Kamis, 31 Mei 2012

Hidayah Lambat Karena Adat

Hidayah Lambat Karena Adat
Allah tidak pernah terlambat memberikan hidayah. Allah Mahatahu, kapan waktu yang paling tepat untuk menurunkannya. Sebagaimana Allah juga Mahatahu, siapa yang layak didahulukan atau diakhirkan hidayahnya, atau bahkan yang tidak layak memperolah secercahpun hidayah dari-Nya.
Jikalau ada yang diperlambat datangnya hidayah, bukan karena Dia kikir atau pelit, sungguh Dia Maha Penyayang lagi Maha Pemurah. Keterlambatan, atau bahkan terhalangya seseorang dari hidayah itu disebabkan oleh ulah dan sikap manusia dalam menerima dan menyambutnya. Atau dominasi hawa nafsu yang menguasai diri, sehingga menampik datangnya hidayah. Baik hidayah Islam secara global, ataupun hidayah tafshil (yang rinci), berupa menjalankan berbagai perintah, dan menjauhi segala hal yang dilarang oleh Allah.

Adat, Hambatan Paling Berat
Saat cahaya Islam pertama kali menyapa kaum Arab Quraisy, tak serta merta disambut dengan gegap gempita. Bahkan lebih banyak penentang katimbang pendukungnya. Alasan paling populer dari para penentang adalah, karena Islam tak sejalan dengan adat dan agama nenek moyang mereka.
Taklid kepada leluhur lebih mereka utamakan dari ajakan Allah dan Rasul-Nya, meskipun hati kecil mereka meyakininya. Tak ada penghalang yang lebih berat bagi Abu Abu Thalib, paman Nabi SAW, selain beban untuk berpegang kepada agama leluhurnya. Adalah Abu Jahal yang memprovokasi Abu Thalib di ujung hayatnya. Dia membujuk, “Apakah engkau hendak meninggalkan agama Abdul Muthallib?” Hingga akhirnya Abu Thalib mati dalam keadaan musyrik. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh al-Baihaqi, sebelum meninggal, dia mengulang-ulang sya’irnya,
Aku tahu bahwa agama Muhammad terbaik bagi manusia
Kalau saja bukan karena agama nenak moyang yang dicela
Niscaya engkau dapatkan aku menerima dengan sukarela
Sikap ini mewakili sekian banyak orang yang menampik hidayah, juga enggan untuk tunduk terhadap titah Allah dan Rasul-Nya. Karakter para penentang ini dikisahkan dalam firman-Nya,
“Apabila dikatakan kepada mereka:”Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul”. Mereka menjawab:”Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya”. (QS. Al Maidah:104)
Ketika mereka diajak menjalankan agama Allah dan syariatnya, menjalankan kewajiban dan apa yang diharamkannya, mereka menjawab, ”cukup bagi kami mengikuti cara dan jalan yang telah ditempuh oleh bapak dan kakek kami.” Demikian dijelaskan tafsirnya oleh Ibnu Katsier rahimahullah.
Seakan al-Qur’an masih hangat turun ke bumi. Betapa alasan ini sangat populer kita dapati. Tatkala didatangkan dalil dari al-Qur’an maupun as-Sunnah, baik tentang larangan yang tak boleh dijamah, atau perintah yang mesti dilakukan, seringkali kandas ketika dalil itu tak sejalan dengan kebiasaan yang telah berjalan. ”Jangan merubah adat…!  Ini sudah tradisi para leluhur…! Biasanya memang begini…!” dan ungkapan lain yang mengindikasikan ketidakrelaan mereka jika adat diganti dengan syariat. Ungkapan seperti ini tak jarang muncul dari lisan orang yang telah menyatakan dirinya Islam, yang telah mengikrarkan bahwa ia rela Allah sebagai Rabbnya, Muhammad sebagai Nabi dan Rasul, dan Islam sebagai agamanya. Tapi begitu syariat tidak sejalan dengan adat, adat lebih mereka utamakan.
Sejenak kita akan tahu bahwa, masih banyak warisan adat leluhur yang ternyata bertentangan dengan syariat, bahkan jika dirunut, tak hanya warisan nenek moyang masyarakat Indonesia, tapi warisan penyembah berhala di era jahiliyah Arab.

