Sabtu, 26 Mei 2012

The Mystery Of The Quran Secret Power

Karya : DR. Khalid bin Abdul Karim Al-Laahim
Penerbit Pustaka AT Tibyan
Harga : 47.000 Harga disc 25% 35.250
Rahasia memahami Quran dan sunnah dalam sudut pandang yang spektakuler Begitu besar pengaruh Al-Quran yang menghujam ke dalam jiwa dan dada para sahabat. Melalui Al-Quran lah mereka mendapatkan petunjuk yang mulia, dari Al-Quran lah mereka belajar peradaban dunia, dari zaman purbakala hingga dunia ini binasa, dan dengan Al-Quran lah
mereka bisa menakhlukkan dunia, menorehkan sejarah emas yang tidak akan pernah dilupakan oleh manusia. Buku The Mystery Of The Quran Secret Power yang ada dihadapan anda sekarang ini akan melejitkan pemahaman dan pengetahuan anda terhadap Al-Quran. Temukan pengaruhnya yang luar biasa pada diri dan kehidupan anda.

Bincang-Bincang Seputar Tahlilan Yasinan dan Maulidan


Harga Buku:


Rp. 17.000
Rp. 14.000 (Diskon) Penulis : Ustadz Abu Ihsan Al-Atsari
Penerbit :
At-Tibyan
Tradisi adalah agama! Begitulah yang berlaku di tengah masyarakat kita. Begitu banyak 'amalan-amalan' yang diatas namakan agama namum setelah diteliti ternyata tidak ada yang asal-usulnya adalah dari agama. 'Amalan-amalan' itu tak lebih hanyalah tradisi yang sudah mengakar dan mendarah daging di tengah manusia. Mana kala berusaha untuk diluruskan mendadak, mereka akan menunjukkan reaksi seolah-olah telah melanggar sebuah ritual yang sangat sakral! Kompensasinya, dikucilkan dan dijauhi oleh masyarakat.
Realita di atas banyak kita jumpat saat ini. Menjamurnya 'amalan-amalan' antah berantah ini menimbulkan keprihatinan kita. Apalagi sebagian dari amalan tersebut kebanyakan berbau syirik!
Sejauh mana kebenaran amalan-amlaan tersebut dalam pandangan syariat? Bagaimana tinjauan para ulama terhadap sebahagian alasan yang mengemuka? Ada apa dibalik amalan-amalan itu? Kemelut seputar hal tersebut akan kami kupas secara tuntas dan lugas dalam buku ini.

Ketika Sang Habib Dikritik

Harga Buku:
Rp. 54500
Rp.42.000 (Diskon )Penulis : Firanda Andirja Abidin
Penerbit : Nashirus Sunnah
Kenikmatan terbesar bagi seorang muslim adalah nikmat Islam yang hakiki. Islam yang dibangun diatas tauhid dan Sunnah Nabi. Terlebih tatkala seorang muslim melihat disekelilingnya, betapa banyak manusia yang terjerumus dalam peribadatan kepada sesama makhluk. Sebagian manusia menyembah matahari.Sebagian manusia menyembah sapi.Sebagian yang lain menyembah batu. Sebagian yang lain menyembah pophon dan seterusnya.
Nikmat Islam yang dibangun di atas tauhid dan sunnah akan terasa semakin besar dan tinggi, tatkala seorang muslim melihat bahwasanya diantara saudara-saudaranya sesama muslim masih ada yang terjerumus dalam praktik-praktik kesyirikan dan kebid'ahan, baik mereka sadari atau tidak.
Sungguh sangat menyedihkan tatkala kita melihat bahwasanya ditanah air kita :
Masih banyak kaum muslimin yang percaya kepada dukun.
Masih banyak kaum muslimin yang percaya pada ramalan-ramalan.
masih ada kaum muslimin yang mempraktikkan sihir.
masih banyak kaum muslimin yang bekerjasama dengan jin dan mempraktikkan ilmu kebal.
Masih banyak kaum muslimin yang masih memakai jimat dan jampi-jampi.
Masih banyak kaum muslimin yang tidak mengenal sunnah-sunnah Nabi mereka, sementara begitu semangat melaksanakan ibadah-ibadah bid'ah yang tidak pernah dicontohkan oleh Nabi dan para sahabatNya.
Masih banyak kaum muslimin yang masih mencontoh ahlul kitab dalam tata cara beribadah, seperti beribadah dengan musik dan nyanyian.
Semoga buku ini membuka mata hati kita semua bahwa beribadah memiliki kaifiyat atau tata cara yang telah ditentukan oleh syariat dan tidak bisa diubah-ubah atau dimodifikasi. Dan menjadi tugas kita sesama muslim untuk saling mengingatkan.

