Rabu, 23 Mei 2012

Keyakinan, Ucapan & Perbuatan Pembatal Keislaman

Penulis : DR. Abdul Aziz bin Muhammad al-Abdul Lathif,
Penerbit: Pustaka Sahifa
Harga : Rp 139,000
Harga Diskon 25% : Rp 104,250
Semua kaum Muslimin insya Allah paham dengan apa-apa yang membatalkan wudhu, Shalat dan Puasa. Tentu ini adalah suatu yang menggembirakan, karena mengetahui apa-apa yang membatalkan suatu ibadah adalah suatu kewajiban. Akan tetapi yang lebih wajib dari itu adalah mengetahui apa-apa yang membatalkan Iman dan Islam yang menyebabkan pelakunya keluar dari Islam, atau terjatuh ke dalam kekufuran. Yang membatalkan Iman bisa berupa keyakinan, ucapan dan perbuatan, dan bentuknya banyak, yaitu syirik, mencaci Allah, mengingkari sesuatu dari Syariat, menghina Nabi SAW, mengingkari kebangkitan kembali di akhirat, mengaku sebagai nabi, dan sebagainya. Dan buku kita ini, yang aslinya adalah disertasi doktoral, mengulas setiap masalah tersebut secara akademis, menyeluruh, metodologis, dan kuat berdasarkan al-Qur`an, as-Sunnah yang shahih, dan ijma' serta dilengkapi dengan perkataan-perkataan ulama dalam masing-masing masalah. Kajilah buku ini agar Anda dan orang-orang di sekitar Anda terhindar dari ketergelinciran ke dalam kekufuran tanpa disadari.

Muawiyah Bin Abu Sufyan

Penulis : Dr. Ali Muhammad Ash-Shalabi
1076 hal. (HC)
Harga
: Rp.159.000,- 
Harga Disc 25%  Rp 119.250

 Mu'awiyah bin Abu Sufyan telah menjadi orang besar sejak Rasulullah masih hidup, yaitu sebagai salah seorang penulis wahyu. Di zaman kekhalifahan Abu Bakar , Mu'awiyah adalah salah seorang panglima penting dalam penaklukan Syam. Pada masa Umar , Mu'awiyah telah muncul menjadi sosok yang unggul hingga khalifah Umar menyerahkan Damaskus dan Ba'labak di bawah kepemimpinannya. Dan di masa Utsman , Mu'awiyah meraih puncak pencapaian yang gemilang; berhasil menaklukkan banyak wilayah di Syam, salah satu pusat kekuatan Romawi paling kokoh ketika itu. Dan di masa itu pula, untuk pertama kali, umat Islam berhasil membentuk pasukan angkatan laut yang hebat, dan ini sekali lagi adalah jasa Mu'awiyah. 

Tetapi ketika Ali bin Abi Thalib menjadi khalifah, kenapa Mu'awiyah tidak mau berbai'at? Sikap Mu'awiyah ini kemudian memicu berbagai peristiwa besar: Perang Shiffin, peristiwa tahkim, munculnya Khawarij, munculnya agama Syi'ah; yang hingga kini semua itu terus menjadi bahan kajian menarik. Buku ini, mengulas secara faktual disertai dengan analisa yang kuat, semua yang terjadi dalam kurun waktu itu, kasus demi kasus; sehingga berbagai peristiwa yang tampak bagaikan tumpukan peristiwa acak, dan fitnah tumpang tindih menjadi terurai dan terpetakan dengan jelas. 

Di antara gerakan Jihad yang dilakukan Mu'awiyah adalah menghadapi Romawi Byzantium yang berpusat di Konstantinopel, yang ketika itu adalah palang pintu benua Eropa. Dan yang paling spektakuler adalah keberhasilan Mu'awiyah menaklukkan Afrika Utara seluruhnya. Kemudian menaklukkan ke arah timur hingga mencapai Khurasan, Sijistan, dan negeri-negeri seberang sungai Jaihun (kini: Sungai Amu Darya). Mu'awiyah telah mengabdikan hidupnya di jalan Allah selama empat puluh tahun; dua puluh tahun sebagai gubernur dan dua puluh tahun sebagai khalifah, yang sepanjang masa itu penuh dengan torehan jasa yang luar biasa bagi kaum Muslimin. 

Tetapi di akhir hidupnya, mengapa Mu'awiyah membai'at putranya, Yazid? Padahal kala itu masih banyak para sahabat hebat yang masih hidup. Kemudian di zaman Yazid inilah cucu Nabi, al-Husain bin Ali terbunuh. Apa yang sebenarnya terjadi? Siapa yang bertanggung jawab? Lebih dari itu, apa sebenarnya yang menyebabkan hari terbunuhnya al-Husain diperingati oleh agama Syi'ah sebagai hari yang utama dalam agama mereka? Kemudian, jauh hari setelah al-Husain terbunuh, khurafat tersebar simpang siur, hingga tidak kurang dari enam kota besar di berbagai belahan bumi ini mengklaim bahwa kepala al-Husain y dimakamkan di sana; di mana sebenarnya kepala al-Husain dimakamkan?

