Rabu, 27 Juni 2012

MENANGIS KARENA TAKUT DAN RINDU KEPADA ALLAH

Bagi kaum lelaki, menangis merupakan aib yang tidak dibenarkan. Kapan pun dan di mana pun. Karena, walau  bagaimana, kelelakian adalah merupakan simbol ketangguhan dan keperkasaan. Merupakan suatu tindakan cengeng jika tangisan menghiasi mata sang lelaki. Tindakan yang biasanya lumrah bagi wanita, sebagai ungkapan perasaannya, baik karena kesal atau karena rindu terhadap sang kekasih (suami) atau pun lainnya. Di hadapan Allah swt, tidak ada yang perkasa. Tidak ada yang gagah berani dan tidak ada pula yang hebat. Dia-lah yang memiliki segalanya. Sehingga tangisan di hadapan-Nya, baik karena takut maupun rindu, merupakan simbol kehambaan yang sudah seharusnya ditunjukkan oleh siapa pun. Sikap inilah yang ditunjukkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. sebagai teladan sepanjang zaman.

Dari Ibnu Mas’ud radiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Suatu ketika, Rasulullah  Shallallahu ‘Alaihi Wasallam meminta Aku agar membacakan al-Qur'an kepadanya. (Dengan perasaan malu), Ibnu Mas'ud mengungkapkan, "Bagaimana (mungkin) Aku membacakan al-Qur'an kepadamu wahai Rasulullah !? padahal al-Qur'an ini diturunkan kepadamu ". "Saya ingin mendengarnya dari orang lain" ungkap beliau. Maka, Ibnu Mas'ud pun memulai bacaannya dari surah an-Nisaa'. Ketika sampai pada ayat 41 yang berbunyi, "Maka bagaimanakah (halnya orang kafir nanti), apabila kami mendatangkan seseorang saksi (rasul) dari tiap-tiap umat dan kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (umatmu)..". Rasulullah pun dengan lembut mengatakan, "Cukup". Ketika saya (Ibnu Mas'ud) menoleh kepadanya, ternyata air mata Rasulullah  Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sedang bercucuran. (HR.Bukhari dan Muslim).
Kalangan sahabat sebagai siswa dalam madrasah Rasulullah,  juga mewarisi sikap demikian. Mereka adalah pribadi-pribadi yang cengeng di hadapan Allah swt di malam hari, tetapi perkasa bak harimau di siang hari di hadapan musuh dan di medang pertempuran.
Dari Anas radiyallahu ‘anhu, ia melaporkan, “Suatu ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam naik mimbar. Ia kemudian berkhutbah seperti biasanya. Tetapi, khutbah ketika itu tidak sama dengan khutbah Rasulullah sebelumnya. Nuansanya berbeda. Beliau mengatakan, "Jika kalian mengetahui apa yang aku ketahui maka pasti kalian sedikit tertawa dan banyak menangis". Sahabat-sahabat beliau pun menutupi wajah mereka sambil terdengar suara seperti kerumunan lebah (karena suara tangisan mereka
(HR. Bukhari dan Muslim).
Ummat sebelum Islam (ahli kitab), yang beriman kepada Allah swt., juga demikian keadannya. Keimananlah yang membuat mata mereka basah oleh air mata kerinduan terhadap rahmat-Nya. Sebagaimana mereka menitikkan air mata karena takut terhadap siksaan-Nya. Kondisi mereka dideskripsikan oleh Allah swt dalam firman-Nya, 
"Sesungguhnya orang-orang yang diberi pengetahuan sebelumnya apabila Al Quran dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur atas muka mereka sambil bersujud, Dan mereka berkata: "Maha Suci Tuhan kami, Sesungguhnya janji Tuhan kami pasti dipenuh. Mereka tersungkur dengan muka mereka sambil menangis sehingga Allah pun senantiasa menambah ke-khusyu-an (dalam hati mereka)". (QS. al-Israa' : 107-109).

KEUTAMAAN MENANGIS KARENA ALLAH SWT.

