Sabtu, 31 Agustus 2013

KATALOG GRIYA ILMU 3


HARGA DISKON 20 %

KATALOG GRIYA ILMU 2


HARGA DISKON 20%

KATALOG GRIYA ILMU 1



 

HARGA DISKON 20 %

SIFAT SHALAT NABI Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam Seakan-akan Anda Menyaksikannya

Penulis : Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani Harga : Rp.45.000,-
Harga diskon : Rp 36.000,- Deskripsi : xx + 404 hal. (S)

 Dilengkapi Dengan:
1. Biografi Penulis
2. Gambar Penjelas Tata Cara Shalat
3. Tata Cara Wudhu Nabi Bergambar
4. Bacaan dan Dzikir Setelah Shalat
5. Tips Khusu' dalam Sholat
6. Footnote Dengan Ukuran Font Nyaman Dibaca


Shalat adalah ibadah yang agung dalam Islam, menempati urutan kedua dalam rukun Islam. Namun amat disayangkan, masih didapati banyak kekeliruan yang dilakukan sebagian kaum Muslimin dalam tata cara shalat. Di antara penyebab ini semua adalah karena manhaj (cara) beragama umat Islam yang masih ikut-ikutan. Faktor ini harus menyadarkan setiap Muslim, untuk segera mengoreksi Shalatnya, agar diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan jalan untuk kembali kepada tata cara Shalat yang benar sebagaimana yang diajarkan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, adalah dengan mengkaji hadits-hadits beliau; baik sabda, keteladanan dari perbuatan beliau, maupun persetujuan beliau pada perbuatan para sahabat. Para ulama sebenarnya telah menulis berbagai kitab tentang Shalat, baik kajian tematis fikih, hadits, dan sejarah, maupun kajian analisis seperti kesalahan-kesalahan dalam shalat dan bid'ah-bid'ahnya, serta perbandingan madzhab yang ada di dalamnya. Akan tetapi karena buku-buku tersebut hanya bisa dibaca oleh sekelompok kecil kaum Muslimin terpelajar, maka sebagian ulama mencoba merangkum hal-hal penting sehingga lebih praktis dan simpel. Nah, salah satu intisari yang paling baik dalam tema ini adalah buku yang ada di tangan Anda ini. Penulisnya, Syaikh al-Albani Rahimahullah yang telah berusaha mengumpulkan hadits-hadits tentang tata cara Shalat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, hingga menjelma menjadi tiga jilid atau setebal 1.217 halaman. Kemudian dari hadits-hadits tersebut disarikan dan disederhanakan oleh beliau, sehingga benar-benar jelas menggambarkan tata cara Shalat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam secara simpel tetapi utuh. Maka buku ini tepat seperti judul asli yang beliau berikan: Shifat Shalat an-Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam min at-Takbir Ila at-Taslim Ka`annaka Taraha (Tata cara Shalat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dari takbir sampai salam seakan-akan Anda melihatnya). Inilah kitab asli dari buku kita ini, yang sejak cetakan pertama muncul, hingga sekarang menjadi best seller dan telah dicetak berulang kali, baik yang berbahasa Arab maupun terjemahannya dalam berbagai bahasa dunia. Inilah buku terbaik yang akan membimbing kita semua untuk shalat seperti yang dicontohkan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Rabu, 07 Agustus 2013

Berguru pada Malaikat Jibril

 Judul asli : Min haditsi Jibriil
 Penulis : Syaikh Dr. Abdul Adzim bin Badawi Al Khalafi
 Fisk : buku ukuran sedang, Softcover, 291 hal
 Penerbit : Pustaka Al Inabah
 Harga Rp 50.000