 Buku ini adalah salah satu rujukan sejarah yang penting bagi kaum Muslimin. Dan ini adalah salah satu usaha kami untuk ikut mengurai sejarah yang telah dibuat kusut oleh para Orientalis dan Syi'ah.


Aku Bukan Salafi

Penulis : Abu Umar Basyir
Penerbit Unaizah Media
Harga Rp 27.000
Harga disc Rp 22.000
“Kalau kata Salafi itu berarti berkata-kata kasar, mudah menuduh sesama muslim sebagai Ahli Bid’ah, mudah menganggap bahwa hanya diri sendiri salafi sementara salafi lain adalah salafi palsu, maka saksikanlah SAYA BUKAN SALAFI.
Dahsyat!!!
Buku ini akan menata ulang kembali pemahaman Anda tentang Salaf, Salafi & Salafiyyah.
Tepat dibaca oleh Anda yang belum mampu ‘simpati’ dengan dakwah salaf karena masih ‘blank’ tentangnya atau pernah tersakiti oleh sebagian oknum yang mengaku salafi.
Pas dibaca oleh Anda yang telah menetapkan diri sebagai salafi, sebagai bahan koreksi diri



Sepenggal Duka Di langit Cinta


Penulis : Abu Umar Basyir
Penerbit Shofa Publika
Harga Rp 30000
Harga Diskon  Rp 25.000,-
Sepenggal Duka Dilangit Cinta. Sepenggal Duka Dilangit Cinta merupakan novel seri ke 5 yang ditulis oleh Ustadz Abu Umar Basyir. Setelah sukses dengan novel-novel islami sebelumnya yaitu Sandiwara Langit, Sandiwara Langit 2, Kemuning Senja Diberanda Mekah dan Selimut Mimpi. Maka Novel Islami yang merupakan kisah nyata yang penuh hikmah berikutnya adalah Sepenggal Duka Dilangit Cinta.
Novel ini mengisahkan..

Kisah sepasang suami istri yang tak hanya unik, namun juga langka…
Bagaimana sepak terjang suami, yang kembali bejat setelah hidup indah dalam naungan syariat ?
Simak pula ketabahan sang istri yang begitu tegar menerima perlakuan buruk dari pria yang dikasihinya, hingga putra tercinta yang meregang nyawa dalam pangkuannya….
Novel Islami  ini menggambarkan betapa hati manusia begitu mudah berbolak-balik….
Mengajarkan agar kita berhati-hati menjalani hidup, tidak pongah, dan sadar betul bahwa keselamatan sesungguhnya hanya berasal dari Allah Yang Maha Pengasih…

Novel  ini juga mengingatkan bahwa tak pernah ada waktu terlambat untuk berbenah diri.
Sepenggal Duka Dilangit Cinta sangat Sarat pesan religi yang membangun,
Jadilah lembaran kisah nyata penggugah iman…

Sang Liberalis


Penulis : Abu Umar Basyir
Penerbit Shofa Publika
Harga Rp 32000
Harga Diskon  Rp 26.000
Sederhana saja kok. Dalam mimpi itu aku merasa duduk di sebuah meja yang besar sekali. Besar yang tak lumrah. Di atas meja itu bertumpuk buku-buku dalam jumlah yang sangat banyak yang tak bisa kuperkirakan berapa buah. Ada yang kecil, sedang, besar, bahkan ada yang sangat besar dan tebal sekali, mirip kamus Al-Munjid, bahkan lebih tebal lagi.