Karena tangisan merupakan simbol keimanan bagi orang mukmin, maka keutamaan yang di milikinya sangat mengesankan. Sebut saja misalnya sebuah riwayat yang dirilis oleh Abu Hurairah r.a. Ia mengabarkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam  pernah menginformasikan
"Tidaklah akan masuk nereka seseorang yang menangis karena takut kepada Allah, sehingga air susu kembali ke asalnya (tempat keluarnya). Debu peperangan di jalan Allah swt tidak akan menyatu selamanya dengan asap api neraka". (HR.Tirmidzi).
Bahkan orang yang menangis ketika mengingat Allah dalam keadaan sendirian dengan hati yang terpaut dengan Allah swt. termasuk dalam kategori orang-orang yang mendapatkan naungan di akhirat nanti. Hari di mana naungan tidak akan diperoleh kecuali mereka yang memiliki kedekatan dengan Allah swt. Abu Hurairah melaporkan, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam  pernah bersabda,

"Ada tujuh golongan yang diberikan tempat bernaung pada hari (kiamat). Hari di mana manusia tidak mempunyai tempat bernaung kecuali naungan-Nya : Pemimpin yang adil, pemuda yang tumbuh dalam nuansa ibadah kepada Allah swt., orang yang tertambat hatinya dengan masjid, dua orang yang saling mencintai karena Allah. Mereka berdua berkumpul dan berpisah karena cinta karena Allah. Seseorang yang diajak (berbuat mesum) oleh seorang wanita bangShallallahu ‘Alaihi Wasallam an dan berparas cantik, lalu ia jawab, "Saya takut kepada Allah", seseseorang yang bersedekah dengancara sembunyi-sembunyi sehingga tangan kirinya tidak menegetahui apa yang dilakukan tangan kananya (ketika bersedakah), dan orang yang mengingat Allah kala sendirian (dan dengan penuh ke-khusyu'an) , lalu matanya basah (karena takut dan rindu kepada Allah swt.)".  (HR.Muttafaq Alaihi).
Demikianlah tangisan yang di landasi dengan iman yang menghasilkan rasa rindu (raja') untuk bertemu dengan Sang Kekasih. Rasa yang juga dilapisi pula oleh  rasa takut (khauf) kepada-Nya karena adanya neraka yang merupakan simbol kemarahan-Nya. Kedua faktor inilah yang berada dibalik tangisan orang-orang mukmin. Walaupun sisi kerinduan yang paling mendominasi dirinya saat-saat air mata membasahi wajahnya.

RAJA' (HARAP) DAN KHAUF (TAKUTYANG MELAHIRKAN TANGISAN.