 Harga Diskon Rp 40.000

Imam  Muslim -rahimahulloh- telah  meriwayatkan sebuah hadits dalam Kitab Shahihnya ,   dengan sanadnya dari Yahya bin Ya'mur dia berkata:
 “Seorang yang pertama kali berbicara masalah takdir di Basrah adalah Ma'bad Al-Juhani. Maka saya bersama Humaid bin Abdurrahman Al-Himyari pergi untuk melaksanakan haji atau umrah. Kemudian kami berkata: ‘Kalau kita bertemu dengan salah seorang sahabat Rasulullah  nanti kita akan bertanya   kepadanya   tentang   apa-apa   yang   telah dikatakan   orang-orang   itu   tentang   takdir.’   Maka kitapun   secara   kebetulan   bertemu   Abdullah   bin Umar  -rahimahulloh-  yang  sedang  memasuki  masjid.   Kemudian kami mengapit lengannya, salah seorang dari kami di kanannya dan salah seorang lagi di sebelah kirinya dan saya menyangka bahwa temanku itu akan mewakilkan kepadaku untuk berbicara. Maka aku katakan: ‘ Wahai Abu Abdirrahman, sesungguhnya di daerah kami telah muncul orang-orang yang membaca Al-Qur'an dan memisahkan antara Ilmu Allah (dengan perbuatan hamba, -pent) -kemudian Humaid bin Abdurrahman menjelaskan   tentang   mereka-   dan   mereka   juga meyakini bahwasanya tidak ada takdir dan bahwa setiap urusan itu berjalan begitu saja’. Kemudian Ibnu Umar berkata: ‘Apabila kamu bertemu dengan orang-orang itu maka katakan kepada mereka bahwa aku berlepas diri dari mereka dan mereka berlepas diri dari aku. Dan demi Dzat yang Abdullah bin Umar bersumpah   dengan-Nya,   kalau   seandainya   salah seorang di antara mereka memiliki emas sebesar Uhud kemudian dia infakkan semuanya, Allah tidak akan menerima darinya sampai dia beriman kepada takdir.’
Kemudian Ibnu Umar berkata lagi: ‘Telah memberikan hadits kepadaku bapakku Umar bin Al-Khaththab -Rodliallohu Anhu- , dia berkata:
"Ketika kami bersama Rasulullah -Sholallahu Alaihi Wassalam-  pada suatu hari, tiba-tiba muncul kepada kami seorang laki-laki yang bajunya sangat putih sekali, dan rambutnya sangat hitam, tidak tampak padanya bekas-bekas safar, dan kita satupun tidak ada yang mengenalinya. Sampai orang tersebut duduk kepada Nabi dan menempelkan lututnya kepada lutut Nabi dan meletakkan kedua telapak tangan di atas kedua paha beliau . Kemudian dia berkata: ‘Wahai Muhammad, beritahukan kepadaku tentang   Islam!   maka   Rasulullah  menjawab: Islam adalah engkau bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan  yang  berhak  diibadahi  kecuali Allah dan bahwasanya Muhammad adalah utusan Allah, dan engkau menegakkan shalat, menunaikan zakat, berpuasa di bulan Ramadhan, dan engkau berhaji ke Baitullah (Ka'bah) jika engkau mampu’. Lantas orang itu berkata: ‘Kamu benar’. Umar berkata: ‘Maka kami heran dengan orang ini, ia bertanya ia pula yang membenarkannya.’ Orang itu berkata:’ Beritahukanlah kepadaku tentang Iman! Rasululla menjawab: Engkau beriman kepada Allah,  malaikat-malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari akhir, dan engkau beriman kepada takdir baik dan takdir buruk’. Orang itu berkata:’Kamu benar’. Kemudian ia bertanya lagi: ‘Beritahukanlah kepadaku tentang Ihsan!’,  Rasulullah berkata: ‘ Engkau  beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya dan apabila tidak mampu melihatnya maka sesungguhnya Allah melihatmu’. Kemudian dia bertanya: ‘Beritahukanlah kepadaku kapankah hari kiamat itu terjadi?’ Rasullah menjawab: ‘Yang ditanya tidaklah lebih tahu daripada yang bertanya.’ Dia berkata lagi:’ Maka kabarkanlah kepadaku  tentang  tanda-tandanya!’,   Rasulullah menjawab: ‘ Seorang budak yang melahirkan tuannya, dan engkau lihat orang yang tidak beralas kaki, tidak berpakaian, tidak berkhitan, penggembala kambing yang mereka soling berlomba-lomba meninggikan bangunan’. Umar berkata:’ Kemudian orang itupun pergi. Maka aku berdiam diri beberapa saat’. Setelah itu Rasulullah  bersabda: ‘Wahai Umar, apakah kamu tahu siapa yang bertanya itu?’, Aku menjawab: ‘Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu’. Beliau berkata: ‘Sesungguhnya dia adalah jibril yang mendatangi kalian untuk mengajarkan kepada kalian agama kalian."