Benarkah Shalahuddin Al-Ayubi Merayakan Maulid Nabi

Harga Buku:

Rp. 50.000
Rp 40.000 (Diskon ) Penulis : Ust Abdul Hakim bin Amir Abdat
Penerbit : Maktabah Mu’awiyah bin Abi Sufyan
Perayaan Maulid di negeri kita telah menjadi tradisi ritual tahunan yang mendarah daging. Sehingga tidak sah sekiranya bila pada satu tahun saja tidak merayakannya. Namun yang menjadi pertanyaan besar, Dari manakah kaum muslimin mengambil contoh perayaan maulidan tersebut? Apakah mereka mengambil contoh dari Rasulullah sebagai suri teladan yang terbaik ataukah dari orang-orang yang tidak layak untuk dijadikan suri teladan?
Buku “Benarkah Shalahuddin Al-Ayubi Merayakan Maulid Nabi” ini telah mengupas tentang sejarah maulidan sekaligus menjawab tuntas berbagai syubhat yang disebutkan dalam perayaan maulidan khususnya tentang tuduhan bohong yang dilontarkan: Bahwa panglima besar Islam yang bernama Shalahuddin al Ayubi adalah yang pertama kali merayakannya. Dan buku ini adalah jawaban atas pertanyaan tersebut.
Selain pembahasan tersebut, buku ini dapat juga dijadikan sebagai pegangan bagi para pecinta Sunnah Rasulullah untuk menjawab berbagai macam bidah yang telah banyak menyebar dan masuk di tengah-tengah kaum muslimin, khususnya di Indonesia ini.

 Toko-muslim.com

Kamis, 24 Mei 2012

Misteri Bunga Tujuh Rupa

Masih ingat ritual jamasan mobil ESEMKA sebelum uji emisi beberapa bulan yang lalu? Mobil itu dimandikan dengan bunga tujuh rupa, supaya terhindar dari bencana dan lulus uji emisi. Meski hasil ujian menunjukkan kegagalan.
Beberapa hari setelah tragedi Xenia maut yang menewaskan 9 orang, di antara warga ada yang menaburkan bunga tujuh rupa di halte Tugu Tani, lokasi terjadinya kecelakaan dahsyat.
Tampaknya, bunga tujuh rupa sangat populer di blantika perklenikan dan ritual adat Bahkan seperti menjadi ‘piranti’ wajib yang diklaim sebagai peninggalan para leluhur. Menjelang pernikahan, ruwatan untuk menyingkirkan kesialan, mencari kesaktian, memandikan pusaka dan kembang itu hampir selalu ada dalam setiap sesaji.
Kita tidak terlalu heran jika yang melakukan itu semua dikenal sebagai orang kafir atau musyrik. Yang menyedihkan ketika tradisi itu dilakukan oleh orang yang telah bersyahadat, menjalankan shalat dan rukun Islam yang lain.

Mengikuti Syariat Siapa?