Raja' adalah ketenangan hati dan kedamaian jiwa karena mengharapkan sesuatu yang dicintai. Jika faktor-faktor pendukung raja' ini sempurna maka ia akan menghasilkan tangisan yang mewujudkan perasaan tenang dan perasaan tentram. Namun jika perangkat-perangkatnya tidak padu dan tidak apik, ia akan menghasilkan pribadi yang terpedaya. Pribadi yang berharap dengan harapan yang berlebihan kepada Allah swt. sehingga lupa bahwa di samping rahmat Allah yang ia harapkan, juga di sana ada kemurkaan-Nya yang harus dipertimbangkan dan dihindari. Untuk peribadi demikian, tangisan tidak bisa hadir pada pelupuk matanya. Perasaannya yang diselimuti oleh harapan akan rahmat Allah membuatnya terlena. Sikap yang merefleksikan ketidakkeritisan terhadap kualitas ibadah yang ia lakukan terhadap Zat yang diharapkan rahmat-Nya (Allah Swt.).
Jika sikap  kritis ini tidak hadir pada diri seseorang ketika melakukan amalan, maka kualitas ibadahnya tidak lagi maksimal. Sikap kritis ini sering dikenal dengan istilah muraqabah. Yaitu sebuah aktifitas yang mementingkan kritik ketika dan setelah melakukan amalan. Apakah sudah layak dan pantas untuk dimajukan, dan bagiamana seharusnya pada pase selanjutnya?. Sikap inilah yang disebut oleh Rasulullah sebagai sikap cerdas seorang mukmin dalam beribadah. Dalam sebuah sabdanya, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam . menegaskan,
"Orang yang cerdas adalah siapa yang selalu mengkeritisi dirinya dan beramal (dengan malan yang baik) sebagai persiapan untuk (hidup) setelah mati nanti (akhirat)." (HR. Tirmidzi)
Jika ditelusuri lebih mendalam, muraqabah ini merupakan implementasi dari sikap khauf (rasa takut) seseorang jika amalannya belum pantas dan layak untuk dipersembahkan. Baik ketidakpantasan itu dari segi kualitas maupun kuantitas. Inilah yang sering kita dengar dari para ahli suluk bahwa dalam rangka melakukan spiritual journey  menuju Allah, hendaknya seseorang terbang dengan dua sayap, sayap al-khauf dan sayap al-raja'. Hanya saja, pada saat tertentu, seperti sakit misalnya, sisi al-raja' seharusnya lebih ditegaskan, karena nuansanya sedang berada pada level al-khauf. Demikian pula ketika sedang segar bugar, dengan nuansa al-raja' yang lebih mendominasi, sisi al-khauf perlu dihadirkan dan dipertegas keberadaanya.
Perangkat-perangkat al-raja' yang di maksud di sini, yang dengannya seseorang tidak terpedaya adalah :
1.      Mencintai apa yang diharapkan (mahabbah).
2.      Merasa khawatir jika kehilangan apa yang diharapkan (khauf).
3.      Selalu berusaha untuk mendapatkannya (.raja’)
Setiap orang yang berharap pasti merasa takut dan cemas jika tidak merasa yakin bisa mendapatkan apa yang diharapkannya, dan bila orang yang sedang berjalan merasa khawatir ketinggalan pasti ia berusaha untuk berlari.
Raja' adalan penantian terhadap sesuatu yang disenangi, setelah memenuhi semua persyaratan yang butuhkan berdasarkan pada kemampuan seseorang. Raja' di sini dikiaskan, misalnya, dengan penanaman tumbuhan. Semua orang yang akan menanam pasti akan mencari lahan yang subur sebagai tempat persemaian. Di sanalah benih dengan kualitas tinggi itu disemai. Selanjutnya ia melakukan perawatan yang baik dan terus menerus sesuai dengan kebutuhan dan tuntunan. Menyianginya dan menjaganya dari berbagai serangan hama dan berbagai penyakit. Setelah itu, ia menunggu rahmat Allah swt. hingga masa panen tiba. Inilah gambaran ideal dari sebuah raja'. Dan raja' demikianlah yang dikehendaki setelah semuanya dilakukan dan diuapayakan.
Untuk lebih kongkritnya, dunia adalah sebuah ladang, sedang hasilnya akan dipanen pada hari akhirat kelak. Sementara hati itu layaknya bumi. Iman laksana benih, ketaatan ibarat pengolahan tanah dan usaha untuk menyianginya serta upaya untuk mengalirkan air kepadanya. Sedang hati yang terpesona oleh dunia dan terbuai olehnya adalah seperti tanah gersang yang tidak bisa menumbuhkan benih. Sementara pada hari kiamat adalah waktu panen. Dan seseorang tidak akan memanen kecuali apa yang pernah disemainya. Benih tidak akan tumbuh kecuali benih iman. Iman sangat jarang memberi manfaat bila hatinya busuk dan akhlaknya buruk. Demikianlah gambaran yang dilukiskan oleh Ahmad Farid dalam bukunya, 16 Langkah Menuju Puncak Kedamaian Jiwa.

KHAUF (RASA TAKUT) SEBAGAI PENYEIMBANG.