Kesesatan yang Dilestarikan
Atas nama melanggengkan nilai-nilai luhur tradisi nenek moyang, budaya sesaji masih tetap lestari. Dari yang hanya sekedar mempersembahkan menu ’wajib’ berupa hewan sembelihan, maupun yang berupai kemenyan, buah-buahan dan ’tetek bengek’ lain sebagai menu tambahan. Semua itu ditujukan kepada sesuatu yang diagungkan, apakah jin penunggu, arwah leluhur atau dewa yang diyakini keberadaannya.
Tradisi ini mengiringi momen-momen penting dalam kehidupan manusia, seperti peringatan kelahiran, kematian, upacara pernikahan, peresmian gedung atau jembatan, peringatan hari besar, juga untuk tujuan insidental seperti mencegah terjadinya marabahaya. Tak ketinggalan pula masyarakat kita yang mengaku dirinya muslim. Mereka turut membudayakannya dengan sedikit modivikasi dan dikemas dengan simbol-simbol Islam.
Sulit untuk mendapatkan jawaban yang memuaskan, sejak kapan tradisi sesaji bermula di negeri ini. Paling-paling kita harus puas dengan jawaban, ”itu sudah menjadi adat nenek moyang sejak dahulu.”
Jika ditelisik, sesaji tak hanya menjadi tradisi Hindu atau penganut animisme maupun dinamisme di Indonesia saja. Tapi juga merupakan adat jahiliyah Arab, yang kemudian disapu bersih dengan hadirnya Islam. Ini terlihat dari banyaknya ayat dan hadits yang melarang sembelihan untuk selain Allah, juga ancaman bagi yang melakukannya.
Dahulu, orang biasa Arab biasa menyembelih hewan di sisi kuburan, lalu Islam melarangnya. Sebagaimana hadits Nabi SAW,
لاَ عَقْرَ فِي الإِسْلاَمِ قَالَ عَبْدُ الرَّزَّاقِ: كَانُوا يَعْقِرُونَ عِنْدَ الْقَبْرِ بَقَرَةً أَوْ شَاةً
“Tidak boleh ada ‘aqr (menyembelih di kuburan) dalam Islam.” (HR. Abu Dawud)
Abdurrazzaq yang meriwayatkan hadits tersebut berkata; dahulu mereka menyembelih sapi atau kambing di kuburan.
Dengan alasan mengikuti adat, tradisi itupun masih dilestarikan dengan istilah bedah bumi (‘meminta ijin’ untuk menggali liang kuburan), atau sebagai penghormatan kepada orang yang telah mati.
Padahal secara tegas Nabi SAW bersabda,
وَلَعَنَ اللَّهُ مَنْ ذَبَحَ لِغَيْرِ اللَّه
“Dan Allah melaknat orang yang menyembelih untuk selain Allah.” (HR. Muslim)
Jimat untuk kesaktian dan penangkal bahaya, juga menjadi warisan orang musyrik terdahulu. Suatu kali, sahabat Hudzaifah bin Yaman menengok orang sakit. Beliau melihat di lengan si sakit ada gelang (untuk jimat). Maka beliau langsung melepasnya sembari membaca firman Allah,
“Dan sebagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah ( dengan sembahan-sembahan lain ).”(QS. Yusuf:106)
Bukankah praktik ini sering kita jumpai dalam bentuk rajah di pintu rumah, di warung, kendaraan, atau jimat lain berupa gelang, kalung atau cincin yang dianggap memiliki khasiat bisa mendatangkan manfaat dan mencegah madharat. Inilah keyakinan syirik warisan jahiliyah, di mana Islam datang untuk membersihkan dan menghilangkannya.
Belum lagi berbagai keyakinan khurafat yang masih subur dan diwariskan turun temurun.
Meninggalkan Adat Demi Syariat