      Hadits Ini dari Musnadnya Umar -Rodliallohu Anhu- . Muslim  -rahimahulloh- telah menyendiri dari Al-Bukhari -rahimahulloh-  dalam meriwayatkan hadits ini. Dan telah meriwayatkan hadits ini pula sebagaimana (disebutkan) dalam catatan kaki kitab Jami'ul ulum wal Hikam (1/94), Musnad Al-lmam Ahmad (367), Abu Dawud (4695), At-Tirmidzi (2610), An-Nasa'i (8/97), Ibnu Majah (63), Ibnu Mandah dalam Al-Iman (1,14), Thoyalisy (hal. 24), Ibnu Hibban (168 dan 173), Al-Ajurry dalam Asy-Syari'ah (hal 188-189), Abu Ya'la (242), Al-Baihaqi dalam Dalailun Nubuwwah (7/69-70) dan dalam Sya'abul Iman (3973) Al-Baghowi dalam Syarhus Sunnah (2), Al-Marwazi dalam Ta'zhimu Qadrish Shalah (363-367), Abdullah bin Ahmad dalam As-Sunah, dan Ibnu Kuzhaimah (2504).
Dan telah sepakat Al-Bukhari (50) dan Muslim (9) dalam mengeluarkan hadits ini dari Abu Hurairah.
    Dan hadits ini juga  telah diriwayatkan dari Rasulullah -Sholallahu Alaihi Wassalam-   oleh lima orang sahahat, yang telah disebutkan oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Fathnl Bari' [1/115-116] dan mereka adalah Abu Dzar riwayat Abu Dawud dan An-Nasaa'i, Ibnu Umar diriwayatkan oleh Ahmad, Ath-Thabarani dan Abu Nu'aim, Anas diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam Kholqi af'alil 'Ibad. Dan Al-Bazaar, ia berkata: Sanadnya hasan, Jarir bin Abdullah Al-Bajali, riwayat Abu 'Awanah, Ibnu Abbas dan Abu 'Amir Al-Anshori riwayat Ahmad dan ia berkata: Sanad kedua hadits ini adalah hasan.
   Imam Al-Qodhi 'lyadh berkata sebagaimana dalam Syarh An-Nawawi terhadap Shahih Muslim (1/158): Hadits ini mencakup keterangan seluruh tugas-tugas ibadah, baik yang lahiriyah dan batiniyah, dari pengikat-pongikat keimanan, amalan-amalan anggota badan, mengikhlaskan amalan-amalan yang tersembunyi, mcnjaga dari hal-hal yang merusak amalan. Sampai sesungguhnya ilmu-ilmu syariat seluruhnya kembali dan bercabang darinya. Kemudian ia berkata pula: Dan berdasarkan hadits ini dan bagian-bagiannya yang tiga, kami susun sebuah kitab yang kami beri nama "Maqoshidul Hisanfi ma Yulzimul Ihsan" dimana tidak keluar dari tiga bagiannya sedikitpun kewajiban-kewajiban, sunnah - sunnah, harapan-harapan, keharaman-keharaman, dan perkara-perkara yang makruh.
      Imam An-Nawawi -rahimahulloh-  berkata (1/160): "Danketahuilah bahwasanya   hadits   ini   mengumpulkan   berbagai macam ilmu, pengetahuan-pengetahuan, adab-adab dan hikmah-hikmah yang lembut. Bahkan hadits ini adalah pokoknya Islam sebagaimana yang telah kami nukilkan dari Al-Qodhi 'lyadh."
Imam Al-Qurthubi -rahimahulloh-  sebagaimana dalam Fathul Bari (1/125) berkata: "Hadits ini tepat untuk dikatakan sebagai induknya sunnah, karena perkara-perkarayang terkadung di dalamnya dari berbagai ilmu sunnah."
Imam Ibnu Daqiqil 'led -rahimahulloh-  dalam Syarah Arba'in berkata: "Hadits ini seperti induknya sunnah sebagaimana Al-Fatihah dinamakan induknya Al-Qur'an, karena kandungannya yang telah mengumpulkan makna-makna Al-Qur'an."
Imam Ibnu Rajab -rahimahulloh- berkata di dalam Jami'ul 'Ulum wal Hikam (1/97): "Ini adalah hadits yang agung yang mengandung keterangan seluruh agama ini, oleh sebab itulah Nabi -Sholallahu Alaihi Wassalam-  bersabda di akhir hadits: “ Dia adalah jibril yang mendatangi kalian untuk mengajarkan kalian agama kalian “ setelah menjelaskan tingkatan Islam, iman dan ihsan dan menjadikan semuanya itu adalah agama."   
    Buku ini adalah Syarah dari Hadits Jibril yang telah masyhur di tengah-tengah muslimin yang telah disebutkan jalur sanad nya diatas, yaitu hadits dari Musnadnya shahabat yang mulia Al Faruq Abu Hafsh Umar bin Al Khaththab -Rodliallohu Anhu-  . Adapun yang memberikan syarah, penjelasan dan  mengeluarkan faidah-faidah dari hadits tersebut adalah Syaikh Dr. Abdul Adzim bin Badawi Al Khalafi.
      Banyak faidah yang dapat dipetik dari hadits yang agung lagi mulia ini, mulai dari faidah dalam aqidah, ibadah, adab dan akhlak serta faidah-faidah berharga lainnya. Simak pembahsan nya dalam buku ini
 