Jika raja' merupakan piranti kasih sayang yang dibukakan secara luas oleh Allah bagi hamba-Nya, maka khauf merupakan cambuk yang dapat memicu mereka untuk mendekat kepada-Nya. Memang benar, ujung dari raja' dan khauf adalah kedekakatan dengan Allah. Karena memang untuk itulah jin dan manusia  diadakan di pentas kehidupan ini. Khauf merupakan kondisi seseorang yang merasakan sakit dan terbakarnya hati akibat dari rasa takut akan terjadinya sesuatu yang tidak menyenagkan di kemudian hari. Khauf-lah yang berperan dan mengerem nafsu manusia dari keserakahan, angkara murka dan dosa. Dia pula yang mengikat manusia untuk menunjukkan ketaatan kepada Allah swt.
Khauf sesungguhnya merupakan hasil dari pengenalan terhadap Allah swt (ma'rifatullah). Pengenalan yang dihasilkan berdasarkan pada penelusuran terhadap nama-nama, sifat-sifat dan perbuatan-perbuatan Allah swt. Ma'rifatullah demikian akan merefleksiakan rasa takut sekaligus mewujudkan koreksi diri seorang muslim akan hak-hak Yang Maha Agung, yang selama ini diabaikan atau belum termaksimalkan.  Dengan kata lain, dengan mengenal Allah secara baik maka secara otomatis kekerdilan manusia akan tampak. Baik kekerdilan itu sebagai mahluk lemah maupun kekerdilan amaliah dan kepicikan tingkat kepatuhan terhadap Sang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang. Dengan demikian, orang yang paling takut kepada Allah swt adalah orang yang paling mengenal dirinya setelah mengenal Tuhannya sendiri. Maka tidaklah mengherankan jika Rasulullah sebagai penghulu para nabi menegaskan, sebagaimana dirilis oleh Imam Bukhari dalam kitab Shahih-nya, "Demi Allah, Sungguh aku adalah orang yang paling tahu tentang Allah dan paling takut kepada-Nya". (HR Bukhari).
Jika kita mengetahui bahwa para ulama merupakan pewaris nabi, maka tentunya pula kita menyadari bahwa ulama pulalah yang memiliki tingkat pengenalan yang baik tentang Allah swt. Dengan pengenalan demikian mereka kemudian menjadi mahluk yang paling takut kepada-Nya. Asumsi ini ditegaskan oleh firman Allah yang berbunyi,
" Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama[1258]. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun".(QS Fathir : 28).
Jika demikian, orang yang takut sesungguhnya bukanlah mereka yang mengusap air matanya dan tidak pula yang sesegukan akibat tangisan yang menghiasi wajahnya. Tetapi takut yang sebenarnya adalah mereka yang meninggalkan hal-hal yang dikhawatirkan dapat menjerumuskannya ke dalam kubangan siksaan.
Abu al-Qasim al-Hakim berpesan, "Siapa yang takut dengan sesuatu, dia pasti akan menghindari darinya. Dan siapa yang takut kepada Allah, dia akan berlari menghindari siksa-Nya dan berusaha mendekatkan diri kepada-Nya". As-Syibli berkata, "Setiap kali aku takut kepada kepada Allah, pasti Aku melihat pintu hikmah dan pelajaran yang berharga". Yahya bin Muadz mengatakan, "Setiap orang mukmin yang mengerjakan kemaksiatn, pasti ia akam mensikapinya dengan dua cara : Takut terhadap siksaan dan berharap adanya ampunan".
Khauf akan membakar syahwat dan kenginan-keinginan terhadap perkara yang haram. Sehingga kemaksiatan yang ia cintai berubah menjadi sesuatu yang paling ia benci. Sebagaimana madu dibenci oleh orang yang sangat menyenaginya manakala ia mengetahui bahwa terdapat racun padanya. Syahwat akan terbakar oleh rasa khauf (takut). Bagian-bagian tubuhnya mempnyai tatakrama dan adab yang dipatuhi. Hatinya menjadi lahan subur bagi tumbuhnya ke-khusyu'an, rasa hina dan rendah diri di hadapan Allah swt. Dia akan ditinggalkan oleh kesombongan, dendam, iri dan dengki. Bahkan perhatiannya semakin tajam, karena pengaruh rasa khauf-nya dan memeperhatikan terhadap akibat dan sanksi yang ia peroleh jika melanggar aturan. Kini perasaan selalu terawasi yang dikenal dengan sebutan muraqabah menjadi aktifitas baru yang dibarengi dengan usaha sungguh-sungguh yang disebut mujahadah untuk membersihkan jiwa dan lahiriahnya dari dominasi syahwat dan prilaku setan.
Demikan besar urgensi khauf, sehingga sikap ini menghasilkan petunjuk, rahmat, ilmu dan keridha'an Allah swt. Allah berfirman,
"Dan dalam tulisannya terdapat petunjuk dan rahmat untuk orang-orang yang takut kepada Tuhannya". (QS. al-A'raf : 154).
Firman-Nya, "Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun". (QS. Fathir : 28).
Juga firman-Nya,  
"Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepada-Nya. yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya". (QS.al-Bayyinah : 8).
Allah swt selalu mewanti-wanti agar menajadikan khauf sebagai komponen mendasar dari keimanan yang hanya pantas ditunjukkan kepada-Nya semata. Terhadap setan yang biasanya dijadikan simbol yang ditakuti, Allah menegsakan bahwa, sikap takut itu seharusnya hanya ditujukan kepada-Nya semata. Karena Dia-lah sesungguhnya yang pantas ditakuti. Dengan rasa takut kepada-Nya, setan yang biasanya menggetarkan jiwa menjadi tidak berarti apa-apa. Setan hanya pantas dikhawatirkan jika seandainya mengelabui manusia dari jalur menuju Allah swt.(baca : Kebenaran). Karenanya, Allah menegaskan,
"Sesungguhnya mereka itu tidak lain hanyalah syaitan yang menakut-nakuti (kamu) dengan kawan-kawannya (orang-orang musyrik Quraisy), Karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepadaku, jika kamu benar-benar orang yang beriman."  (QS. Ali Imran : 175).
Selain faktor khauf dan raja' yang menghasilkan tangisan, juga terdapat beberapa faktor yang merupakan wujud lain dari kedua faktor di atas. Di antaranya, kesedihan terhadap peristiwa lampau yang menyedihkan bersama teman seperjuangan dalam meniti jalan Allah swt. Sikap demikian ditunjukkan oleh Abdul Rahman bin Auf. Sebagaimana riwayat beliau berikut :