Ajaran tauhid mengharuskan penganutnya bersih dari syirik, meski itu berupa adat yang mendarah daging dan mengakar kuat. Wajar, jika dakwah Nabi SAW oleh orang Arab diidentikkan dengan dakwah untuk meninggalkan adat nenek moyang.
Heraklius, Kaisar Romawi yang beragama Nasrani pernah bertanya kepada Abu Sufyan saat masih musyrik, ”Apa yang Muhammad (SAW) serukan atas kalian?” Abu Sufyan menjawab,
يَقُولُ اعْبُدُوا اللَّهَ وَحْدَهُ ، وَلاَ تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ، وَاتْرُكُوا مَا يَقُولُ آبَاؤُكُمْ ، وَيَأْمُرُنَا بِالصَّلاَةِ وَالصِّدْقِ وَالْعَفَافِ وَالصِّلَة
“Dia (Muhammad SAW) mengatakan, “Hendaklah kalian hanya beribadah kepada Allah saja, tanpa menyekutukan-Nya dengan sesuatu, dan hendaknya kalian meninggalkan pendapat nenek moyang kalian, dia juga menyuruh kami shalat, berlaku jujur, menjaga kehormatan dan menjalin persaudaraan.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Menyelisihi kebiasaann nenek moyang bukanlah cela. Melanggar adat tak juga membuat kita kualat. Bahkan orang yang kualat dan mendapat ganjaran berupa siksa yang berat adalah mereka yang mempelopori adat yang sesat, juga para pengikutnya di dunia.
Di dalam hadits Bukhari, Nabi juga bersabda, ”Aku mengetahui, siapakah orang pertama yang merubah ajaran (tauhid) Ibrahim alaihis salam.” Para sahabat bertanya, ”Siapakah dia wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, ”Dia adalah Amru bin Luhay, saudara Bani Ka’ab. Aku melihatnya dia menyeret usus-ususnya di neraka, hingga penduduk neraka yang lain terganggu oleh bau busuknya.” (HR. Bukhari)
Begitulah ganjaran bagi orang yang membawa berhala ke negeri Arab, yang tadinya telah dibersihkan oleh kapak dan dakwah tauhid Ibrahim alaihis salam. Apakah kita tetap akan membanggakan para leluhur meski memiliki kemiripan dengan Amru bin Luhay?
Teladanilah sikap yang diambil oleh seorang tabi’in, Syuraih al-Qadhi ketika beliau ditanya, ”Dari kaum manakah Anda?” Beliau menjawab, ”Dari kaum yang Allah telah karuniakan Islam atasnya. Sedangkan orangtuaku dari Kindah.” Beliau lebih suka menisbahkan dirinya kepada Islam, katimbang membanggakan sukunya.
Karena beliau tahu, suku atau keturunan siapa tak akan membuatnya mulia atau hina, tidak pula menolongnya kelak di akhirat. Nenek moyang tak mampu menyediakan surga baginya, bahkan, jika mereka sesat, mereka sendiri dalam keadaan hina. Simaklah kabar Nabi SAW tentang mereka,
لَيَدَعَنَّ رِجَالٌ فَخْرَهُمْ بِأَقْوَامٍ إِنَّمَا هُمْ فَحْمٌ مِنْ فَحْمِ جَهَنَّمَ أَوْ لَيَكُونُنَّ أَهْوَنَ عَلَى اللَّهِ مِنْ الْجِعْلاَنِ الَّتِي تَدْفَعُ بِأَنْفِهَا النَّتِنَ
Maka, hendaklah orang-orang meninggalkan kebanggaan mereka terhadap kaumnya; sebab mereka hanya (akan) menjadi arang jahannam, atau di sisi Allah mereka akan menjadi lebih hina dari ji’lan (kumbang kotoran) yang mendorong kotoran dengan hidungnya.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)
Memang, tak semua adat itu sesat, sehingga wajib kita mengukurnya dengan barometer syariat. Jika memang bertentangan, jangan ragu meningalkannya, demi merealisasikan ajaran Islam yang hanif. (Abu Umar Abdillah)