Seperti ketika membeli motor atau mobil, sebagian belum berani memakainya sebelum dimandikan dengan bunga tujuh rupa. Mereka menganggap cara ini lebih ampuh dari apa yang disyariatkan Allah melalui lisan Rasul-Nya, yakni dengan memegang ubun-ubun kendaraan dan membacakan doa,
اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ خَيْرَهَا وَخَيْرَ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا وَمِنْ شَرِّ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ
“Ya Allah sesungguhnya aku memohon kepadaMu dari kebaikannya dan kebaikan yang engkau anugerahkan atasnya dan aku berlindung kepadaMu dari keburukannya dan keburukan yang engkau ciptakan pada dirinya”. (HR. Bukhari dan lainnya)
Seakan ritual ini juga lebih hebat pengaruhnya untuk mengusir roh jahat, setan dan jin-jin jahat dibandingkan bacaan ta’awudz ataupun surat-surat Mu’awwidzaat dalam al-Qur’an, yakni al-Ikhlas, al-Falaq dan an-Naas. Atau doa perlindungan yang diajarkan Nabi shallallahu alaihi wasallam dengan banyak versinya. Terhadap orang yang mengikuti tradisi semacam ini, layak diajukan pertanyaan atas mereka,
أَمْ لَهُمْ شُرَكَاءُ شَرَعُوا لَهُمْ مِنَ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَنْ بِهِ اللهُ
“Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah?” (QS asy-Syuura 21)
Jika memang mereka menyembah Allah, tentu mereka akan mengikuti syariat Allah, tapi jika syariat yang dipakai bukan sesuatu yang datang dari Allah dan Rasul-Nya, berarti dia memiliki sesembahan lain yang juga memiliki syariat.
Ibnu Katsier menafsirkan tentang ayat ini, “Yakni mereka tidak mengikuti syariat Allah berupa agama yang lurus, bahkan mereka mengikuti apa yang disyariatkan setan-setan kepada mereka, baik setan jin maupun manusia,”
Kita seringkali mendengar para dukun yang mengaku mendapat wangsit, lalu wangsit itu dijadikan sumber rujukan untuk menjalani ritual, hingga kemudian ritual itu menjadi populer di tengah masyarakat, lalu dilakukan secara turun temurun. Tidak menutup kemungkinan, dari sinilah tradisi itu bermula. Jika demikian, tafsir Ibnu Katsier di atas sangat mencocoki kasus ini. Karena tak lain, bahwa sumber dari wangsit tersebut adalah setan jin yang membisikkan ‘wangsit’ kepada partnernya dari golongan manusia, sebagaimana firman Allah,
“Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia).” (QS al-An’am 112)

Hanya Karena Tradisi atau Prasangka

Sejauh ini, belum ada keterangan, siapa pemilik hak paten sebagai penemu ritual yang melibatkan bunga tujuh rupa. Jika ditanya sumbernya, alasan paling populer adalah mengikuti tradisi neneka moyang. Tapi nenek moyang yang mana? Jelas nenek moyang yang dimaksud bukanlah Nabi Ibrahim yang bertauhid, bukan pula Nabi Nuh alaihissalam. Tapi nenek moyang penyembah berhala, atau yang mengagungkan makhluk halus dan pemuja arwah.
Lantas apa untungnya mengikuti mereka, apa pula bahaya yang ditakutkan tanpa mengikuti mereka. Mereka tidak punya hak atau kuasa untuk menimpakan bala’ bagi yang melanggar tradisinya, tidak pula memiliki surga untuk memberi ‘reward’ atau balasan bagi orang-orang yang setia melestarikan tradisinya. Bahkan bisa jadi di antara mereka ada yang nasibnya seperti Amru bin Luhay, moyangnya orang Arab yang pertama kali membawa berhala di Arab. Nabi mengisahkan tentangnya,
وَرَأَيْتُ أَبَا ثُمَامَةَ عَمْرَو بْنَ مَالِكٍ يَجُرُّ قُصْبَهُ فِى النَّارِ
“Aku melihat Abu Tsumamah Amru bin Luhay bin Qama’ah menyeret ususnya di neraka.” (HR Muslim)
Alasan lain dari sebagian orang yang merestui tradisi itu bahwa itu hanyalah sebagai simbol. Masing-masing bunga memiliki filosofi. Seperti bunga tujuh rupa yang terdiri dari bunga Mawar, konon menjadi simbol kelahiran diri manusia ke dunia. Ada bunga Kantil yang menggambarkan jiwa spiritual yang kuat untuk meraih sukses lahir maupun batin, sebagian menafsirkan dengan kesetiaan. Ada Melati, sebagai simbol bahwa segala tindakan harus melibatkan hati. Bunga Kenanga sebagai simbol kesetian sebagai generasi penerus kebaikan para leluhur. Begitupun dengan bunga lain; Cempaka, Sedap Malam dan Melati Gambir masing-masing dimaknai sebagai simbol-simbol pengharapan.
Pemaknaan tersebut sangat subyektif dan berbeda satu sama lain. Karena tak ada pathokan selain ‘zhan’ (persangkaan), atau otak atik makna belaka. Apalagi hasil otak atik itu kemudian dijadikan sebagai keyakinan dan amalan yang disertai keyakinan bisa mendatangkan manfaat maupun mencegah madharat. Ini yang menjadi sebab sesatnya kebanyakan manusia. Allah berfirman,
“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah).” (QS al-An’am 116)
Tak ada kaitan logis maupun syar’I, yang menghubungkan antara kembang tujuh rupa dengan keselamatan ataupun bencana. Tak lain yang mereka lakukan hanya berdasarkan persangkaan belaka, dan yang mereka akukan hanyalah kedustaan semata. Wallahul Muwaffiq. (Abu Umar Abdillah)ar-risalah.net

