Penulis : Abu Umar Basyir
Penerbit Shofa Publika
Harga Rp 32000
Harga Diskon Rp 26.000
|
“Sederhana saja kok. Dalam mimpi itu aku merasa duduk di sebuah meja
yang besar sekali. Besar yang tak lumrah. Di atas meja itu bertumpuk
buku-buku dalam jumlah yang sangat banyak yang tak bisa kuperkirakan
berapa buah. Ada yang kecil, sedang, besar, bahkan ada yang sangat besar
dan tebal sekali, mirip kamus Al-Munjid, bahkan lebih tebal lagi.
Aku tengah membaca salah satu buku tersebut, ketika secara tiba-tiba muncul api besar melahap segala yang ada di hadapanku. Buku-buku itu terbakar hebat dan mengepulkan asap pekat yang membuat dadaku sesak. Mataku sulit memandang ke depan. Aku berusaha mencari-cari pintu keluar, tapi tak kutemukan. Saat aku sedang panik, sedangg bingung mencari jalan selamat, saat itu pula aku terjaga. Mimpi pertama dan mimpi keduaku sama persis, tak ada bedanya sama sekali. Saat terbangun tadi pagi, aku bahkan merasa seolah-olah aku sedang tidur di pesantren…”
Rusydi terdiam. Ia terlihat berpikir keras, mencoba merenungi detil-detil mimpiku. Farhan masih duduk santai seperti kebiasaannya. Aku menanti kalau-kalau Farhan mengerti takwil mimpi tersebut. Tapi yang berbicara duluan justru Rusydi.
“Boleh aku coba menakwilkannya, Yud…”
Aku memandang ke arah Farhan. Pemuda itu mengangguk, tanda ia setuju.
“Silakan, Rusy…”
“Begini Yud. Menurutku, mimpi itu memang sederhana saja. Terlihat sekali kok dalam gambaran yang kamu paparkan tadi, yakni kalau melihat kehidupanmu selama ini…”
“Maksudmu?”
“Mimpi itu gambaran dari petualanganmu memahami kebenaran. Buku-buku itu gambaran dari lautan ilmu. Meja itu ungkapan dari daya tampung ilmu yang dibentangkan di hadapanmu. Jumlah buku itu sendiri adalah (ibarat dari banyaknya detil-detil ilmu yang kamu pelajari…”
“Lalu?”
“Kondisimu yang sedang membaca menunjukkan kegigihanmu belajar di depan
tumpukan ilmu yang tersaji. Sementara api yang membakar segala sesuatu
di hadapanmu, termasuk buku-buku berisi ilmu yang ada di depanmu, tidak
lain merupakan gambaran dari kegagalanmu memanfaatkan semua ilmu itu
untuk hal-hal yang bermanfaat buat dirimu dan orang-orang di sekitarmu.
Kamu sendiri yang telah menutupi keberkahan semua ilmu tersebut…”
……
(nukilan dari “Sang Liberalis” Pengalaman petualangan pribadi yang haus akan pengetahuan dan kebenaran tetapi akhirnya limbung dalam ber-Islam karena pemahaman yang mendewakan akal
……
(nukilan dari “Sang Liberalis” Pengalaman petualangan pribadi yang haus akan pengetahuan dan kebenaran tetapi akhirnya limbung dalam ber-Islam karena pemahaman yang mendewakan akal
Tidak ada komentar:
Posting Komentar