Panduan Keluarga Sakinah

Penulis : Yazid bin Abdul Qadir Jawas
Harga : Rp  40,000
Harga Disc  Rp 32,000
Mewujudkan keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah (keluarga yang dipenuhi ketenangan, rasa cinta, dan kasih sayang) merupakan dambaan setiap Muslim dan Muslimah yang akan menghadapi mahligai rumah tangga. Keluarga yang sakinah adalah keluarga yang di dalamnya ditegakkan syari’at Allah Ta’ala, keluarga yang di dalamnya terdapat sikap saling memahami, dan keluarga yang di dalamnya terdapat rasa cinta dan pergaulan yang baik.

Namun, mencapai keluarga yang sakinah bukanlah suatu hal yang mudah, tetapi bukan pula suatu hal yang mustahil. Oleh karena itu, setiap Muslim dan Muslimah yang hendak berumah tangga berkewajiban untuk mempelajari dan memahami konsep dan tujuan pernikahan dalam Islam sebagai bekal utama sebelum melangkah ke jenjang pernikahan dan akhirnya meraih keluarga yang sakinah dengan izin Allah Ta’ala.

Buku ini membahas tentang berbagai aspek dalam pernikahan yang perlu diketahui, meliputi: tujuan pernikahan dalam Islam, manfaat pernikahan, tata cara pernikahan dalam Islam, beberapa pernikahan yang dilarang syari’at Islam, pelanggaran-pelanggaran yang sering terjadi dalam pernikahan, kiat-kiat membina rumah tangga yang ideal, hak dan kewajiban suami-istri, nasihat untuk suami-istri, hal-hal yang harus dilakukan ketika si buah hati lahir, kewajiban mendidik anak, menggapai ridha Allah Ta’ala dengan berbakti kepada kedua orang tua, dan lainnya.

Dengan mengetahui semua aspek dalam pernikahan ini, mudah-mudahan bagi mereka yang hendak menikah, mereka yang baru memasuki jenjang rumah tangga, maupun mereka yang telah lama berumah tangga mampu mewujudkan keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah.

Inilah Faktanya

Penulis : Dr. 'Utsman bin Muhammad al-Khamis
Harga : Rp 50,000
Harga Disc 40,000
Sejarah Islam tidak bisa lepas dari sejarah para Sahabat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam. Salah dalam memahami peristiwa sejarah pada masa mereka tentu akan menyebabkan kekeliruan dalam menafsirkan peristiwa sejarah pada masa-masa berikutnya.
Buku ini menghadirkan pembahasan sejarah pada masa tujuh khalifah setelah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam . Diungkap dengan gaya berbeda, buku ini mencoba meluruskan pemahaman
kita selama ini terkait sejarah Islam khususnya pada era Sahabat, termasuk cara yang ideal dalam membaca sejarah Islam.
Peristiwa-peristiwa penting yang jarang diungkap mulai era kekhilafahan Abu Bakar, ‘Umar, ‘Utsman, ‘Ali, al-Hasan, Mu’awiyah, hingga Yazid dipaparkan secara gamblang di dalamnya. Keberhasilan mereka dalam memimpin umat Islam saat itu dijelaskan dengan lugas. Konflik-konflik yang selama ini diisukan terjadi di antara mereka juga dibahas beserta bantahan-bantahannya. Paradigma keshalihan para Sahabat diterangkan secara jelas di dalam buku ini.
Tidak kalah pentingnya, buku ini juga meluruskan kesimpangsiuran masalah suksesi kepemimpinan sepeninggal Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam. Termasuk konspirasi Yahudi dalam pembunuhan ‘Utsman yang menjadi cikal bakal pemberontakan pada masa-masa berikutnya.
Dengan membaca buku ini, kita akan sadar betapa kita perlu bersikap kritis dalam membaca peristiwa-peristiwa sejarah, terutama yang bertendensi negatif terkait kehidupan para Sahabat yang telah mendampingi Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam dalam mendakwahkan agama ini.

