Abu Daud )
Alasan diharamkannya transaksi seperti ini adalah tidak jelasnya harga barang dan menggantungkan suatu transaksi kepada syarat yang belum tentu terjadi.( al Mubarkufuri, Tuhfadh al Ahwadzi,  Beirut, Dar al Kutub al Ilmiyah, Juz : 4, hlm. 358, asy Syaukani, Nailul Author, Riyadh, Dar an Nafais, juz : 5, hlm: 173 )

Alasan Kedua :
Di dalam MLM terdapat makelar berantai.  Sebenarnya makelar (samsarah) dibolehkan di dalam Islam, yaitu transaksi dimana pihak pertama mendapatkan imbalan atas usahanya memasarkan produk dan usaha mempertemukannya dengan pembeli.
Adapun makelar di dalam MLM bukanlah memasarkan produk, tetapi memasarkan komisi. Maka, kita dapatkan setiap anggota MLM memasarkan produk kepada orang yang akan memasarkan dan seterusnya, sehingga terjadilah pemasaran berantai. Dan ini tidak dibolehkan karena akadnya mengandung gharar dan spekulatif.

Alasan Ketiga :
Di dalam MLM terdapat unsur perjudian, karena seseorang ketika membeli salah satu produk yang ditawarkan, sebenarnya niatnya  bukan karena ingin memanfaatkan atau memakai produk tersebut, tetapi dia membelinya sekedar  sebagai sarana untuk mendapatkan point yang nilainya jauh lebih besar dari harga barang tersebut. Sedangkan nilai yang diharapkan tersebut belum tentu ia dapatkan.

Alasan Keempat :
Didalam MLM banyak terdapat unsur gharar  (spekulatif)atau sesuatu yang tidak ada kejelasan yang diharamkan Syariat, karena anggota yang sudah membeli produk tadi, mengharap keuntungan yang lebih banyak, tetapi dia sendiri tidak mengetahui apakah berhasil mendapatkan keuntungan tersebut atau malah merugi.
Dan Nabi Muhammad saw sendiri melarang setiap transaksi yang mengandung gharar, sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra bahwasanya ia berkata :
<h2>نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ بَيْعِ الْحَصَاةِ وَعَنْ بَيْعِ الْغَرَرِ</h2>
“ Rasulullah saw melarang jual beli dengan cara al-hashah (yaitu: jual beli dengan melempar kerikil) dan cara lain yang mengandung unsur gharar (spekulatif). “ ( HR Muslim,no: 2783  )

Alasan Kelima :
Sistem MLM bertentangan dengan kaidahAl Ghunmu bi al Ghurmi, yang artinya bahwa keuntungan itu sesuai dengan tenaga yang dikeluarkan atau resiko yang dihadapinya. Di dalam MLM ada pihak-pihak yang paling dirugikan yaitu mereka yang berada di level-level paling bawah, karena merekalah yang sebenarnya bekerja keras untuk merekrut anggota baru, tetapi keuntungannya yang menikmati adalah orang-orang level atas.

Alasan Keenam :
Sebagian ulama mengatakan bahwa transaksi dengan sistem MLM mengandung riba riba fadhl,karena anggotanya membayar sejumlah kecil dari hartanya untuk mendapatkan jumlah yang lebih besar darinya, seakan-akan ia menukar uang dengan uang dengan jumlah yang berbeda. Inilah yang disebut dengan riba fadhl (selisih kuantitas). Begitu juga termasuk dalam katagori riba nasi’ah, karena anggotanya mendapatkan uang penggantinya tidak secara cash.
Produk yang dijual oleh perusahaan kepada konsumen tiada lain hanya sebagai sarana untuk barter uang tersebut dan bukan menjadi tujuan anggota,  sehingga keberadaannya tidak berpengaruh dalam hukum transaksi ini.
Keharaman jual beli dengan sistem MLM ini, sebenarnya sudah difatwakan oleh sejumlah ulama di Timur Tengah, diantaranya adalah Fatwa Majma’ Al-Fiqh Al-Islamy Sudan yang dikeluarkan pada tanggal 17 Rabi’ul Akhir 1424 H, kemudian dikuatkan dengan Fatwa Lajnah Daimah Arab Saudi pada tanggal 14/3/1425 dengan nomor (22935). Wallahu A’lam. (Jakarta, 16 Syawal 1431)

Posted in Dr. Ahmad Zain,

Kamis, 05 Juli 2012

Obat-obatan Alami yang Disyari’atkan

Berikut ini obat-obatan alami yang ditunjukkan oleh al Qur’an dan as Sunnah seperti madu, habbatus sauda (jintan hitam), air zam-zam dan minyak zaitun yang insya Allah dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit dengan izin Allah Ta’ala:


Pertama, madu.
Allah Ta’ala berfirman, “Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang memikirkan” (QS. An Nahl : 69)
Rasulullah ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam bersabda, “Kesembuhan itu ada pada tiga hal, yaitu dalam pisau pembekam, meminumkan madu, pengobatan dengan besi panas (kayy). Dan aku melarang ummatku melakukan pengobatan dengan besi panas” (HR. al Bukhari no. 5681)
Dalam sebuah riwayat lain disebutkan,
“Alaykum bisy syifaa-ayna al ‘asali wal qur-aani” yang artinya “Hendaknya kalian menggunakan dua macam obat, madu dan al Qur’an” (HR. Ibnu Majah dan al Hakim dalam Shahih-nya, beliau berkata, “Hadits ini shahih sesuai dengan sistem periwayatan al Bukhari dan Muslim”, dan disetujui oleh adz Dzahabi. Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallaHu ‘anHu secara marfu’)
Imam Ibnu Qayyim al Jauziyah mengatakan, “Madu memiliki banyak khasiat. Madu dapat membersihkan kotoran yang terdapat pada usus, pembuluh darah, dapat menetralisir kelembaban tubuh, baik dengan cara dikonsumsi atau dioleskan, sangat bermanfaat untuk lanjut usia dan mereka memiliki keluhan pada dahak atau yang metabolismenya cenderung lembab dan dingin” (Metode Pengobatan Nabi ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam, hal. 42-43)

Kedua, habbatus sauda (jinten hitam).
Rasulullah ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya di dalam habbatus sauda’ (jinten hitam) terdapat penyembuh bagi segala macam penyakit kecuali kematian” (HR. al Bukhari no. 5688 dan Muslim no. 2215, ini lafazhnya Muslim, dari Abu Hurairah radhiyallaHu ‘anHu)
Jinten hitam atau al Habbah as Sauda ini dikenal juga sebagai Syuwainiz dalam bahasa Persia, disebut juga Kammun hitam atau Kammun India, disebut juga dengan biji al Barakah. Dari biji ini bisa dibuat minyak yang berkhasiat mengobati batuk, membantu pencernaan, menghilangkan masuk angin dan sejenisnya. Namun saat ini, biasanya jinten hitam ini dikonsumsi dalam bentuk pil.
Imam Ibnu Qayyim al Jauziyah berkata, “Jinten hitam memiliki banyak sekali khasiat. Arti sabda Nabi, ‘obat dari segala jenis penyakit’, seperti firman Allah, ‘Menghancurkan segala sesuatu dengan perintah Rabb-nya’, yakni segala sesuatu yang bisa hancur. Banyak lagi ungkapan-ungkapan sejenis. Jinten hitam memang berkkhasiat mengobati segala jenis penyakit dingin, bisa juga membantu kesembuhan berbagai penyakit panas karena faktor temporal” (Metode Pengobatan Nabi ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam, hal. 365)