Minggu, 02 Juni 2013

Kumpulan Atsar Shahabat ( 1 set 2 jilid)


Judul asli : Silsilah Atsar Ash Shahihah aw Ash Shahih Al Musnad min Aqwalis Shahabah wat tabi’in
Penulis ; Abdulloh Ad Dani bin Munir Ali Zahwi
Fisik : Buku ukuran sedang, hardcover 2 jilid
Penerbit: Pustaka darul Iilmi
Harga Rp 150.000 

Harga Diskon Rp 112.500 

Sesungguhnya Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala-  telah mengembalikan kita kepada kitab-Nya, kepada sunnah Rasul-Nya dan juga kepada manusia-manusia yang paling mengetahui terhadap kitab dan sunnah nabi-Nya,
 
Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- berfirman, “...Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui. (QS. an-Nahl[l6]: 43)
 
Dan Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala-  juga berfirman:  “ Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya) dan ulil amri di antara kamu. "(QS. an-Nisa [4]: 59)
 
Jabir bin Abdillah -Rodliallohu Anhu-  menjelaskan ayat ini, beliau mengatakan, 'Orang-orang ahli fikih dan para ahli kebaikan'. ( Atsar ini dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah dan lainnya dengan sanai yang jayyid(bagus).
 
Ibnu Mas'ud -Rodliallohu Anhu- pernah mengatakan:
“ Manusia itu akan senantiasa dalam keadaan baik selama ia mengambil ilmu dari para shahabat Nabi Muhammad  -Sholallahu Alaihi Wassalam-  dan dari orang-orang besar ( ulama)  di kalangan mereka, namu ketika ilmu itu diambil dari orang-orang kecil, niscaya mereka akan binasa.” ( hadits Dikeluarkan oleh Abdurrazaq -rahimahulloh-  dalam mushannaf-nya dan oleh lainnya dengan sanad yang shahih ]
Tidak diragukan lagi bahwa mereka adalah orang-orang  yang paling baik hatinya, paling dalam ilmunya, tidak membuat-buat, maka mereka lebih layak untuk mendapatkan taufiq dalam memahami Kitabullah dan Sunnah Rasulullah, tidak seperti orang-orang yang tidak mengikuti jalan mereka, hal itu  karena mereka dibekali oleh Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala-  dengan akal yang cemer-ang, lisan yang lurus, ilmu yang luas, mudah menerima, bisa memahami dengan cepat dan baik, jarang atau bahkan tidak pernah menolak, memiliki niat yang baik, dan ketakwaan yang tinggi kepada Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala-  . Bahasa Arab pun sudah menjadi kebiasaan mereka, dalam fitrah dan akal mereka telah tertanam makna-makna yang benar, mereka tidak perlu melihat isnad ( jalur sanad perawi) dan keadaan para perawinya, illat-illat hadits, jarh wa ta'dil dan mereka juga tidak perlu mempelajari kaidah-kadah ushul tidak perlu melihat kepada tabiat-tabiat ahli ushul fikih, meeka semua tidak butuh akan itu semua.