 http://hasanahmuslim.com


Rabu, 30 Mei 2012

Selasa, 29 Mei 2012

Ketika para budak nafsu mempersilakan kemunkaran

أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَى عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَى سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ وَجَعَلَ عَلَى بَصَرِهِ غِشَاوَةً فَمَنْ يَهْدِيهِ مِنْ بَعْدِ اللَّهِ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ   [الجاثية/23]
23. Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya[1384] dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran? (QS Al-Jatsiyah/ 45: 23)
[1384] Maksudnya Tuhan membiarkan orang itu sesat, karena Allah telah mengetahui bahwa dia tidak menerima petunjuk-petunjuk yang diberikan kepadanya.
  • Bangsa dan umat ini tenggelam dalam kemunkaran, dan dosa-dosa besar, yang tak terhitung lagi. Tidak berani menolak terhadap dosa-dosa besar. Tidak berani melarang, meninggalkan, dan memusuhi kemunkaran. Tetapi, bersatu dengan kemunkaran, dan hidup dengan kemunkaran. Menjalin dan bersekutu dengan kemunkaran. Semuanya dianggap sebagai jalan hidup.
  • Semua ulama secara ijma’ sepakat menolak kemunkaran hukumnya wajib. Tidak ada selisih diantara para ulama dan  fuqaha. Maka, setiap Muslim dan Mukmin wajib memberantas kemunkaran yang ada. Baginda Rasulullah Shallahu Alaihi Wasallam memerintahkan dengan tangan (kekuatan), kalau tidak mampu dengan lisan, dan kalau tidak mampu dengan hati. Artinya, hatinya harus menolak terhadap kemunkaran, dan membencinya.
  • Bagaimana kalau ada ulama yang terang-terangan mengatakan, bahwa sejuta setan Lady GaGa, tidak akan mempengaruhi umatnya dan pengikutnya? Di mana kewajiban menegakkan amar ma’ruf nahi munkar?
  • Padahal penyanyi yang berasal dari Amerika Serikat itu, pasti akan mengajak kepada kemunkaran.
Berikut ini sorotannya.
***
Masihkah Tersisa Iman di Hati Muslim dan Mukmin Indonesia?
Ilustrasi: m.dakwatuna.com
Masihkah ingat Sabda Rasulullah Shallahu Alaihi Wasallam, di mana beliau menyampaikan sabdanya,
« مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الإِيمَانِ ».
“Barangsiapa melihat kemunkaran, hendaklah merubah dengan tangannya, jika tidak mampu, maka dengan lisannya, jika tidak mampu maka dengan hatinya, dan yang  demikian itu tingkatan iman yang paling lemah”. (Hadist Riwayat Muslim).
Masihkah hati, mata, dan telinga,  tidak mampu melihat kehidupan yang ada sekarang? Apakah hati, mata, dan telinga, sudah benar-benar tertutup dan terkalahkan oleh  kemunkaran?  Sehingga, kemunkaran menjadi terpuji, dicintai, dan digandrungi, dan menjadi tujuan hidup? Mengapa hati, mata, dan telinga, sudah tidak sedikitpun sensitif, ketika melihat kemunkaran?
Mengapa kemunkaran menjadi idola, menjadi kenikmatan hidup, dan menjadi bagian hidup? Sehingga, seluruh indera dan pisik, hanya diarahkan menuju kepada kemunkaran. Kemunkaran dan kedurhakaan dikejar, dibela, dan bahkan ditegakkan dalam kehidupan. Melakukan kemunkaran diyakini sebagai jalan hidup. Melakukan kemunkaran sebagai pilihan hidup.
Karena itu, bangsa dan umat ini tenggelam dalam kemunkaran, dan dosa-dosa besar, yang tak terhitung lagi. Tidak berani menolak terhadap dosa-dosa besar. Tidak berani melarang, meninggalkan, dan memusuhi kemunkaran. Tetapi, bersatu dengan kemunkaran, dan hidup dengan kemunkaran. Menjalin dan bersekutu dengan kemunkaran. Semuanya dianggap sebagai jalan hidup.
Semua ulama secara ijma’ sepakat menolak kemunkaran hukumnya wajib. Tidak ada selisih diantara para ulama dan  fuqaha. Maka, setiap Muslim dan Mukmin wajib memberantas kemunkaran yang ada. Baginda Rasulullah Shallahu Alaihi Wasallam memerintahkan dengan tangan (kekuatan), kalau tidak mampu dengan lisan, dan kalau tidak mampu dengan hati. Artinya, hatinya harus menolak terhadap kemunkaran, dan membencinya.
Bagaimana kalau ada ulama yang terang-terangan mengatakan, bahwa sejuta setan Lady GaGa, tidak akan mempengaruhi umatnya dan pengikutnya? Di mana kewajiban menegakkan amar ma’ruf nahi munkar?