Ketiga, air zam-zam
Dari Abu Dzar radhiyallaHu ‘anHu, Rasulullah ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam bersabda, “Air zam-zam itu penuh berkah. Ia makanan yang mengeyangkan (dan obat bagi penyakit)” (HR. Muslim IV/1922, yang terdapat di dalam kurung adalah menurut riwayat al Bazzar, al Baihaqi dan ath Thabari dan sanadnya shahih, lihat Majma’uz Zawaa-id III/286)
Imam Ibnu Qayyim rahimahullah menceritakan pengalamannya berkaitan dengan cara menyembuhkan penyakitnya dengan air zam-zam yang dikombinasikan dengan metode ruqyah dari al Qur’an ini,
“Pada suatu ketika aku pernah jatuh sakit, tetapi aku tidak menemukan seorang dokter atau obat penyembuh. Lalu aku berusaha mengobati dan menyembuhkan diriku dengan surat al Fatihah, maka aku melihat pengaruh yang sangat menakjubkan. Aku ambil segelas air zamzam dan membacakan padanya surat al Faatihah berkali-kali, lalu aku meminumnya hingga aku mendapatkan kesembuhan. Selanjutnya aku bersandar dengan cara tersebut dalam mengobati berbagai penyakit dan aku merasakan manfaat yang sangat besar. Kemudian aku beritahu kepada orang banyak yang mengeluhkan suatu penyakit dan banyak dari mereka yang sembuh dengan cepat” (Zaadul Ma’aad IV/178 dan al Jawaabul Kaafi hal. 23)

Keempat, minyak zaitun.
Allah Ta’ala berfirman,
“ … yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah Timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah Barat” (QS. An Nur : 35)
Dari Abu Hurairah radhiyallaHu ‘anHu, Rasulullah ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam bersabda, “Makanlah oleh kalian minyak (zaitun) dan poleskan dengannya, karena sesungguhnya minyak (zaitun) itu dari pohon yang diberkahi” (HR. Ahmad III/497, at Tirmidzi no. 1851 dan Ibnu Majah no. 3319, dishahihkan oleh Syaikh al Albani dalam Shahiih at Tirmidzi II/166)
Imam Ibnu Qayyim al Jauziyah mengatakan, “Minyak yang dihasilkan dari buah zaitun yang sudah masak adalah yang terbaik dan paling stabil.” (Metode Pengobatan Nabi ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam, hal. 387)
Beliau (Ibnu Qayyim al Jauziyah) juga menjelaskan (pada halaman yang sama) bahwa minyak zaitun berkhasiat mengatasi racun, melapangkan perut, dan memperkuat gusi. Daunnya berkhasiat menghadapi demam, kesemutan, koreng, mencegah keringat berlebih dan banyak lagi khasiat lainnya.
***





Sumber Bacaan:
Doa dan Wirid, Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Pustaka Imam Syafi’i, Cetakan Keenam, DzulHijjah 1426 H/Januari 2006 M.
Metode Pengobatan Nabi ShallallaHu ‘alaiHi wa Sallam, Imam Ibnu Qayyim al Jauziyah, Griya Ilmu, Jakarta, Cetakan Kedelapan, Muharram 1428 H/Januari 2007 M.
Ruqyah Mengobati Guna-guna dan Sihir, Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Pustaka Imam Syafi’i, Jakarta, Cetakan Kedua, Muharram 1426 H/Maret 2005 M.
Dari Sahabat, mudah-mudahan bermanfaat.
Catatan :
Semua jenis obat alami di atas, saat ini cukup mudah didapatkan di Indonesia (terutama di Jakarta) dan dijual di sebagian besar Toko-toko Buku Islam.

Jumat, 29 Juni 2012

AWAS! Dajjal Menyerang Rumah Anda!

Hidup di era kelam penuh fitnah ini sungguh tidak mudah. Dajjalnya sendiri belum kelihatan, namun jeratan sistemnya tetap tak dapat dianggap enteng. Setiap saat mesti waspada, setiap aspek kehidupan harus kita periksa ulang satu kali, dua kali bahkan berkali-kali untuk memastikan keamanannya dari jeratan sistem Dajjal.
Bapak, Ibu. Pernahkan anda berpikir bahwa kedatangan Dajjal sudah sedemikian dekat? Mungkin anda sudah berkali-kali mendengarkan ceramah yang memperingatkan fitnah Dajjal. Disebutkan dalam nash hadits tersebut:”....pagi hari seseorang masih beriman dan sore hari kafir.”. Begitulah ancaman riel saat ini.