Doa dan Wirid Mengobati Guna-guna dan Sihir

Penulis: Yazid bin Abdul Qadir Jawas
Penerbit : Pustaka Imam Asy syafiie
Harga : Rp 60,000
Harga Diskon  : Rp 47,000




 Penulis : Yazid bin Abdul Qadir Jawas

“Dan berdzikirlah kamu kepada-Nya sebagaimana Dia telah memberi petunjuk kepadamu, dan sesungguhnya sebelum (Dia memberi petunjuk itu kepadamu) benar-benar kamu termasuk orang-orang yang tersesat.” (Qs 2 :1
98)

Untukmu Yang berjiwa Hanif

Penulis: Armen Halim Naro
Penerbit : Pustaka Darul ilmi
Harga : Rp 25,000
Harga Diskon  : Rp20.000
Jejak-jejak kasih sayang Allah l sudah mulai tampak di halaman kalbu, awan mahabbah dan kabut cinta Allah l sedang datang berarak di langit hati, pertanda rahmat hidayah akan turun menyirami taman jiwa.

Tidak berselang lama, akan tumbuh bersemi fitrah yang suci, hadir perasaan tunduk dan patuh pada kebenaran, timbul motivasi dan semangat untuk berbuat kebaikan. Saat itulah kehidupan akan dirasa berarti dan kebahagiaan bisa direngkuh kembali. Allah l berfirman, “Dan Orang-orang yang berjuang dalam jalan Kami, akan Kami beri mereka hidayah menuju jalan-jalan kebaikan Kami.” [QS. Al-Ankabut: 69]

Sekiranya ia dibiarkan begitu saja, tidak diolah dengan benar bahkan sering ditelantarkan dan dilalaikan, pasti ia berlalu dan meninggalkannya dalam kesendirian menyebabkan ia harus menunggu dan menunggu pada sebuah penantian yang tidak berkesudahan, Allah berfirman,“Ketika mereka menyeleweng dari jalan kebenaran, kami selewengkan hati mereka.” [QS. Ash-Shaf: 5]
Tidak ada pilihan lain bagi seorang hamba kecuali melanjutkan pencarian dan memperkokoh keyakinan. Karena bangun dari kelalaian merupakan langkah awal dari sebuah perjalanan menuju Shirathul Mustaqim. Jalan yang telah ditempuh oleh para nabi dan rasul, orang-orang shiddiq, syuhada dan orang-orang yang shalih. Itu pula yang telah dilalui oleh Rasulullah dan para sahabatnya.
Beragama ala Rasulullah ` dan menapaki jejak Salafush Shalih itulah sebuah keharusan, itulah hidayah yang hakiki. Allah l berfirman, “Sekiranya mereka beriman seperti mereka beriman, niscaya mereka memperoleh hidayah.” [QS. Al-Baqarah: 137]

Semoga Allah mengambil ubun-ubun kita kepada kebenaran. Amin.

Sumber: www.pustakadarulilmi.com
"TERIMAKASIH SUDAH MAMPIR KE BLOG INI SILAHKAN DILIHAT DULU KATALOG DAN RESENSI BUKUNYA SEMOGA BERKENAN JAZAKUMULLAH KHOIRON KATSIRAN"