Padahal penyanyi yang berasal dari Amerika Serikat itu, pasti akan mengajak kepada kemunkaran. Sekurang-kurangnya melalaikan bagi orang-orang yang datang melihat konser, dan berapa banyak orang yang menonton konser itu, kemudian meninggalkan kewajiban  shalat?
Memberantas kemunkaran dan mengingkari kemunkaran itu fardhu ‘ain (kewajiban), yang sifatnya  mutlak. Melalui hati mengetahui hal-hal yang ma’ruf (kebaikan), dan mengingkari kemunkaran melalui hati sebagai fardhu ‘ain bagi Muslim dan Mukmin dalam kondisi apapun. Barangsiapa yang tidak dapat membedakan antara kebaikan dengan kemunkaran, maka manusia itu akan celaka. Barangsiapa yang mengetahui kemunkaran, tetapi tidak mengingkarinya, maka ini menjadi pertanda hilangnya iman.
Seorang shahabat Ali rodhiyallahu anhu, mengatakan,“Jihad menjadi kunci pertama kemenangan kalian, adalah jihad dengan tangan, lalu dengan lisan, lalu dengan hati. Barangsiapa yang tidak mengetahui yang baik, dan tidak mengingkari dengan hatinya kemunkaran yang terjadi, maka ia akan kalah. Sehingga, kondisi pun berbalik, yang di atas menjadi di bawah”. Maknanya, kemunkaran akan menguasai kebaikan yang ada pada  Muslim dan Mukmin.  
Shahabat Ibnu Mas’ud rodhiyallahu anhu mendengar seorang laki-laki berkata, “Celakalah orang yang tidak melakukan amar ma’ruf dan nahi munkar”. Mendengar hal itu, Ibnu Mas’ud lalu berkata, “Celakalah orang yang hatinya tidak mengenal kemunkaran”.
Sesungguhnya, mengingkari kemunkaran dengan hati itu dalam kondisi lemah. Tidak seharusnya Muslim dan Mukmin hanya mampu melihat kemunkaran, hanya mampu mengingkarinya hanya dengan hati. Karena itu, selemah-lemahnya iman. Kalau hanya mengingkari dengan hati saja  sudah tidak mampu, lantas apa yang akan diperbuat oleh  Muslim dan Mukmin di negeri ini ketika melihat begitu banyak kemunkaran? Hanya  berdiam diri?
Dari Abu Sa’id  al-Khudri rodhiyallahu anhu bahwa Rasulullah Shallahu Alaihi Wasallam bersabda,
« إِنَّ اللَّهَ لَيَسْأَلُ الْعَبْدَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يَقُولَ مَا مَنَعَكَ إِذْ رَأَيْتَ الْمُنْكَرَ أَنْ تُنْكِرَهُ فَإِذَا لَقَّنَ اللَّهُ عَبْدًا حُجَّتَهُ قَالَ يَا رَبِّ رَجَوْتُكَ وَفَرِقْتُ مِنَ النَّاسِ ».
“Pada hari kiamat, Allah Azza Wa Jalla  akan bertanya kepada seseorang, “Apa yang menghalangimu untuk memberantas kemunkaran yang kamu lihat?” Lalu, Allah mengajarkan, “Ya Rabbi, saya mengharap pengampunan- Mu, dan saya takut musibah yang akan menimpaku, atau hartaku”. (Hadist Riwayat : Ahmad dan Ibnu Majah—shahih menurut Al-Albani).
Bagaimana kalau kita sehari-hari melihat dosa besar, dan manusia (orang)  itu ridha terhadap dosa itu, maka sama artinya manusia (orang) itu telah melakukannya, dosa besar.
Dari Al-Urs bin Umair rodhiyallahu anhu, Rasulullah Shallahu Alaihi Wasallam bersabda,
« إِذَا عُمِلَتِ الْخَطِيئَةُ فِى الأَرْضِ كَانَ مَنْ شَهِدَهَا فَكَرِهَهَا ». وَقَالَ مَرَّةً « أَنْكَرَهَا ». « كَمَنْ غَابَ عَنْهَا وَمَنْ غَابَ عَنْهَا فَرَضِيَهَا كَانَ كَمَنْ شَهِدَهَا ».
“Jika satu kemaksiatan dilakukan di muka bumi, maka orang  yang mengetahui, tapi membecinya, seperti orang yang tidak mengetahuinya. Sedangkan orang yang tidak melihatnya tapi merestuinya, maka ia seperti orang yang melihatnya”. (Hadist Riwayat Abu Dawud, dihasankan Al-Albani).
Bagaimana bila jutaan Muslim dan Mukmin, yang hari ini, kemudian hati, mata, dan telinganya melihat begitu banyak kemunkaran,  dosa besar, sedangkan tangannya tak sedikitipun tergerak, lisannya terkunci rapat, dan  hatinya  mati, tak tersentuh sedikitpun?
Masih adakah iman yang tertanam di dalam hati dan dada mereka? Sungguh sangat menyedihkan melihat Muslim dan  Mukmin di negeri ini, yang berkompromi dengan segala kemunkaran dan dosa. Sampai kapan semua ini? Wallahu a’lam. Opini redaksi voaislam.com, Kamis, 24 May 2012 diberi teks hadits dan derajatnya oleh nahimunkar.com