Jadi tidak ada pada mereka kecuali hanya mengatakan antara dua perkataan:
1. mereka hanya mengucapkan: "Allah berfirman seperti ini …dan "Rasulullah bersabda begin!..."; dan
2 . mereka berhak mengatakan, "Maknanya adalah demikian...."
Merekalah orang-orang yang patut untuk mendapatkan dua perkara ini, dan mereka pula yang paling berhak atas keduanya dari umat ini.
       Oleh sebab itu, Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- telah menjadikan momen-momen mereka sebagai bagian dari agama, aqidah, manhaj, ibadah, dan akhlak, inilah kebenaran yang harus diikuti. Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- ber¬firman:
Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka .... (QS. at-Taubah [9]: 100)
Dan firman-Nya:
“Maka jika mereka beriman kepada apa yang kamu telah beriman kepadanya, sungguh mereka telah mendapat petunjuk dan jika mereka berpaling, sesungguhnya mereka berada dalam permusuhan (dengan kamu). (QS. al-Baqarah [2]: 137)
      Dari Abdullah bin Mas'ud  -Rodliallohu Anhu-  ia berkata,
 "Sesungguh-nya Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala-  melihat hati-hati hamba-Nya, dan Dia dapatkan hati Muhammad adalah hati yang paling baik di antara hati-hati hamba-Nya, maka dipilihlah dia untuk diri-Nya. Kemudian, dia diutus dengan risalah-Nya. Setelah dia melihat hati-hati hamba-Nya yang paling baik setelah hati Muhammad , Dia dapatkan hati para shahabatnya adalah sebaik-baik hati di antara hati hamba-Nya, maka mereka dijadikan orang-orang yang berada di belakang nabi-Nya. Mereka berperang untuk membela agama-Nya. Apa yang dipandang oleh orang-orang muslim itu sebagai suatu kebaikan; di sisi Allah pun merupakan kebaikan. Apa yang mereka pandang sebagai suatu keburukan, di sisi Allah juga merupakan keburukan.”
[Atsar hasan, dikeluarkan Imam Ahmad dalam al-Musnad (1/379, No. 3600, tahqiq Ahmad Syakir,  al-Quthai'i dalam tambahannya atas kitab Fadhailus Shahabat (541), Al Hakim dalam al-Mustadrak (111/78), ath-Thabrani dalam al-Mu'jamul Kabir (IX / No. 8582), al-Ajuri dalam asy-Syari'ah (11/413, 414/1204,1205,1206), Al Bazzar dalam Al Bakhr Az Zakhar ( V/212/1816) atau Kasyful Astar ( I/81/130), Abu Bakar bin An Naqur dalam Al Fawaaid (32), dan Ibnul A’rabi dalam Mu’jam nya ( III/443/861) ]
    
 Sunnguh,  Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- telah menjadikan mereka sebagai manusia-manusia yang harus diikuti, maka siapa pun yang datang setelah-nya, ia harus mengikuti mereka, dari sinilah muncul nasihat-nasihat para ulama agar kita tidak keluar dari rel yang mereka lalui. Apabila mereka berselisih hingga muncul dua pendapat di antara mereka, maka tidak boleh kita membuat pendapat yang ketiga, karena kebenaran pasti ada di antara mereka, bahkan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah -rahimahulloh-  dan ulama yang sudah diakui kredibilitasnya atas cakupan ilmu yang ia miliki, menetapkan bahwa mustahil bagi salah seorang imam ketika ia menyendiri dengan pendapatnya dari imam-imam yang lain, dan kebenaran berada padanya kecuali ia bersandar dengan atsar-atsar beberapa shahabat atau minimal salah satu di antara mereka. [Minhajus Sunnah, 5/178].
        
Ibnul Qayyim -rahimahulloh-  menisbatkah kebanyakan perselisihan pendapat yang ada kepada para ahli ilmu, karena memang beliau tidak terikat dengan metode ini, hal itu karena mungkin beliau tidak mengetahui atsar-atsar yang ada atau mungkin karena mengikuti para imam yang ada, maka beliau mengatakan, 'Seandainya mereka sepakat akan hal itu, dan setiap mereka mengarahkan orang-orang yang ia seru agar kembali kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian semuanya berhukum dengan sunnah dan atsar para shahabat, niscaya perselisihan akan terminimalisir, walaupun tidak mungkin untuk ditiadakan secara total di muka bumi ini. [ i'lamul Muwaqi'in, 3/226]
       