Artinya, ”Dari Abdul Rahman bin ’Auf, bahwasanya, suatu ketika, saat ia disuguhi makanan, padahal ia sedang puasa. (Sedangkan orang yang berpuasa biasanya sangat mengharapkan makanan. Tetapi beliau teringat dengan saat-saat yang dilewatiya bersama para sahabat utama yang telah syahid lebih dulu. Dengan menganggap remeh dirinya dibanding mereka, beliau mengatakan,) "Mush'ab bin Umair telah terbunuh, padahal ia lebih baik dariku". Ketika ia meninggal, kain kapan saja susah didapatkan untuk mengapaninya. Hanya sebuah kain burdah yang digunakan untuk itu. Jika kain itu ditarik untuk menutupi kepalanya, maka kakinya akan tersingkap. Tapi ketika kakinya ditutup dengan kain tersebut, maka kelihatanlah kepalanya. Lalu dunia ini (dengan segala kenikmatannya) dibukakan kuncinya, atau dengan redaksi lain, ia mengatakan, ”dunia ini telah diserahkan kepada kami (untuk dikuasai secara politis). Namun Saya khawatir kalau semua kenikmatan ini adalah kebaikan kami yang disegarahkan balasannya di dunia ini”. Lalu beliau menangis sejadi-jadinya hingga makanan tidak lagi disentuh olehnya”. (HR. Bukhari)
Mush'ab bin Umair adalah seorang pemuda tampan yang hidup mewah bersama kedua orang tuanya di Mekah pada masa jahiliah. Pakaiannya saja sangat berkelas dan dipenuhi dengan aroma wewangian. Ia banyak diidolakan di kota Mekah oleh banyak gadis. Tetapi setelah ia masuk Islam, kehidupannya berubah drastis dengan berusaha menjauhi kemewahan dan memilih hidup sederhana. Bahkan pakaiannya ada yang compang camping. Ia ikut hijrah ke kota Madinah dan hidup di sana sebagai muhajirin. Ketika perang Uhud berkobar, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam  menyerahkan bendera perang kepadanya. Di sanalah ia menemukan predikat sebagai syuhada Uhud.
Abdul Rahman bin Auf mengingat peristiwa itu kemudian mengatakan, "Mereka (sahabat utama yang telah syahid) telah berlalu dan selamat dari godaan dunia berupa harta rampasan perang yang begitu melimpah bagi generasi belakangan". Kemudian ia melanjutkan, "Kami khawatir jika kebaikan kami disegerahkan (balasannya di dunia berupa kenikmatan demikian)". Karena memang orang kafir disegerahkan balasan kebikannya di dunia, sehingga di akhirat kelak mereka hanya mendulang siksa yang tiada bertepian. Sedang orang mukmin bisa jadi mendapatkan balasan kebaikannya di dunia maupun di akhirat. Tetapi balasan akhirat itulah sesungguhnya yang lebih penting. Beliau khawatir jika kebaikannya disegerahkan balasannya di dunia ini, sehingga ia menangis penuh kekhawatiran dan harapan. Ia pun meningalkan makanan.
Kasus lain yang mirip dengan kajadian tersebut di atas adalah riwayat yang disampaikan oleh Anas radiyallahu anhu.

Anas melaporkan, ”Abu Bakar berkata kepada Umar radiyallahu anhuma, setelah wafatnya Rasulullah saw, ”Ayo kita sama-sama pergi menemui Ummu Aiman rdiyallahu anhuma, sebagaimana Rasulullah saw sering mengunjunginya. Tatkala kami tiba dan bertemu dengannya, Ummu Aiman menangis (penuh kesedihan). Abu Bakar dan Umar berkata kepadanya, ”Kenapa Anda menangis ?” Bukankah Anda tau bahwa keberadaan Rasulullah saw di sisi Allah itu lebih baik. Ummu Aiman menjawab, ”Saya tidak menangis, saya juga tidak tahu bahwa keberadaan Rasulullah saw di sisi Allah itu lebih baik. Saya hanya menangis karena wahyu telah terputus dari langit. Maka, mendengar ungkapan Ummu Aiman tersebut, Abu Bakar dan Umar pun tidak tahan menahan cucuran air matanya. Mereka berdua pun ikut menangis bersama Ummu Aiman”. (HR Muslim)