Mencetak Generasi Rabbani

Harga

Rp. 55.000
Rp. 43.000 (Diskon )
Pengarang: Abu Ihsan al-Atsary dan Ummu Ihsan
Penerbit
: PUSTAKA DARUL ILMI
Mendidik Buah Hati Menggapai Ridha Ilahi

Buku ini menuntun setiap orang tua agar dapat mendidik anak-anaknya dengan benar sesuai petunjuk Alloh dan RosulNya, menjadikan anak yang bukan hanya pintar dan berhasil tapi anak yang shalih dan shalihah, yang dapat menjadi Generasi robbani, generasi yang unggul keilmuan dan ketaqwaannya kepada Alloh Subhanahu Wa Ta'ala

Ketika seorang anak lahir ke dunia, pastilah berjuta harapan orang tua disematkan di diri sang anak. Banyak orang tua yang berharap anaknya kelak menjadi anak yang pintar, cerdas dan berhasil. Untuk semua itu, orang tua rela berkorban harta, mereka sangat memperhatikan segala kebutuhan anaknya dari mulai gizi, pakaian dan pendidikan, yang diberikan adalah yang berkualitas dan terbaik bagi anak-anaknya. Namun terkadang orang tua lupa, apakah semua yang telah dilakukan untuk menjacfikan sang anak pintar dan berhasil merupakan jaminan bahwa sang anak kelak akan menjadi anak yang shalih? Anak yang berbakti dan merawat orang tua di saat usia senjanya? Anak yang bisa dijadikan tabungan dan manisfestasi orang tua di akhirat? Karena, betapapun sang anak adalah anak yang pintar dan berhasil, itu sama sekali tidak berguna jika yang diberikan sang anak kepada orang tuanya adalah kedurhakaan dan kebobrokan iman. Buku ini, menuntun setiap orang tua agar dapat mendidik anak-anaknya dengan benar sesuai petunjuk Allah dan Rasul-Nya, menjadikan anak yang bukan hanya pintar dan berhasil tapi anak yang shalih dan shalihah, yang dapat menjadi Generasi Rabbani, generasi yang unggul keilmuan dan ketaqwaannya kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Di antara materi pada buku ini: 1) Mendidik anak dalam kandungan 2) 10 karakter pendidik sukses Pengajaran ilmu agama dan dunia pada anak 3) Memahami psikologi anak 4) Anak dan sosial kemasyarakatan 5) Jasmani dan kesehatan pada anak 6) Menempa mental anak 7) Persiapkan anak untuk berdakwah di jalan Allah 8) Metode pengajaran pada anak 9) Anak dan pendidikan seksual dll.

Buku ini cocok untuk setiap yang sudah menikah maupun yang akan menikah.
So, miliki segera bukunya...!!!
Thoyyib!!!

Surat Terbuka Untuk Para Suami dan Istri


Penerbit Pustaka Imam Syafii
Penulis Ummu Ihsan dan Abu Ihsan al-Atsari
Harga Buku Surat Terbuka Untuk Para Istri Rp 30.000
Harga Buku Surat Terbuka Untuk Para Suami Rp 30.000
Harga Belum Diskon 20%

Sungguh kebahagiaan rumah tangga adalah dambaan setiap insan, kesuksesan sepasang suami isteri dalam membina rumah tangga merupakan penopang terciptanya kedamaian ditengah masyarakat. Bahkan Rasullulah menyatakan bahwa seseorang yang telah membina kehidupan rumah tangga berarti ia telah menyempurnakan separuh agamanya. Risalah yang sangat berharga ini merupakan nasihat bagi para pasangan suami isteri dan para pemuda-pemudi yang akan melangkah menuju jenjang pernikahan yang berkah dan bernilai ibadah.


"TERIMAKASIH SUDAH MAMPIR KE BLOG INI SILAHKAN DILIHAT DULU KATALOG DAN RESENSI BUKUNYA SEMOGA BERKENAN JAZAKUMULLAH KHOIRON KATSIRAN"