Jika memikirkan dengan seksama apa maksud hadits tersebut, kita layak khawatir bahwa fitnah yang datang menyerang merupakan fitnah yang besar, atau fitnah yang sangat berbahaya. Riddah, atau murtad/Surut /atau mundur / atau berpaling dari kebenaran, bukan ancaman kecil atau ringan. Riddah akan memutuskan hubungan kita dengan segala kenikmatan yang dijanjikan Allah bagi orang-orang beriman di negeri Abadi.
 Darimana sajakah virus ”Riddah” atau sering disebut dengan virus ”MTS” (Murtad tanpa sadar) ? Jika Nabi Saw memperingatkan ummatnya dengan sedemikian keras akan bahaya ini, apakah itu berarti bahaya ini begitu tersebar sehingga orang beriman mudah sekali terkena bahaya ini? Jika begitu tersebar, tentunya kita harus mengenali dari mana saja sumber-sumber bahaya tersebut!
Kami ingin mengajak anda melihat ke dalam rumah anda sendiri, ke ruang keluarga anda. Ke tempat anda biasa bersantai bersama keluarga menikmati hiburan televisi maupun video. Lihatkah ke kotak penyimpanan keping-keping film tersebut, adakah film-film di bawah ini merupakan koleksi tontonan anak-anak anda:
- Lion King (kartun animasi), semua seri
- Chronicles of the Narnia (plus bukunya)
- Lord of the Rings (plus bukunya)
- Harry Potter (semua seri yang ada, plus bukunya)
- Mickey Mouse serial Play House dan lain-lain
- Toy Story
- Ratatouille
- Pocahontas
- Aladdin
- Brother Bear
- Monster Inc
Ahhh, banyak sekali, tak mungkin disebutkan semua.
Dapat dikatakan semua film produksi negeri Barat, baik untuk anak maupun remaja maupun dewasa, patut dicurigai mengandung unsur-unsur pemurtadan. Sekali lagi kami katakan: Hampir-hampir kami tak dapat mengingat mana film produksi (khususnya) negeri Barat yang tidak mengandung unsur-unsur pemurtadan atau minimal pelecehan terhadap nilai-nilai yang benar.
Sekarang mari kita coba lihat apa yang ada di film-film tadi. Harap diketahui bahwa apa yang kami tulis di sini hanyalah sekelumit dari segunung contoh yang dapat anda lihat dan cari sendiri di internet.
  • Mengajarkan berbagai bentuk kemusyrikan misal dengan memperkenalkan ritual-ritual para penyembah berhala.
Film-film kartun yang seolah ”innocence” (suci /tidak bersalah) semacam serial kartun-kartun Walt Disney sering menyisipkan hal semacam ini. Padahal cukup banyak film-film tersebut ditujukan untuk anak usia pra sekolah atau bahkan balita. Film Brother Bear yang diangkat ke layar lebar jelas-jelas mengajarkan reinkarnasi dan penyembahan terhadap roh. Sedangkan kartun dengan tokoh Miki Tikus dan Donal Bebek yang sudah dipasarkan sejak puluhan tahun yang lalu, secara samar sering memasukkan unsur-unsur ini. Bahkan konon Walt Disney adalah anggota gereja setan, dan bahwa taman hiburan Disneyland merupakan tempat mereka merekrut anggota-anggota muda dan tempat mereka melakukan ritual. Silahkan cari di internet, klik namanya dan anda akan mendapatkan banyak informasi dan bantahan-bantahannya sekaligus. Silahkan mengambil kesimpulan sendiri.
  • Menjungkir-balik-kan banyak nilai-nilai misalnya dengan berusaha menanamkan ide ”perdamaian dunia” yang semu.
Konsep “perdamaian dunia” yang mereka usung adalah dunia yang serba di-sama rata-kan, misalnya dalam balutan program “anti kekerasan” sampai-sampai ikan hiu (Bruce dalam Finding Nemo) mempunyi slogan “fish are friends, not food”. Atau Simba dalam Lion King dalam pelariannya ke hutan diajarkan makan daun-daunan dan ulat sebagai ganti daging. Bukankah sahabatnya di hutan adalah Pumba si babi hutan dan Timon si meerkat? Berbagai penjungkir-balikkan nilai merupakan jembatan untuk pemurtadan itu sendiri. Konsep ”perdamian dunia” merupakan konsep topeng mereka yang sebenarnya ingin menguasai dunia. Cerminannya dapat kita lihat di dunia politik global di mana mereka memerangi bangsa-bangsa bahkan menyerang negeri-negeri dengan berbagai alasan ”mulia” seperti: menghentikan kediktatoran, mencari senjata pemusnah massal, memerangi teroris dan lain-lain. Namun yang tampak oleh kita adalah pembantaian rakyat dan kampung-kampung yang tak berdaya.
  • Menyisipkan pornografi dan pornoaksi bahkan dengan cara yang sangat tak kentara.
Pornografi yang diperkenalkan kepada anak usiamumayyiz (7-10th-an), akan berefek buruk dalam diri anak. Pembahasan ini dapat diperjelas dari pembahasan seorang Psikolog , ibu Elly Risman, dalam berbagaiseminar parenting-nya tentang bahaya pornografi bagi anak. Perkenalan terhadap masalah sex, jika tidak langsung dibarengi dengan penanaman nilai benar salahnya, akan memberikan jejak berdampak buruk di otak anak. Dalam film-film kartun ternyata sudah sering ditemukan gambar porno yang cukup vulgar namun sekelebat/ atau hanya satu picture (namun jika film tersebut di freeze akan tampak jelas). Meskipun sekilas, gambar tersebut tetap masuk ke otak dan tersimpan di sana.
Selain dalam bentuk gambar, pornografi dan porno aksi juga dimasukkan dalam alur cerita yng tersamar. Misalnya memasukkan sosok dewa/peri simbol sex ”Pan”. Ya, namanya P A N, mengingatkan kita tentang nama panggung seorang musisi lokal yang disidang karena penyebaran video porno berbau ”orgy”. Ini dapat dilihat dalam serial Narnia, ketika Tumnus (sosok Pan yang disamarkan) mengajak tokoh gadis kecil ke gubuknya. Panadalah simbol pedofili yang sudah dikenal luas dalam dunia para penyihir modern dan diambil dari mitos-mitos lama dalam ritual pemujaan setan.
Pornografi dan pornoaksi merupakan jalan paling efisien untuk memalingkan manusia dari dzikrullah, bahkan ketika sudah ter-obesesi, maka jiwa yang terbelenggu nafsu akan semakin menyimpang dari jalan Allah. Dan sebagaimana yang dapat kita simpulkan dari ulasan di bagian ini, ternyata hisbusysyaithan bahkan akan membawa manusia kepada penyembahan terhadap setan itu sendiri.
  • Menyisipkan nilai homosexualitas, baik simbolis maupun terang-terangan.
Masalah Homosexualitas alias liwath sebenarnya masuk dalam urusan nafsu sex, namun karena penyimpangan ini sangat dimurkai Allah dan kini bahkan semakin didukung oleh kelompok-kelompok pendukung hisbusysyaithan,maka kita perlu memberi perhatian yang cukup tentang ini. Film Teletubbies yang diluncurkan BBC beberapa tahun yang lalu disinyalir sarat kampanye kaum liwath. Tokoh-tokoh seperti alien yang diberi simbol-simbol tersembunyi lewat kostumnya, diluncurkan sebagai idola balita. Tokoh-tokoh ini juga memainkan peran transgender dalam tingkah lakunya. Selain itu serial ini juga mempromosikan kemusyrikan dengan sangat tersamar lewat kehadiran matahari bermuka bayi. Ini mengacu pada konsep modern tentang orang-orang yang memuja diri sendiri dengan menciptakan ”the god that looks like me”.
  • Mempromosikan aktivitas mengkhayal secara sangat berlebihan sehingga tak lagi diketahui batas-batas dengan dunia nyata, bahkan sudah meninggalkannya sama sekali.
Mengkhayal sebenarnya bagian dari aktifitas kekanak-kanakan yang dalam batas-batas tertentu memang dibutuhkan untuk perkembangannya. Mengkhayal dapat memvisualkan sesuatu yang belum pernah dijumpai seseorang. Namun jika dilakukan berlebihan, mengkhayal akan menyesatkan manusia dari dunia nyata tempat ia hidup. Dunia khayal juga dikhawatirkan dapat dimanipulasi oleh jin dan setan yang berkeliaran kadang di dalam diri manusia, sehingga seolah si manusia akan ”diajak” ke dunia mereka. Padahal itu mustahil.
Dimensi manusia dan jin berbeda, sehingga mustahil manusia dapat ikut ke dunia ghaib hanya oleh ajakan jin. Hanya Allah yang Mampu menguba-ubah dimensi makhluk-makhlukNya sehingga mampu berada di wilayah yang berbeda. Yang mampu dilakukan jin dan setan hanyalah memasukkan khayalan tentang dunia aneh yang mereka ciptakan dalam pikiran manusia (halusinasi). 
 Kembali ke masalah eksploitasi khayalan dalam film-film dan hiburan untuk anak. Dengan memanfaatkan dunia khayal, para musuh Islam dengan leluasa memasukkan segala unsur mitos dan khurafat yang pada hakekatnya tidak ada sama sekali. Kalau kita perhatikan, unsur-unsur yang dimasukkan bukan hanya yang bernuansa ceria sesuai peruntukkan anak, namun juga yang menyeramkan, bahkan yang sadis (dalam bentuk kartun). Sejak puluhan tahun yang lalu dunia khayalan ini sudah digunakan, misalnya film Alice in the wonderland, kemudianWizard Oz dan lain-lain. Promosi dunia khayal yang direlease akhir-akhir ini misalnya Narnia, Lord of the rings dan banyak-banyak lagi.
  • Mengajarkan sihir baik dalam bentuk-bentuk aslinya maupun dalam aktivitas sehari-hari dunia kanak-kanak.
Sihir adalah perbuatan jahat yang bahkan dapat mengeluarkan seseorang dari keimanan. Dengan potensi bahaya yang sebesar itu, sudah selayaknya dunia sihir dijauhi oleh orang beriman. Ketika anak-anak kita disuguhi tontonan yang membolehkan sihir, menganggapnya wajar, bahkan mempromosikannya, maka apakah kita akan heran ketika mereka tumbuh menjadi anak menyimpang, pembangkang terhadap Allah, gemar menggunakan kekuatan-kekuatan curang untuk mencapai tujuan dan tidak ragu-ragu mencelakakan orang lain? Ternyata dunia hiburan anak sarat dengan promosi sihir baik pada film-film untuk balita sampai remaja dan dewasa. Jenis filmnya juga beragam, film kartun, animasi, film biasa, serial televisi, games bahkan film iklan.
Seolah ada perintah serentak untuk mempromosikan aktifitas sihir secara sangat massif. Jika kita ke pasar-pasar, maka diantara mainanan anak-anak ada mainan tongkat sihir, topi nenek penyihir dan benda-benda yang mewakili dunia itu, meskipun hanya mainan. Proses pembiasaan terhadap dunia sihir merupakan jalan yang sempurna untuk mempersiapkan kedatangan Dajjal si tukang sihir.
Mungkin sebenarnya masih banyak hal yang perlu dibahas dalam kaitan bahaya-bahaya hiburan merusak ini. Namun yang terlebih penting di sini adalah bangkitnya kesadaran akan nyatanya bahaya yang sudah masuk ke dalam rumah-rumah kita. Sebagaimana hadits Nabi SAW berikut:
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سِتٌّ مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ ... وَفِتْنَةٌ يَدْخُلُ حَرْبُهَا بَيْتَ كُلِّ مُسْلِمٍ
Rasulullah صلى الله عليه و سلم bersabda: "Enam tanda-tanda kiamat: ...dan muncul fitnah yang serangannya masuk ke rumah setiap orang muslim..." (AHMAD - 20988)

Musuh dalam Selimut

 
Penulis: Ummu ‘Affan dan Ummu Abdirrahman

Globalisasi membuat dunia seakan tanpa batas. Salah satu ‘hasil’-nya, tayangan-tayangan televisi mengalir deras mewarnai kehidupan sebagian besar rumah tangga muslim tanpa terbendung. Ini jelas membawa implikasi serius. 