Orang-Orang Shalih Terdahulu Yang Menangis Karena Takut Kepada Allah

1. Abdussalam (mantan budak Maslamah bin Abdul Malik) berkata, “Umar bin Abdul Aziz pernah menangis, lalu Fathimah ikut menangis. Namun mereka tidak tahu apa yang membuat mereka menangis. Ketika mereka selesai menangis, Fathimah bertanya, “Ya Amirul Mukminin, mengapa anda menangis?” Umar menjawab, “Fathimah, aku teringat hari dimana manusia dipisahkan dari hadapan Allah; satu kelompok di dalam Surga dan kelompok lainnya di dalam Neraka.” Kemudian ia berteriak dan pingsan. [Hilyatul Auliya' 5/269]

2. Apabila Umar bin Abdul Aziz mendengar pembicaraan tentang kematian, maka tubuhnya menggelepar seperti burung dan menangis sampai air matanya mengalir di jenggotnya.” [Hilyatul Auliya' 3/316]

3. Hani’ (mantan budak Utsman bin Affan) berkata, “Apabila Utsman bin Affan berdiri di atas kuburan, ia menangis hingga jenggotnya basa oleh air mata.” [Hilyatul Auliya' 1/61]

4. Malik bin Anas berkata, “Muhammad bin Munkadir adalah penghulu para pembaca. Hampir setiap kali ada orang yang bertanya kepadanya tentang hadits, ia selalu menangis.” [Hilyatul Auliya' 2/147]

5. Abu Ayyub al-A’raj berkata, “Sa’id bin Jubair selalu menangis di malam hari sampai rabun.” [Hilyatul Auliya' 4/272]

6. Sa’id bin Jubair berkata, “Aku tidak pernah melihat orang yang lebih perhatian terhadap kemuliaan Baitullah ini daripada orang Bashrah. Pada suatu malam aku pernah melihat seorang wanita muda bergelayutan pada tirai Ka’bah. Ia memanjarkan doa, menangis dan menghiba sampai meninggal dunia.” [Hilyatul Auliya' 4/276]

7. Ali bin Abdillah berkata, Kami pernah bersama Yahya bin Sa’id al-Qaththan. Ketika ia keluar dari masjid, kami pun keluar bersamanya. Tatkala tiba di pintu rumahnya ia berdiri, dan kami pun berdiri. Lalu ia berkata kepada seorang pria, “Bacalah!” Pria itu pun membaca surat ad-Dukhan. Ketika ia mulai membaca aku melihat Yahya bin Sa’id berubah, hingga ketika sampai pada ayat,
Sesungguhnya hari keputusan itu adalah waktu yang dijanjikan bagi mereka semuanya.” [QS.ad Dukhan:40] Tiba-tiba Yahya menjerit dan pingsan. Ia baru siuman setelah sekian lama. Kemudian kami menemuinya. Ternyata ia tengah tertidur di atas pembaringannya serayas membaca, “Sesungguhnya hari keputusan itu adalah waktu yang dijanjikan bagi mereka semuanya.” [QS.ad Dukhan:40]. Maka keadaan itu terus berlangsung sampai ia meninggal dunia. [Hilyatul Auliya' 8/383]
Demikianlah potret tangisan sahabat yang lahir dari rasa khauf dan raja-'nya kepada Allah swt. Semoga kita diberikan kemampuan menangisi dosa-dosa kita kepada Allah. Amin.Wallahu a'lam.
Sumber :
http://idrusabidin.blogspot.com

Doa dan Wirid Dengan Transliterasi Indonesia


 Penulis : Dr. Said Bin Ali Bin Wahf Al-Qahthani
Harga Rp 19,000
Harga Disc  Rp 16.000

Buku Ini Berisi Kumpulan Doa Dan Wirid Yang Anda Perlukan Dalam Kehidupan Sehari-Hari. Disusun Secara Lengkap Dan Terperinci. Diambil Dari Hadits-Hadits Rasulullah Yang Shahih Sehingga Anda Tidak Perlu Ragu Lagi Dalam Mengamalkannya.




"TERIMAKASIH SUDAH MAMPIR KE BLOG INI SILAHKAN DILIHAT DULU KATALOG DAN RESENSI BUKUNYA SEMOGA BERKENAN JAZAKUMULLAH KHOIRON KATSIRAN"