umat ini tidak mungkin bisa bangkit dari keterpurukannya kecuali dengan kembali kepada apa yang Nabi -Sholallahu Alaihi Wassalam- dan para shahabatnya berada di atasnya.
Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala-  berfirman:
“ Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. “ (QS. Al-Anfal[8]:63)
Maka segala usaha yang bertujuan untuk mewujudkan kedamaian, jika usaha tersebut tidak didasari dengan asas ini maka semuanya hanyalah usaha yang sia-sia. Perbuatan sedikit tapi sesuai dengan sunnah itu jauh lebih baik daripada banyak tetapi bid'ah.
     
 Oleh sebab itu, sudah termasuk kewajiban orang-orang yang memiliki ilmu untuk memperhatikan atsar-atsar shaha¬bat -Rodliallohu Anhum-, dengan mempelajari dan memisahkan antara atsar yang memang tsabit dari mereka dan atsar yang tidak tsabit dari mereka. Semata-mata untuk menjaga agama, dan mem-buang perselisihan-perselisihan yang sebenarnya mereka tidak berselisih padanya, lalu semuanya dikembalikan kepada Kitab Allah dan Sunnah Rasulullah -Sholallahu Alaihi Wassalam-
Inilah buku berisi kumpulan Atsar Shahabat , yang berisi 350 Atsar Shahabat dan Tabi’in
Atsar adalah segala yang disndarkan kepada Shahabat Rosululloh , atau tabi’in, baik berupa perkataan maupun perbuatan.

SHAIDUL KHATHIR Untaian Renungan Penuh Hikmah Pembangkit Energi Taqwa

    

Penulis : Ibnul Jauzi
Harga : Rp.33.000,-
Harga diskon : Rp 26.000,-

  Deskripsi : xxiv+230 hal. (S)

Tugas seorang Mukmin dalam kehidupan dunia ini adalah menghambakan diri kepada Penciptanya dan bertakwa kepadaNya dengan sebenar-benarnya. Namun tujuan utama ini seringkali terlupakan disebabkan hiruk-pikuk dan gemerlapnya dunia. Maka dari itu, sangat diperlukan sekali nasihat, bimbingan, dan arahan yang bisa mengingatkan kita akan makna hakiki dari kehidupan ini. Dan di antara buah karya para ulama yang sangat mengagumkan dalam hal ini adalah buku Shaidul Khathir, yang ditulis oleh seorang ulama yang terkenal sangat ahli dalam merangkai kata-kata nasihat, Imam Ibnul Jauzi Rahimahullah

Dan buku ini merupakan intisari dari buku tersebut. Dalam buku ini, beliau menjelaskan tentang rahasia dan makna dari kehidupan ini; bagaimana seharusnya cara pandang dan sikap seorang Mukmin terhadap diri, lingkungan, orang-orang yang ada di sekitarnya, dan peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam hidupnya; pentingnya mawas diri; cara menjauhkan diri dari kelalaian; cara mengalahkan hawa nafsu; sebab-sebab keresahan dan kegundahan hati, dan tema-tema lainnya yang akan memperdalam ma'rifat kita kepada Allah dan membangun jiwa kita sehingga kita dapat menjadi pribadi yang bertakwa. Selain itu, dalam buku ini dibahas pula tentang akhlak, adab, etika pergaulan, arahan-arahan berharga untuk mengatur kehidupan, dan nasihat-nasihat yang beliau tujukan untuk berbagai kalangan, seperti nasihat untuk orang yang sudah lanjut usia, suami, istri, penuntut ilmu, penceramah atau pemberi nasihat, dan lain sebagainya. 

Untaian nasihat dan pesan di dalamnya sangat bernilai dan menyentuh kalbu, yang semuanya merupakan buah pemikiran dan perenungan yang sangat mendalam dari penulisnya, bahkan sebagiannya merupakan pengalaman pribadi beliau. Semoga buku ini bisa menjadi tangga pertama bagi Anda untuk menuju pribadi yang benar-benar bertakwa.

"TERIMAKASIH SUDAH MAMPIR KE BLOG INI SILAHKAN DILIHAT DULU KATALOG DAN RESENSI BUKUNYA SEMOGA BERKENAN JAZAKUMULLAH KHOIRON KATSIRAN"