Tanpa disadari, kerusakan akhlak telah terjadi ancaman di depan mata.
Kususun tulisan yang sederhana ini, menghimpun akibat buruk media televisi dan media audiovisual lainnya.

Yang pertama, melalui layar televisi dan media sejenis, seseorang akan memandang wanita, padahal hal ini diharamkan, sama saja apakah memandang kepada diri wanita tersebut atau sekedar gambarnya. Firman Allah –Subhanahu wa Ta’ala- :
“Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, hendaknya mereka menundukkan pandangan-pandangan mereka.” (An-Nur: 30)

Apabila memandang wajah wanita tidak diperbolehkan, bagaimana pula dengan orang yang melihat rambut wanita, terkadang dada bahkan seluruh tubuhnya, seakan-akan wanita tersebut hewan yang berjalan diatas bumi. Semua itu, biasanya menimbulkan keinginan atau fantasi untuk melakukan hal-hal yang Allah haramkan kaitannya dengan hasrat seksual.

Demikian pula seorang wanita akan memandang laki-laki, sementara seorang wanita berdosa apabila memandang laki-laki. Allah –Suhanahu wa Ta’ala- berfirman:
“Dan katakanlah kepada wanita yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangan-pandangan mereka.” (An-Nur: 31)

Yang kedua, media ini menayangkan sisi buruk kehidupan masyarakat Barat serta visualisasi tentang gaya hidup musuh-musuh Islam yang acap ditiru oleh kaum muslimin.
Padahal Rasulullah –shalallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:
“Barangsiapa ,menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk kaum tersebut.” (HR. Abu Dawud dan Ahmad, dihasankan oleh Ibnu Taimiyyah, Ibnu Hajar, dan Asy-Syaikh Al-Albani sebagaimana dalam Jilbabul Mar’ah Al-Muslimah, hal 203-204, dan juga oleh Asy-Syaikh Muqbil)

Yang ketiga, menonton televisi berarti telah menghabiskan waktu untuk kegiatan yang tidak ada manfaatnya, sementara Rasulullah –shalallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:
“Dua nikmat yang sebagian besar manusia terlena karenanya, kesehatan dan waktu luang.” (Shahih, HR. Al-Bukhari)

Yang keempat, shalat pun terabaikan dari waktunya. Terkadang berkumandang panggilan shalat ketika sebuah acara TV berlangsung, namun ia tidak menyambutnya hingga tuntasnya acara. Atau ia pergi menunaikannya, namun hatinya tersibukkan oleh keinginan untuk kembali mengikuti kelanjutan tayangannya itu, sehingga menghilangkan kekhusyukan shalatnya. Allah –Subhanahu wa Ta’ala- berfirman:
” Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang salat, yaitu yang lalai dari salatnya.” (Al-Ma’un: 4-5)
“Sesungguhnya salat itu adalah ketetapan yang telah ditentukan waktunya bagi kaum yang beriman.” (An-Nisa: 103)

Yang kelima, anak-anak terdidik oleh keyakinan-keyakinan yang merusak melalui film-film kartun. Padahal cukup bagimu hukum haramnya gambar hewan dan mahluk-mahluk yang bernyawa, yang Rasulullah –shalallahu ‘alaihi wa sallam- telah memperingatkannya. Beliau bersabda:
“Sesungguhnya pembuat gambar-gambar ini mereka akan diadzab pada hari kiamat dan dikatakan kepada mereka: ‘Hidupkanlah ciptaanmu ini’.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Apa yang akan kita lihat dalam diri anak yang belajar dari film kartun? Bertakwalah pada Allah, wahai ayah bunda! Isilah waktu anak-anak kita dengan kesibukan menghapan Al-Quran maupun Sunnah Rasul-Nya –shalallahu ‘alaihi wa sallam-, karena kita akan ditanya tentang mereka pada hari kiamat nanti. Allah –Subhanahu wa Ta’ala- berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; di dalamnya terdapat malaikat-malaikat yang keras lagi kasar yang tidak pernah memaksiati Allah dalam apa yang diperintahkan pada mereka dan mereka melaksanakan apa yang diperintahkan pada mereka.” (At-Tahrim: 6)

Yang keenam, ketika menyaksikan televisi tentu juga akan mendengar nyanyian yang telah diharamkan oleh nash Al-Quran dan As Sunnah serta kesepakatan salafush shalih, Allah –Subhanahu wa Ta’ala- berfirman:
“Dan ada sebagian manusia yang membeli perkataan yang sia-sia untuk menyesatkan manusia dari jalan Allah tanpa ilmu dan ia menjadikannya sebagai permainan.” (Luqman: 6)
Nabi –shalallahu ‘alaihi wa sallam- pun bersabda:
“Sungguh akan ada dari kalangan umatku suatu kaum yang menghalalkan zina dan sutra (bagi laki-laki) serta khamr dan nyanyian.” (HR. Al-Bukhari secara mu’allaq, dan dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no.91)

Yang ketujuh, tak jarang terjadi pelecehan terhadap sejarah hidup Nabi –shalallahu ‘alaihi wa sallam- dan para shahabat melaui sandiwara atau film yang didalamnya berisi sesuatu yang tidak benar tentang beliau –shalallahu ‘alaihi wa sallam- maupun para shahabat. Ini termasuk kedustaan atas Nabi –shalallahu ‘alaihi wa sallam- Beliau bersabda:
“Barangsiapa yang membuat kedustaan atasku dengan sengaja maka hendaknya ia menyiapkan tempat duduknya di neraka.” (Shahih, HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Yang kedelapan, televisipun ikut menyebarkan perkara bid’ah, padahal Rasulullah –shalallahu ‘alaihi wa sallam- memberikan ancaman:
“Dan setiap bid’ah adalah sesat.” (HR. Ahmad dan yang lainnya)
“Barangsiapa mengada-adakan sesuatu didalaam agama kami ini yang bukan darinya maka tertolak”.: (Shahih, H.R. Al-Bukhari dan Muslim)

Yang kesembilan, televisi menyebarkan berita, baik yang benar maupun yang tidak benar kepada pemirsanya. Rasulullah –shalallahu ‘alaihi wa sallam- telah memperingatkan kita dari menukilkan setiap berita atau setiap perkara yang kita dengar:
“Cukuplah seorang dikatakan pendusta bila ia menyampaikan setiap apa yang ia dengar.” (Shahih, HR. Muslim)

Yang kesepuluh, setelah pemilik televisi meninggal dunia ia mewarisi kemaksiatan bagi anak-anaknya, sementara Rasulullah –shalallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:
“Barangsiapa membuat suatu sunnah yang jelek di dalam Islam maka dia menanggung dosanya dan dosa orang-orang yang mengikutinya setelahnya tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun.” (Shahih, HR. Muslim)

Yang kesebelas, setelah Isya’ (prime time) di televisi selalu ditayangkan berbagai acara ‘menarik’. Demikian terus hingga tengah malam, hingga manusia tersibukkan dari berdzikir kepada Allah, padahal setiap sepertiga malam yang akhir Allah turun ke langit dunia dan berfirman:
“Siapakah yang berdoa kepada-Ku, hingga Aku mengabulkannya? Siapakah yang meminta pada-Ku yang Aku akan memberinya? Siapakah yang meminta ampunan-Ku hingga Aku akan mengampuninya? ” (Shahih, HR. Al Bukhari dan Muslim)
Rasulullah –shalallahu ‘alaihi wa sallam- melarang berbincang-bincang kosong setelah Isya’. Lalu bagaimana halnya orang yang begadang dalam keadaan maksiat?