Aku tengah membaca salah satu buku tersebut, ketika secara tiba-tiba muncul api besar melahap segala yang ada di hadapanku. Buku-buku itu terbakar hebat dan mengepulkan asap pekat yang membuat dadaku sesak. Mataku sulit memandang ke depan. Aku berusaha mencari-cari pintu keluar, tapi tak kutemukan. Saat aku sedang panik, sedangg bingung mencari jalan selamat, saat itu pula aku terjaga. Mimpi pertama dan mimpi keduaku sama persis, tak ada bedanya sama sekali. Saat terbangun tadi pagi, aku bahkan merasa seolah-olah aku sedang tidur di pesantren…”
Rusydi terdiam. Ia terlihat berpikir keras, mencoba merenungi detil-detil mimpiku. Farhan masih duduk santai seperti kebiasaannya. Aku menanti kalau-kalau Farhan mengerti takwil mimpi tersebut. Tapi yang berbicara duluan justru Rusydi.
“Boleh aku coba menakwilkannya, Yud…”
Aku memandang ke arah Farhan. Pemuda itu mengangguk, tanda ia setuju.
“Silakan, Rusy…”
“Begini Yud. Menurutku, mimpi itu memang sederhana saja. Terlihat sekali kok dalam gambaran yang kamu paparkan tadi, yakni kalau melihat kehidupanmu selama ini…”
“Maksudmu?”
“Mimpi itu gambaran dari petualanganmu memahami kebenaran. Buku-buku itu gambaran dari lautan ilmu. Meja itu ungkapan dari daya tampung ilmu yang dibentangkan di hadapanmu. Jumlah buku itu sendiri adalah (ibarat dari banyaknya detil-detil ilmu yang kamu pelajari…”
“Lalu?”
“Kondisimu yang sedang membaca menunjukkan kegigihanmu belajar di depan tumpukan ilmu yang tersaji. Sementara api yang membakar segala sesuatu di hadapanmu, termasuk buku-buku berisi ilmu yang ada di depanmu, tidak lain merupakan gambaran dari kegagalanmu memanfaatkan semua ilmu itu untuk hal-hal yang bermanfaat buat dirimu dan orang-orang di sekitarmu. Kamu sendiri yang telah menutupi keberkahan semua ilmu tersebut…”
……
(nukilan dari “Sang Liberalis” Pengalaman petualangan pribadi yang haus akan pengetahuan dan kebenaran tetapi akhirnya limbung dalam ber-Islam karena pemahaman yang mendewakan akal

Samudera Al Fatihah

Penulis : Abu Umar Basyir
Penerbit Shofa Publika
Harga Rp 44000
Harga Diskon  Rp 35.000
Samudera luas yang tidak pernah mengering airnya dan tidak terselami kedalamannya.” Itulah di antara kalimat untuk menggambarkan keluasan dan kedalaman kandungan surat Al-Fatihah.
Dalam masa ratusan tahun sejak diturunkannya, tak terhitung pakar dan ilmuwan mengerahkan kekuatan intelektual mereka, mengalirkan tinta pena, dan menggadaikan waktu mereka untuk menyingkap tabir induk dari Al-Qur’an ini.
Namun demikian, karya-karya yang berusaha menjabarkan ’pintu gerbang’ Kitabullah ini belum juga terhenti dan mungkin tidak akan pernah terhenti. Ilmu, hikmah, dan ibrah dari berbagai sudut pandang terus didapatkan para pencinta dan pengkaji Al-Qur’an. Mereka mengurai tujuh ayat yang menghimpun kandungan Kalam Suci Ilahi ini menjadi khazanah intelektual umat Islam yang begitu kaya dan berharga.
Dalam versi yang tersendiri, Ustadz Abu Umar Basyier menyusun karya “Samudera Al-Fatihah” ini dengan maksud memberikan jembatan kepada sebagian umat Islam untuk memulai mengenal surat Al-Qur’an yang sudah mereka akrabi dalam shalat lima waktu maupun shalat-shalat sunnah ini. Maka, buku ini akan mengantar pembaca untuk semakin menikmati shalat dan memiliki kunci untuk membuka pengetahuan Al-Qur’an. Buku “Samudera Al-Fatihah”

Indonesia Negeri Pendengki

Penulis : Abu Umar Basyir
Penerbit Shofa Publika
Harga Rp 22000
Harga Diskon  Rp 18.500
Suatu negeri menjadi begitu rapuh karena elemen masyarakatnya tidak saling percaya, tidak saling menghormati, dan tidak saling dukung untuk membangun. Negeri yang tampak bersatu, tapi jiwa masyarakatnya terkoyak-koyak centang perenang oleh benturan berbagai kepentingan pribadi dan kelompok. Masing-masing saling curiga dan digerogoti kedengkian.
Negeri itu semakin rapuh, karena rakyat dan pemimpin tidak bahu membahu. Pemimpinnya memikirkan perebutan kedudukan sendiri dan menggenggam kekuasaannya dengan zhalim. Sedangkan rakyatnya menghabiskan banyak energi untuk menguliti kelemahan pemimpin dan bahkan menghinanya. Pemimpin tidak mengayomi rakyatnya. Rakyatnya sama sekali tidak respek kepada pemimpinnya. Negeri itu seolah dililit benang kusut krisis yang tidak diketahui di mana ujung akhirnya.
Ustadz Abu Umar Basyier memotret kenyataan itu dalam obrolan pinggir jalan dan warung kopi lapisan warga akar rumput dalam bukunya Indonesia Negeri Para Pendengki. Autokritik dalam buku itu bukan untuk menghakimi siapapun, tetapi menjadi nasihat bagi kita semua untuk menanam investasi perbaikan bagi kehidupan negeri ini.
"TERIMAKASIH SUDAH MAMPIR KE BLOG INI SILAHKAN DILIHAT DULU KATALOG DAN RESENSI BUKUNYA SEMOGA BERKENAN JAZAKUMULLAH KHOIRON KATSIRAN"