Kedua belas, seorang yang terbiasa menikmati televisi berarti menenggelamkan dirinya dalam kemaksiatan, hingga dirinya tidak lagi merasa tengah bermaksiat. Ibarat ungkapan, terlalu banyak sentuhan akan menghilangkan kepekaan.
Rasulullah –shalallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:
“Fitnah itu terbentang dalam hati sebagaimana tikar selapis demi selapis. Hati manapun yang menyambutnya, maka fitnah itu akan meninggalkan satu noda hitam, sedangkan hati itu ada dua, hati yang putih seperti batu karang yang tidak akan berpengaruh padanya satu fitnah pun selama masih ada langit dan bumi, dan yang lain hati yang hitam, yang tidak mengenal baik dan tidak mengingkari perkara yang mungkar, ia semata-mata mengikuti hawa nafsunya.” (Shahih, HR. Muslim)

Ketiga belas, seringkali televisi menayangkan berita kecanggihan persenjataan kaum kuffar, atau berita membesar-besarkan kekuatan Amerika, Rusia atau negara-negara kafir lainnya. Ini menyebarkan kegelisahan dan acap membuat kaum muslim takut terhadap musuh-musuhnya dan melupakan kekuasaan Allah serta keperkasaan- Nya. Yang demikian ini adalah salah satu siasat musuh-musuh Islam –semoga Allah menghancurkan mereka-. Allah –Subhanahu wa Ta’ala- berfirman:
“Orang-orang musyrik itu tidak menjaga hubungan kekerabatan dengan orang-orang mukmin dan tidak pula menunaikan perjanjian, dan mereka itulah yang melampaui batas.” (At-Taubah: 10)
“Apakah kalian takut kepada mereka, sementara Allah-lah yang lebih berhak untuk kalian takuti jika kalian benar-benar orang yang beriman.” (At-Taubah: 13)

Keempat belas, berbagai tayangan televisi secara tidak langsung mengajarkan cara-cara mencuri, merampok, dan tindak kriminal lainnya. Bahkan juga ditayangkan cara pembuatan khamr. Demikian seterusnya.. .

Kelima belas, ingatlah sabda Rasulullah –shalallahu ‘alaihi wa sallam-
“Tiga golongan yang tidak dilihat Allah pada hari kiamat: orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya, wanita yang menyerupai laki-laki, dan dayyuts.” (HR. Ahmad dan An-Nasai, dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al Albani dalam Shahihul Jami’ no. 3071)
Dalam lafadz Ahmad:
“Tiga golongan yang Allah haramkan surga atas mereka: pecandu minuman keras, orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya, dan dayyuts orang yang membiarkan kemaksiatan dalam keluarganya. “

Dan dari hadits di atas, kita ketahui bahwa dayyuts adalah orang yang ridha keluarganya berbuat kemungkaran di dalam rumahnya. Maka kita pun hendaknya menyadari bahwa seluruh bahaya di atas adalah kemungkaran yang terjadi di dalam rumah kita. Apakah kita rela jika kelak Allah tidak melihat kepada kita pada hari kiamat nanti? Kita memohon pada Allah ampunan dan keselamatan, serta memohon agar Allah memberi taufiq kepada kita untuk menaati-Nya.

(Diterjemahkan secara ringkas dan dengan sedikit perubahan dari ‘Isyruna Mafsadah min Mafasid At-Tilifza karya Khalid Al-Ghurbani. Tulisan ini pernah diperlihatkan oleh penulis kepada Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i –rahimahullah- dan beliau menganjurkan agar disebarkan)
Asy Syariah Vol 1/No. 04/Desember 2003/ Syawwal 1424 H

Kamis, 28 Juni 2012

Maksiat Membuat Hati Berkarat

Begitu banyak maksiat dilakukan oleh manusia. Para wanita pamer aurat tanpa mau berusaha untuk mengenakan jilbab dan menutupnya dengan sempurna. Kewajiban shalat wajib seringkali ditinggalkan tanpa pernah ada rasa takut. Padahal, dosa meninggalkannya lebih besar dari dosa zina.

Seakan, pelaku maksiat itu hatinya tak pernah kunjung sadar. Siang malam, tidak bosan-bosannya maksiat terus diterjang. Pantas saja, sebab pengaruh maksiat pada hati sungguh amat luar biasa. Bahkan bisa membuat berkarat, sehingga memadamkan cahaya hati.
Allah berfirman,
كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
“Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka.” (Al- Muthaffifin: 14)

Makna ayat ini diterangkan dalam hadits berikut: dari Abu Hurairah, dari Rasulullah –shollallohu ‘alaihi wa sallam–, beliau bersabda, “Seorang hamba apabila melakukan suatu kesalahan, maka dititikkan dalam hatinya sebuah titik hitam. Apabila ia meninggalkannya dan meminta ampun serta bertobat, hatinya dibersihkan. Apabila ia kembali (berbuat maksiat), maka ditambahkan titik hitam tersebut hingga menutupi hatinya. Itulah yang diistilahkan “ar raan” yang Allah sebutkan dalam firman-Nya (yang artinya), ‘Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka’.” (Riwayat at-Tirmidzi no. 3334, Ibnu Majah no. 4244, Ibnu Hibban (7/27) dan Ahmad (2/297). Dihasankan oleh Syekh al-Albani –rohimahulloh–)

Penulis “al-Jalalain” –rohimahulloh– menafsirkan, “Hati mereka tertutupi oleh ‘ar-raan’ seperti karat karena maksiat yang mereka perbuat.” (Tafsir Al Jalalain, al-Mahalli dan as-Suyuthi, Mawqi’ at-Tafasir, 12/360)
Ibnu Qayyim al-Jauziyah –rohimahulloh– mengatakan, “Jika dosa semakin bertambah, maka itu akan menutupi hati pemiliknya. Sebagaimana sebagian salaf mengatakan mengenai surat al-Muthaffifin ayat 14, “Yang dimaksud adalah dosa yang menumpuk di atas dosa.”

Begitulah di antara dampak maksiat bagi hati. Setiap maksiat membuat hati pelakunya tertutup noda hitam. Jika hati itu tertutup, maka akan sulit menerima kebenaran. Ibnul Qayyim –rohimahulloh– berkata, “Jika hati sudah semakin gelap, maka amat sulit untuk mengenal petunjuk kebenaran.”

Sudah saatnya kita memperbanyak tobat dan istighfar, supaya gelapnya hati akan hilang dan membuat hati semakin bercahaya, sehingga kebenaran dan petunjuk akan mudah diterima.(***)
Majalah Keluarga Islam, Nikah Sakinah Vol. 9 No. 9

Rabu, 27 Juni 2012

MENANGIS KARENA TAKUT DAN RINDU KEPADA ALLAH

Bagi kaum lelaki, menangis merupakan aib yang tidak dibenarkan. Kapan pun dan di mana pun. Karena, walau  bagaimana, kelelakian adalah merupakan simbol ketangguhan dan keperkasaan. Merupakan suatu tindakan cengeng jika tangisan menghiasi mata sang lelaki. Tindakan yang biasanya lumrah bagi wanita, sebagai ungkapan perasaannya, baik karena kesal atau karena rindu terhadap sang kekasih (suami) atau pun lainnya. Di hadapan Allah swt, tidak ada yang perkasa. Tidak ada yang gagah berani dan tidak ada pula yang hebat. Dia-lah yang memiliki segalanya. Sehingga tangisan di hadapan-Nya, baik karena takut maupun rindu, merupakan simbol kehambaan yang sudah seharusnya ditunjukkan oleh siapa pun. Sikap inilah yang ditunjukkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. sebagai teladan sepanjang zaman.

Dari Ibnu Mas’ud radiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Suatu ketika, Rasulullah  Shallallahu ‘Alaihi Wasallam meminta Aku agar membacakan al-Qur'an kepadanya. (Dengan perasaan malu), Ibnu Mas'ud mengungkapkan, "Bagaimana (mungkin) Aku membacakan al-Qur'an kepadamu wahai Rasulullah !? padahal al-Qur'an ini diturunkan kepadamu ". "Saya ingin mendengarnya dari orang lain" ungkap beliau. Maka, Ibnu Mas'ud pun memulai bacaannya dari surah an-Nisaa'. Ketika sampai pada ayat 41 yang berbunyi, "Maka bagaimanakah (halnya orang kafir nanti), apabila kami mendatangkan seseorang saksi (rasul) dari tiap-tiap umat dan kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (umatmu)..". Rasulullah pun dengan lembut mengatakan, "Cukup". Ketika saya (Ibnu Mas'ud) menoleh kepadanya, ternyata air mata Rasulullah  Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sedang bercucuran. (HR.Bukhari dan Muslim).
Kalangan sahabat sebagai siswa dalam madrasah Rasulullah,  juga mewarisi sikap demikian. Mereka adalah pribadi-pribadi yang cengeng di hadapan Allah swt di malam hari, tetapi perkasa bak harimau di siang hari di hadapan musuh dan di medang pertempuran.
Dari Anas radiyallahu ‘anhu, ia melaporkan, “Suatu ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam naik mimbar. Ia kemudian berkhutbah seperti biasanya. Tetapi, khutbah ketika itu tidak sama dengan khutbah Rasulullah sebelumnya. Nuansanya berbeda. Beliau mengatakan, "Jika kalian mengetahui apa yang aku ketahui maka pasti kalian sedikit tertawa dan banyak menangis". Sahabat-sahabat beliau pun menutupi wajah mereka sambil terdengar suara seperti kerumunan lebah (karena suara tangisan mereka
(HR. Bukhari dan Muslim).
Ummat sebelum Islam (ahli kitab), yang beriman kepada Allah swt., juga demikian keadannya. Keimananlah yang membuat mata mereka basah oleh air mata kerinduan terhadap rahmat-Nya. Sebagaimana mereka menitikkan air mata karena takut terhadap siksaan-Nya. Kondisi mereka dideskripsikan oleh Allah swt dalam firman-Nya, 
"Sesungguhnya orang-orang yang diberi pengetahuan sebelumnya apabila Al Quran dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur atas muka mereka sambil bersujud, Dan mereka berkata: "Maha Suci Tuhan kami, Sesungguhnya janji Tuhan kami pasti dipenuh. Mereka tersungkur dengan muka mereka sambil menangis sehingga Allah pun senantiasa menambah ke-khusyu-an (dalam hati mereka)". (QS. al-Israa' : 107-109).

KEUTAMAAN MENANGIS KARENA ALLAH SWT.

Karena tangisan merupakan simbol keimanan bagi orang mukmin, maka keutamaan yang di milikinya sangat mengesankan. Sebut saja misalnya sebuah riwayat yang dirilis oleh Abu Hurairah r.a. Ia mengabarkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam  pernah menginformasikan
"Tidaklah akan masuk nereka seseorang yang menangis karena takut kepada Allah, sehingga air susu kembali ke asalnya (tempat keluarnya). Debu peperangan di jalan Allah swt tidak akan menyatu selamanya dengan asap api neraka". (HR.Tirmidzi).
Bahkan orang yang menangis ketika mengingat Allah dalam keadaan sendirian dengan hati yang terpaut dengan Allah swt. termasuk dalam kategori orang-orang yang mendapatkan naungan di akhirat nanti. Hari di mana naungan tidak akan diperoleh kecuali mereka yang memiliki kedekatan dengan Allah swt. Abu Hurairah melaporkan, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam  pernah bersabda,

"Ada tujuh golongan yang diberikan tempat bernaung pada hari (kiamat). Hari di mana manusia tidak mempunyai tempat bernaung kecuali naungan-Nya : Pemimpin yang adil, pemuda yang tumbuh dalam nuansa ibadah kepada Allah swt., orang yang tertambat hatinya dengan masjid, dua orang yang saling mencintai karena Allah. Mereka berdua berkumpul dan berpisah karena cinta karena Allah. Seseorang yang diajak (berbuat mesum) oleh seorang wanita bangShallallahu ‘Alaihi Wasallam an dan berparas cantik, lalu ia jawab, "Saya takut kepada Allah", seseseorang yang bersedekah dengancara sembunyi-sembunyi sehingga tangan kirinya tidak menegetahui apa yang dilakukan tangan kananya (ketika bersedakah), dan orang yang mengingat Allah kala sendirian (dan dengan penuh ke-khusyu'an) , lalu matanya basah (karena takut dan rindu kepada Allah swt.)".  (HR.Muttafaq Alaihi).
Demikianlah tangisan yang di landasi dengan iman yang menghasilkan rasa rindu (raja') untuk bertemu dengan Sang Kekasih. Rasa yang juga dilapisi pula oleh  rasa takut (khauf) kepada-Nya karena adanya neraka yang merupakan simbol kemarahan-Nya. Kedua faktor inilah yang berada dibalik tangisan orang-orang mukmin. Walaupun sisi kerinduan yang paling mendominasi dirinya saat-saat air mata membasahi wajahnya.

RAJA' (HARAP) DAN KHAUF (TAKUT)  YANG MELAHIRKAN TANGISAN.

Raja' adalah ketenangan hati dan kedamaian jiwa karena mengharapkan sesuatu yang dicintai. Jika faktor-faktor pendukung raja' ini sempurna maka ia akan menghasilkan tangisan yang mewujudkan perasaan tenang dan perasaan tentram. Namun jika perangkat-perangkatnya tidak padu dan tidak apik, ia akan menghasilkan pribadi yang terpedaya. Pribadi yang berharap dengan harapan yang berlebihan kepada Allah swt. sehingga lupa bahwa di samping rahmat Allah yang ia harapkan, juga di sana ada kemurkaan-Nya yang harus dipertimbangkan dan dihindari. Untuk peribadi demikian, tangisan tidak bisa hadir pada pelupuk matanya. Perasaannya yang diselimuti oleh harapan akan rahmat Allah membuatnya terlena. Sikap yang merefleksikan ketidakkeritisan terhadap kualitas ibadah yang ia lakukan terhadap Zat yang diharapkan rahmat-Nya (Allah Swt.).
Jika sikap  kritis ini tidak hadir pada diri seseorang ketika melakukan amalan, maka kualitas ibadahnya tidak lagi maksimal. Sikap kritis ini sering dikenal dengan istilah muraqabah. Yaitu sebuah aktifitas yang mementingkan kritik ketika dan setelah melakukan amalan. Apakah sudah layak dan pantas untuk dimajukan, dan bagiamana seharusnya pada pase selanjutnya?. Sikap inilah yang disebut oleh Rasulullah sebagai sikap cerdas seorang mukmin dalam beribadah. Dalam sebuah sabdanya, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam . menegaskan,
"Orang yang cerdas adalah siapa yang selalu mengkeritisi dirinya dan beramal (dengan malan yang baik) sebagai persiapan untuk (hidup) setelah mati nanti (akhirat)." (HR. Tirmidzi)
Jika ditelusuri lebih mendalam, muraqabah ini merupakan implementasi dari sikap khauf (rasa takut) seseorang jika amalannya belum pantas dan layak untuk dipersembahkan. Baik ketidakpantasan itu dari segi kualitas maupun kuantitas. Inilah yang sering kita dengar dari para ahli suluk bahwa dalam rangka melakukan spiritual journey  menuju Allah, hendaknya seseorang terbang dengan dua sayap, sayap al-khauf dan sayap al-raja'. Hanya saja, pada saat tertentu, seperti sakit misalnya, sisi al-raja' seharusnya lebih ditegaskan, karena nuansanya sedang berada pada level al-khauf. Demikian pula ketika sedang segar bugar, dengan nuansa al-raja' yang lebih mendominasi, sisi al-khauf perlu dihadirkan dan dipertegas keberadaanya.
Perangkat-perangkat al-raja' yang di maksud di sini, yang dengannya seseorang tidak terpedaya adalah :
1.      Mencintai apa yang diharapkan (mahabbah).
2.      Merasa khawatir jika kehilangan apa yang diharapkan (khauf).
3.      Selalu berusaha untuk mendapatkannya (.raja’)
Setiap orang yang berharap pasti merasa takut dan cemas jika tidak merasa yakin bisa mendapatkan apa yang diharapkannya, dan bila orang yang sedang berjalan merasa khawatir ketinggalan pasti ia berusaha untuk berlari.
Raja' adalan penantian terhadap sesuatu yang disenangi, setelah memenuhi semua persyaratan yang butuhkan berdasarkan pada kemampuan seseorang. Raja' di sini dikiaskan, misalnya, dengan penanaman tumbuhan. Semua orang yang akan menanam pasti akan mencari lahan yang subur sebagai tempat persemaian. Di sanalah benih dengan kualitas tinggi itu disemai. Selanjutnya ia melakukan perawatan yang baik dan terus menerus sesuai dengan kebutuhan dan tuntunan. Menyianginya dan menjaganya dari berbagai serangan hama dan berbagai penyakit. Setelah itu, ia menunggu rahmat Allah swt. hingga masa panen tiba. Inilah gambaran ideal dari sebuah raja'. Dan raja' demikianlah yang dikehendaki setelah semuanya dilakukan dan diuapayakan.
Untuk lebih kongkritnya, dunia adalah sebuah ladang, sedang hasilnya akan dipanen pada hari akhirat kelak. Sementara hati itu layaknya bumi. Iman laksana benih, ketaatan ibarat pengolahan tanah dan usaha untuk menyianginya serta upaya untuk mengalirkan air kepadanya. Sedang hati yang terpesona oleh dunia dan terbuai olehnya adalah seperti tanah gersang yang tidak bisa menumbuhkan benih. Sementara pada hari kiamat adalah waktu panen. Dan seseorang tidak akan memanen kecuali apa yang pernah disemainya. Benih tidak akan tumbuh kecuali benih iman. Iman sangat jarang memberi manfaat bila hatinya busuk dan akhlaknya buruk. Demikianlah gambaran yang dilukiskan oleh Ahmad Farid dalam bukunya, 16 Langkah Menuju Puncak Kedamaian Jiwa.

KHAUF (RASA TAKUT) SEBAGAI PENYEIMBANG.

Jika raja' merupakan piranti kasih sayang yang dibukakan secara luas oleh Allah bagi hamba-Nya, maka khauf merupakan cambuk yang dapat memicu mereka untuk mendekat kepada-Nya. Memang benar, ujung dari raja' dan khauf adalah kedekakatan dengan Allah. Karena memang untuk itulah jin dan manusia  diadakan di pentas kehidupan ini. Khauf merupakan kondisi seseorang yang merasakan sakit dan terbakarnya hati akibat dari rasa takut akan terjadinya sesuatu yang tidak menyenagkan di kemudian hari. Khauf-lah yang berperan dan mengerem nafsu manusia dari keserakahan, angkara murka dan dosa. Dia pula yang mengikat manusia untuk menunjukkan ketaatan kepada Allah swt.
Khauf sesungguhnya merupakan hasil dari pengenalan terhadap Allah swt (ma'rifatullah). Pengenalan yang dihasilkan berdasarkan pada penelusuran terhadap nama-nama, sifat-sifat dan perbuatan-perbuatan Allah swt. Ma'rifatullah demikian akan merefleksiakan rasa takut sekaligus mewujudkan koreksi diri seorang muslim akan hak-hak Yang Maha Agung, yang selama ini diabaikan atau belum termaksimalkan.  Dengan kata lain, dengan mengenal Allah secara baik maka secara otomatis kekerdilan manusia akan tampak. Baik kekerdilan itu sebagai mahluk lemah maupun kekerdilan amaliah dan kepicikan tingkat kepatuhan terhadap Sang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang. Dengan demikian, orang yang paling takut kepada Allah swt adalah orang yang paling mengenal dirinya setelah mengenal Tuhannya sendiri. Maka tidaklah mengherankan jika Rasulullah sebagai penghulu para nabi menegaskan, sebagaimana dirilis oleh Imam Bukhari dalam kitab Shahih-nya, "Demi Allah, Sungguh aku adalah orang yang paling tahu tentang Allah dan paling takut kepada-Nya". (HR Bukhari).
Jika kita mengetahui bahwa para ulama merupakan pewaris nabi, maka tentunya pula kita menyadari bahwa ulama pulalah yang memiliki tingkat pengenalan yang baik tentang Allah swt. Dengan pengenalan demikian mereka kemudian menjadi mahluk yang paling takut kepada-Nya. Asumsi ini ditegaskan oleh firman Allah yang berbunyi,
" Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama[1258]. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun".(QS Fathir : 28).
Jika demikian, orang yang takut sesungguhnya bukanlah mereka yang mengusap air matanya dan tidak pula yang sesegukan akibat tangisan yang menghiasi wajahnya. Tetapi takut yang sebenarnya adalah mereka yang meninggalkan hal-hal yang dikhawatirkan dapat menjerumuskannya ke dalam kubangan siksaan.
Abu al-Qasim al-Hakim berpesan, "Siapa yang takut dengan sesuatu, dia pasti akan menghindari darinya. Dan siapa yang takut kepada Allah, dia akan berlari menghindari siksa-Nya dan berusaha mendekatkan diri kepada-Nya". As-Syibli berkata, "Setiap kali aku takut kepada kepada Allah, pasti Aku melihat pintu hikmah dan pelajaran yang berharga". Yahya bin Muadz mengatakan, "Setiap orang mukmin yang mengerjakan kemaksiatn, pasti ia akam mensikapinya dengan dua cara : Takut terhadap siksaan dan berharap adanya ampunan".
Khauf akan membakar syahwat dan kenginan-keinginan terhadap perkara yang haram. Sehingga kemaksiatan yang ia cintai berubah menjadi sesuatu yang paling ia benci. Sebagaimana madu dibenci oleh orang yang sangat menyenaginya manakala ia mengetahui bahwa terdapat racun padanya. Syahwat akan terbakar oleh rasa khauf (takut). Bagian-bagian tubuhnya mempnyai tatakrama dan adab yang dipatuhi. Hatinya menjadi lahan subur bagi tumbuhnya ke-khusyu'an, rasa hina dan rendah diri di hadapan Allah swt. Dia akan ditinggalkan oleh kesombongan, dendam, iri dan dengki. Bahkan perhatiannya semakin tajam, karena pengaruh rasa khauf-nya dan memeperhatikan terhadap akibat dan sanksi yang ia peroleh jika melanggar aturan. Kini perasaan selalu terawasi yang dikenal dengan sebutan muraqabah menjadi aktifitas baru yang dibarengi dengan usaha sungguh-sungguh yang disebut mujahadah untuk membersihkan jiwa dan lahiriahnya dari dominasi syahwat dan prilaku setan.
Demikan besar urgensi khauf, sehingga sikap ini menghasilkan petunjuk, rahmat, ilmu dan keridha'an Allah swt. Allah berfirman,
"Dan dalam tulisannya terdapat petunjuk dan rahmat untuk orang-orang yang takut kepada Tuhannya". (QS. al-A'raf : 154).
Firman-Nya, "Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun". (QS. Fathir : 28).
Juga firman-Nya,  
"Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepada-Nya. yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya". (QS.al-Bayyinah : 8).
Allah swt selalu mewanti-wanti agar menajadikan khauf sebagai komponen mendasar dari keimanan yang hanya pantas ditunjukkan kepada-Nya semata. Terhadap setan yang biasanya dijadikan simbol yang ditakuti, Allah menegsakan bahwa, sikap takut itu seharusnya hanya ditujukan kepada-Nya semata. Karena Dia-lah sesungguhnya yang pantas ditakuti. Dengan rasa takut kepada-Nya, setan yang biasanya menggetarkan jiwa menjadi tidak berarti apa-apa. Setan hanya pantas dikhawatirkan jika seandainya mengelabui manusia dari jalur menuju Allah swt.(baca : Kebenaran). Karenanya, Allah menegaskan,
"Sesungguhnya mereka itu tidak lain hanyalah syaitan yang menakut-nakuti (kamu) dengan kawan-kawannya (orang-orang musyrik Quraisy), Karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepadaku, jika kamu benar-benar orang yang beriman."  (QS. Ali Imran : 175).
Selain faktor khauf dan raja' yang menghasilkan tangisan, juga terdapat beberapa faktor yang merupakan wujud lain dari kedua faktor di atas. Di antaranya, kesedihan terhadap peristiwa lampau yang menyedihkan bersama teman seperjuangan dalam meniti jalan Allah swt. Sikap demikian ditunjukkan oleh Abdul Rahman bin Auf. Sebagaimana riwayat beliau berikut :

Artinya, ”Dari Abdul Rahman bin ’Auf, bahwasanya, suatu ketika, saat ia disuguhi makanan, padahal ia sedang puasa. (Sedangkan orang yang berpuasa biasanya sangat mengharapkan makanan. Tetapi beliau teringat dengan saat-saat yang dilewatiya bersama para sahabat utama yang telah syahid lebih dulu. Dengan menganggap remeh dirinya dibanding mereka, beliau mengatakan,) "Mush'ab bin Umair telah terbunuh, padahal ia lebih baik dariku". Ketika ia meninggal, kain kapan saja susah didapatkan untuk mengapaninya. Hanya sebuah kain burdah yang digunakan untuk itu. Jika kain itu ditarik untuk menutupi kepalanya, maka kakinya akan tersingkap. Tapi ketika kakinya ditutup dengan kain tersebut, maka kelihatanlah kepalanya. Lalu dunia ini (dengan segala kenikmatannya) dibukakan kuncinya, atau dengan redaksi lain, ia mengatakan, ”dunia ini telah diserahkan kepada kami (untuk dikuasai secara politis). Namun Saya khawatir kalau semua kenikmatan ini adalah kebaikan kami yang disegarahkan balasannya di dunia ini”. Lalu beliau menangis sejadi-jadinya hingga makanan tidak lagi disentuh olehnya”. (HR. Bukhari)
Mush'ab bin Umair adalah seorang pemuda tampan yang hidup mewah bersama kedua orang tuanya di Mekah pada masa jahiliah. Pakaiannya saja sangat berkelas dan dipenuhi dengan aroma wewangian. Ia banyak diidolakan di kota Mekah oleh banyak gadis. Tetapi setelah ia masuk Islam, kehidupannya berubah drastis dengan berusaha menjauhi kemewahan dan memilih hidup sederhana. Bahkan pakaiannya ada yang compang camping. Ia ikut hijrah ke kota Madinah dan hidup di sana sebagai muhajirin. Ketika perang Uhud berkobar, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam  menyerahkan bendera perang kepadanya. Di sanalah ia menemukan predikat sebagai syuhada Uhud.
Abdul Rahman bin Auf mengingat peristiwa itu kemudian mengatakan, "Mereka (sahabat utama yang telah syahid) telah berlalu dan selamat dari godaan dunia berupa harta rampasan perang yang begitu melimpah bagi generasi belakangan". Kemudian ia melanjutkan, "Kami khawatir jika kebaikan kami disegerahkan (balasannya di dunia berupa kenikmatan demikian)". Karena memang orang kafir disegerahkan balasan kebikannya di dunia, sehingga di akhirat kelak mereka hanya mendulang siksa yang tiada bertepian. Sedang orang mukmin bisa jadi mendapatkan balasan kebaikannya di dunia maupun di akhirat. Tetapi balasan akhirat itulah sesungguhnya yang lebih penting. Beliau khawatir jika kebaikannya disegerahkan balasannya di dunia ini, sehingga ia menangis penuh kekhawatiran dan harapan. Ia pun meningalkan makanan.
Kasus lain yang mirip dengan kajadian tersebut di atas adalah riwayat yang disampaikan oleh Anas radiyallahu anhu.

Anas melaporkan, ”Abu Bakar berkata kepada Umar radiyallahu anhuma, setelah wafatnya Rasulullah saw, ”Ayo kita sama-sama pergi menemui Ummu Aiman rdiyallahu anhuma, sebagaimana Rasulullah saw sering mengunjunginya. Tatkala kami tiba dan bertemu dengannya, Ummu Aiman menangis (penuh kesedihan). Abu Bakar dan Umar berkata kepadanya, ”Kenapa Anda menangis ?” Bukankah Anda tau bahwa keberadaan Rasulullah saw di sisi Allah itu lebih baik. Ummu Aiman menjawab, ”Saya tidak menangis, saya juga tidak tahu bahwa keberadaan Rasulullah saw di sisi Allah itu lebih baik. Saya hanya menangis karena wahyu telah terputus dari langit. Maka, mendengar ungkapan Ummu Aiman tersebut, Abu Bakar dan Umar pun tidak tahan menahan cucuran air matanya. Mereka berdua pun ikut menangis bersama Ummu Aiman”. (HR Muslim)

Orang-Orang Shalih Terdahulu Yang Menangis Karena Takut Kepada Allah

1. Abdussalam (mantan budak Maslamah bin Abdul Malik) berkata, “Umar bin Abdul Aziz pernah menangis, lalu Fathimah ikut menangis. Namun mereka tidak tahu apa yang membuat mereka menangis. Ketika mereka selesai menangis, Fathimah bertanya, “Ya Amirul Mukminin, mengapa anda menangis?” Umar menjawab, “Fathimah, aku teringat hari dimana manusia dipisahkan dari hadapan Allah; satu kelompok di dalam Surga dan kelompok lainnya di dalam Neraka.” Kemudian ia berteriak dan pingsan. [Hilyatul Auliya' 5/269]

2. Apabila Umar bin Abdul Aziz mendengar pembicaraan tentang kematian, maka tubuhnya menggelepar seperti burung dan menangis sampai air matanya mengalir di jenggotnya.” [Hilyatul Auliya' 3/316]

3. Hani’ (mantan budak Utsman bin Affan) berkata, “Apabila Utsman bin Affan berdiri di atas kuburan, ia menangis hingga jenggotnya basa oleh air mata.” [Hilyatul Auliya' 1/61]

4. Malik bin Anas berkata, “Muhammad bin Munkadir adalah penghulu para pembaca. Hampir setiap kali ada orang yang bertanya kepadanya tentang hadits, ia selalu menangis.” [Hilyatul Auliya' 2/147]

5. Abu Ayyub al-A’raj berkata, “Sa’id bin Jubair selalu menangis di malam hari sampai rabun.” [Hilyatul Auliya' 4/272]

6. Sa’id bin Jubair berkata, “Aku tidak pernah melihat orang yang lebih perhatian terhadap kemuliaan Baitullah ini daripada orang Bashrah. Pada suatu malam aku pernah melihat seorang wanita muda bergelayutan pada tirai Ka’bah. Ia memanjarkan doa, menangis dan menghiba sampai meninggal dunia.” [Hilyatul Auliya' 4/276]

7. Ali bin Abdillah berkata, Kami pernah bersama Yahya bin Sa’id al-Qaththan. Ketika ia keluar dari masjid, kami pun keluar bersamanya. Tatkala tiba di pintu rumahnya ia berdiri, dan kami pun berdiri. Lalu ia berkata kepada seorang pria, “Bacalah!” Pria itu pun membaca surat ad-Dukhan. Ketika ia mulai membaca aku melihat Yahya bin Sa’id berubah, hingga ketika sampai pada ayat,
“Sesungguhnya hari keputusan itu adalah waktu yang dijanjikan bagi mereka semuanya.” [QS.ad Dukhan:40] Tiba-tiba Yahya menjerit dan pingsan. Ia baru siuman setelah sekian lama. Kemudian kami menemuinya. Ternyata ia tengah tertidur di atas pembaringannya serayas membaca, “Sesungguhnya hari keputusan itu adalah waktu yang dijanjikan bagi mereka semuanya.” [QS.ad Dukhan:40]. Maka keadaan itu terus berlangsung sampai ia meninggal dunia. [Hilyatul Auliya' 8/383]
Demikianlah potret tangisan sahabat yang lahir dari rasa khauf dan raja-'nya kepada Allah swt. Semoga kita diberikan kemampuan menangisi dosa-dosa kita kepada Allah. Amin.Wallahu a'lam.
Sumber :
http://idrusabidin.blogspot.com
"TERIMAKASIH SUDAH MAMPIR KE BLOG INI SILAHKAN DILIHAT DULU KATALOG DAN RESENSI BUKUNYA SEMOGA BERKENAN JAZAKUMULLAH KHOIRON KATSIRAN"